IHSG Hari Ini Kembali Masuk Zona Merah, Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Rabu, 02 Sep 2026, 17:57 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah mengikuti tekanan bursa Asia, seiring lonjakan harga minyak global yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya energi.

Kondisi ini mendorong investor lebih berhati-hati karena kenaikan inflasi berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, sekaligus meningkatkan tekanan pada biaya operasional korporasi. Sentimen tersebut membuat aset berisiko seperti saham kembali kurang menarik.

Ket. Foto: Ilustrasi-Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Dhemas Reviyanto

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/9) sore, ditutup melemah 4,16 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.595,78 mengikuti pelemahan bursa kawasan Asia tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah global.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,54 poin atau 0,39 persen ke posisi 651,87.

"Bursa Asia didominasi pelemahan mengikuti penurunan Wall Street, AS, setelah lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias NIco dalam kajiannya di Jakarta.

Dari mancanegara, Nico mengatakan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan, sehingga menambah tekanan inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama dapat mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu lebih lama.

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2-6 persen PDB 2027, dan memperkirakan nilai tukar Rupiah berada di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS pada tahun depan.

Sementara itu, inflasi Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19 persen dari level terendah dalam tiga bulan pada Juli sebesar 2,28 persen, atau sedikit di atas ekspektasi, didorong oleh meningkatnya harga pangan akibat dampak El Nino, sementara inflasi inti mencapai level tertinggi sejak Maret 2023.

"Namun, pelemahan pasar saham tertahan sebagian oleh surplus neraca perdagangan Juli 2026 yang di luar ekspektasi, didukung oleh kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan," ujar Nico.

Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu dipimpin sektor teknologi yang naik sebesar 3,47 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing-masing sebesar 0,49 persen dan 0,44 persen.

Sedangkan enam sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 1,21 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing sebesar 1,06 persen dan 0,78 persen,

Adapun, saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu NATO, SAPX, PTSP, BELI, dan BWPT. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni RGAS, HOPE, FUJI, MSIE dan COCO.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.436.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 63,13 miliar lembar saham senilai Rp16,80 triliun. Sebanyak 296 saham naik, 338 saham menurun dan 329 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 2,96 persen ke 64.254,00, indeks Shanghai melemah 0,97 persen ke 3.941,39, indeks Hang Seng melemah 0,07 persen ke 25.311,21, indeks Kospi melemah 3,99 persen ke 6.562,72, dan indeks Straits Times menguat 0,59 persen ke 5.744,11.

  • Ihsg hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.