Negara Harus Jaga Kompetisi, Cegah Rente, dan Perbesar Kapasitas Ekonomi Masyarakat
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Upaya menciptakan iklim investasi yang kondusif di Indonesia perlu dilihat lebih dari sekadar daya tarik pasar maupun kemudahan berusaha. Dalam perspektif ekonomi politik, investor juga membaca bagaimana kekuasaan ekonomi bekerja, termasuk apakah negara mampu menciptakan arena persaingan yang adil bagi seluruh pelaku usaha.
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai investor akan melihat apakah semua pelaku ekonomi benar-benar bermain dengan aturan yang sama atau justru ada kelompok tertentu yang memiliki akses lebih besar terhadap kebijakan dan kekuasaan.
“Kalau keberhasilan bisnis terlalu bergantung pada kedekatan dengan pengambil keputusan, itu justru menciptakan risiko bagi investor yang ingin berusaha secara profesional dan jangka panjang,” kata Iyuk.
Menurut Iyuk, persoalan lain adalah konsentrasi kekuatan ekonomi pada kelompok usaha tertentu. Dominasi yang terlalu besar dapat menciptakan hambatan masuk bagi pemain baru sekaligus mengurangi efektivitas kompetisi. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya membuka pintu investasi, tetapi juga harus memastikan tidak terjadi praktik ekonomi yang memberikan privilese kepada kelompok tertentu.
Ia mengatakan kekuatan pasar domestik juga sangat bergantung pada bagaimana hasil pertumbuhan ekonomi didistribusikan. Pertumbuhan yang tinggi tetapi terkonsentrasi pada sebagian kecil kelompok masyarakat tidak akan menghasilkan perluasan pasar yang kuat.
“Hal yang dibutuhkan investor bukan sekadar 280 juta penduduk, tetapi 280 juta penduduk yang semakin produktif dan semakin memiliki kemampuan konsumsi. Karena itu investasi, penciptaan lapangan kerja, upah, dan pemerataan ekonomi sebenarnya berada dalam satu ekosistem,” katanya.
Iyuk menilai tantangan pemerintah pada akhirnya adalah membangun institusi ekonomi yang tidak mudah ditarik oleh kepentingan jangka pendek maupun kelompok yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi. Negara harus mampu menjaga kompetisi, mencegah rente, sekaligus memastikan investasi menciptakan lapangan kerja dan memperbesar kapasitas ekonomi masyarakat.
“Investasi yang sehat bukan hanya soal berapa modal yang masuk, tetapi apakah modal itu masuk ke dalam struktur ekonomi yang sehat dan kemudian memperkuat basis ekonomi nasional,” kata Iyuk.
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi sebelumnya mengatakan ada tiga faktor utama yang menentukan minat investor untuk masuk ke suatu negara.
“Investasi tidak bisa hanya dilihat dari insentif dan regulasi saja. Ada tiga faktor kunci, yaitu prospek bisnis jangka panjang, stabilitas pasar terutama daya beli, dan kepercayaan pada iklim bisnis serta kepastian hukum,” kata Hafidz.
Terkait dengan prospek bisnis jangka panjang, Hafidz mengatakan investasi berbeda dengan jual beli yang mengejar margin cepat. Membangun pabrik, kantor, dan melatih sumber daya manusia (SDM) membutuhkan biaya besar dengan profitabilitas yang tertunda.
“Semakin besar nilai investasi, break even point-nya makin lama. Karena itu kepastian jadi kunci. Investor harus yakin aturan tidak berubah-ubah dalam jangka panjang,” ujarnya.
Kedua soal stabilitas pasar dan daya beli. Meski pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia baik, daya beli masyarakat masih rendah, terlihat dari indeks gini yang makin melebar.
“Investor pasti mempertimbangkan prospek pertumbuhan pasar. Di tengah kompetisi global, jangan berharap ada investasi di Indonesia tapi hanya melayani pasar ekspor. Model itu sudah sulit,” jelasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!