Dancing Plague Strasbourg 1518, Histeria Massal Misterius yang Menjadi Awal Semesta Pengabdi Setan 3
Rabu, 02 Sep 2026, 00:00 WIBSemesta Pengabdi Setan akan membawa penonton jauh ke masa lalu dalam film ketiganya, Pengabdi Setan 3: Origin atau Satan's Slaves: Origin, judul internasional film tersebut. Sejumlah laporan menyebut kisah film yang ditulis dan disutradarai Joko Anwar itu bermula dari fenomena histeria massal misterius pada abad ke-16 di Strasbourg, wilayah Alsace yang kini berada di bagian timur laut Prancis, yang dikenal dengan peristiwa Dancing Plague Strasbourg 1518
Dilansir oleh Variety, cerita Satan's Slaves: Origin, dibuka dengan Dancing Plague, fenomena misterius orang-orang yang menari bersama secara tiba-tibs. Cerita kemudian berpindah ke sebuah mercusuar berhantu di pesisir selatan Jawa pada abad ke-17.
Dalam peristiwa tersebut, puluhan hingga ratusan warga Strasbourg dilaporkan mengalami dorongan tidak terkendali untuk menari. Kejadian berlangsung selama musim panas 1518, ketika Strasbourg masih menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi dan kini berada di wilayah Prancis.
Variety menyebut, film ini adalah proyek paling ambisius dalam karier Joko Anwar hingga saat ini, mencakup dua benua dan difilmkan dalam tujuh bahasa â Indonesia, Alsatian, Portugis, Jawa, Belanda, Turki, dan Latin.
âFilm ini adalah segalanya yang tidak saya sadari sedang saya persiapkan â film yang akhirnya menjawab dari mana kutukan itu berasal, mengapa kutukan itu tidak pernah berhenti, dan apa sebenarnya tujuannya,â kata Joko.
âPara penggemar lama akan mendapatkan jawaban yang telah mereka tunggu selama bertahun-tahun. Pendatang baru akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa.â
Catatan sejarah menyebut Dancing Plague Strasbourg bermula pada 14 Juli 1518 ketika seorang perempuan yang dalam sejumlah sumber disebut Frau Troffea mulai menari di jalan. Ia dilaporkan terus menari selama beberapa hari. Dalam waktu sekitar satu pekan, puluhan orang disebut ikut mengalami fenomena serupa. Jumlahnya kemudian terus bertambah hingga diperkirakan mencapai ratusan orang.
Para korban tidak sekadar menari dalam sebuah perayaan. Mereka dilaporkan terus bergerak selama berjam-jam hingga berhari-hari, dengan sedikit waktu untuk makan, minum, atau beristirahat. Sejumlah catatan bahkan menyebut adanya korban yang meninggal akibat kelelahan. Namun, jumlah pasti korban jiwa masih diperdebatkan karena sumber-sumber sejarah yang tersedia tidak memberikan angka yang konsisten.
Terjadi di tengah krisis
Wabah menari tersebut berlangsung ketika Strasbourg menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Sejumlah penelitian sejarah mencatat kawasan tersebut mengalami gagal panen, kekurangan pangan, dan kemiskinan dalam beberapa tahun sebelum peristiwa 1518. Musim panas ketika wabah terjadi juga disebut sangat panas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang kemudian diperhitungkan oleh para sejarawan ketika mencoba menjelaskan fenomena tersebut.
Salah satu teori yang paling banyak dibahas adalah mass psychogenic illness, yaitu kondisi ketika gejala fisik atau perilaku tertentu menyebar dalam sebuah kelompok masyarakat sebagai respons terhadap tekanan psikologis dan sosial. Sejarawan John Waller termasuk akademisi yang menganggap penjelasan tersebut lebih masuk akal dibandingkan teori lain.
Teori lain pernah dikemukakan, termasuk dugaan keracunan ergot, yaitu zat yang dapat muncul dari jamur pada tanaman serealia seperti gandum hitam. Namun, teori tersebut juga memiliki kelemahan karena belum menjelaskan secara meyakinkan bagaimana seseorang dapat mengalami aktivitas menari selama berhari-hari.
Dianggap sebagai fenomena supranatural
Pada abad ke-16, masyarakat Strasbourg tentu tidak memiliki pemahaman medis modern mengenai fenomena tersebut. Wabah menari kemudian dikaitkan dengan persoalan agama dan kekuatan supernatural.
Salah satu keyakinan yang berkembang menghubungkannya dengan Santo Vitus, figur keagamaan yang pada masa itu dipercaya memiliki hubungan dengan fenomena yang kemudian dikenal sebagai "St. Vitus' Dance". Para penderita akhirnya dibawa menuju tempat pemujaan Santo Vitus untuk mendapatkan penyembuhan.
Pemerintah kota sebelumnya bahkan sempat mengambil langkah yang menurut standar modern terdengar tidak lazim. Musik dan tarian tetap digunakan sebagai bagian dari upaya menangani para penderita. Setelah langkah tersebut tidak menghentikan fenomena, para penderita kemudian diarahkan menuju tempat suci Santo Vitus. Pada September 1518, fenomena tersebut akhirnya mereda.
Meski berbagai catatan sejarah memberikan gambaran tentang apa yang terjadi, penyebab pasti Dancing Plague Strasbourg 1518 hingga kini belum diketahui.
Menjadi pintu masuk Pengabdi Setan 3: Origin
Peristiwa sejarah tersebut kemudian digunakan Joko Anwar sebagai titik awal cerita Pengabdi Setan 3: Origin. Film ketiga ini bukan kelanjutan langsung kisah Rini dan keluarganya, melainkan sebuah prekuel yang dirancang untuk mengungkap asal-usul sekte, perjanjian dengan iblis, serta kutukan yang menjadi bagian penting dari dua film sebelumnya.
Dalam cerita film, kisah dimulai dari histeria massal di Strasbourg pada abad ke-16 yang terinspirasi oleh Dancing Plague 1518. Cerita kemudian bergerak melintasi benua menuju pesisir selatan Jawa pada abad ke-17, dengan sebuah mercusuar menjadi salah satu lokasi penting dalam cerita.
Dengan demikian, hubungan antara Dancing Plague dan Pengabdi Setan 3: Origin merupakan unsur fiksi dalam semesta film, bukan klaim bahwa wabah Strasbourg pada 1518 memiliki kaitan dengan sekte atau kutukan dalam sejarah nyata.
Joko Anwar menyebut film ini sebagai bagian yang akhirnya mengarah pada pertanyaan mengenai asal mula kutukan, alasan kutukan tersebut terus berlangsung, dan apa yang sebenarnya diincarnya. Film tersebut direncanakan menjadi prekuel yang dapat berdiri sendiri sekaligus memberikan jawaban atas sejumlah misteri dari dua film sebelumnya.
Pengabdi Setan 3: Origin direncanakan tayang di bioskop pada 2027. Film ini disebut akan menggunakan tujuh bahasa dan mengambil latar di dua benua, memperluas cakupan semesta Pengabdi Setan dari cerita keluarga di Indonesia menjadi kisah yang menelusuri akar teror hingga beberapa abad ke belakang.
Satanâs Slaves: Origin akan dipasarkan secara internasional dengan dukungan Barunson E&A, studio Korea Selatan di balik film pemenang Oscar, Parasite. Untuk pemasaran, Barunson E&A akan memperkenalkan film tersebut kepada pembeli global dalam ajang pasar film Toronto Film Festival pada September mendatang.
Dari sisi format layar, Pengabdi Setan 3: Origin disebut akan melanjutkan warisan teknis dari Pengabdi Setan 2: Communion, yang pada 2022 menjadi film Indonesia pertama yang tayang dalam format IMAX.Â
- Pengabdi Setan 3: The Origin
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Film Spider-Man: Brand New Day Raup Rp15 T dan Cetak Rekor Box Office
-
Joko Anwar Perluas Skala Teror Pengabdi Setan 3: Origin, Kisah Berawal Abad-16 di Eropa dan Berlanjut ke Jawa
-
Ke Korea Bersama Asmara Abigail, Joko Anwar Beri Kode Keras Pengabdi Setan 3 akan Habis-habisan Soal Darminah dan Batara sebagai Dalang Sekte Pesugihan Anak
-
Gardu Induk Gandul Sudah Pulih, PLN Jakarta Pastikan Pasokan Listrik Aman
-
Obat Keras Daftar G Sebanyak 46 Juta Pil Dimusnahkan Polres Tangsel
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.