20 Tahun for Revenge, Ada yang Hilang hingga Wacana Berhenti: Apa yang Terjadi?
Senin, 31 Agu 2026, 17:20 WIBJAKARTA - Perjalanan 20 tahun for Revenge seharusnya menjadi momentum untuk merayakan panjangnya perjalanan band sekaligus mengenang berbagai pencapaian yang telah dilalui. Namun, di balik perayaan tersebut, para personel justru mengungkapkan berbagai keresahan tentang kehilangan, kelelahan, hingga keinginan untuk berhenti sejenak.
Kondisi tersebut membuat konser Titik Sadrah yang akan digelar pada 31 Oktober di Bandung menjadi semakin menarik perhatian. Pertunjukan tersebut bukan hanya diposisikan sebagai perayaan perjalanan for Revenge, tetapi juga menghadirkan pertanyaan mengenai arah band setelah melewati dua dekade bersama.
Vokalis for Revenge, Boniex, menjadi salah satu personel yang secara terbuka mengungkapkan kondisi yang tengah dirasakan band. Ia mengaku for Revenge terasa tidak lagi utuh, terutama ketika mereka harus menjalani aktivitas tanpa kehadiran drummer Chimot.
"Gue ngerasa enggak utuh lagi sih for Revenge, kayak ada yang hilang aja,"Â ujar Boniex.
Bagi Boniex, for Revenge tidak sekadar menjadi sebuah band yang tampil di atas panggung. Selama dua dekade, nama tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan para personel dan tim yang di dalamnya terdapat mimpi, konflik, perjuangan, hingga berbagai pengorbanan.
Ambisi untuk terus membawa for Revenge berkembang juga membuat Boniex menyadari bahwa perjalanan panjang tersebut memiliki konsekuensi. Keinginan untuk terus berlari dan membawa band menuju pencapaian yang lebih tinggi justru membuatnya merasa perlu melihat kembali kondisi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Keresahan serupa turut dirasakan Chimot dari perspektif yang berbeda. Setelah mengalami cedera, drummer for Revenge tersebut mengaku merasa kehilangan dirinya sendiri sehingga membutuhkan waktu untuk berhenti dan mencari kembali siapa dirinya di luar perjalanan panjang bersama band.
"Gue perang di for Revenge itu 20 tahun. Jadi sisanya kayaknya fair deh buat gua cari diri gue sendiri lagi," kata Chimot.
Pengakuan tersebut turut menyentuh personel lain, termasuk gitaris Aip. Ia bahkan tidak mampu menahan tangis ketika membicarakan kedekatannya dengan Chimot yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
"Cukup dekat dari yang lain bareng Cimot," ujar Aip sambil menangis.
Sementara itu, bassist for Revenge, Izha, melihat perjalanan band saat ini sebagai sebuah fase baru. Setelah 20 tahun berjalan, para personel dan tim telah memiliki kehidupan masing-masing, termasuk keluarga dan berbagai tanggung jawab di luar band.
Kondisi tersebut membuat tujuan for Revenge kini tidak lagi semata-mata tentang mengejar pencapaian yang lebih besar. Bagi Izha, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan keberadaan band sekaligus tetap dapat menghasilkan karya di tengah perubahan kehidupan masing-masing personel.
Di tengah berbagai keresahan tersebut, Boniex bahkan mengakui kemungkinan bahwa for Revenge memang membutuhkan jeda. Menurutnya, ada waktu ketika setiap personel harus memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, berpikir, dan memperbaiki berbagai hal yang mungkin selama ini terabaikan.
"Gue pribadi kayaknya ada kalanya harus berhenti dulu. Ada satu momen yang kita memang harus memikirkan diri sendiri dulu," tutur Boniex.
Berbagai cerita tersebut kemudian bertemu dalam konser Titik Sadrah yang akan digelar di Bandung pada 31 Oktober. Bagi for Revenge, konser tersebut menjadi ruang untuk mengajak para pendengar kembali ke titik awal perjalanan mereka sekaligus membawa berbagai cerita dan kehilangan yang dimiliki masing-masing.
Boniex bahkan menggambarkan fase ini sebagai kesempatan untuk belajar menerima kehilangan. Ia membayangkan for Revenge mungkin harus menyelesaikan satu perjalanan terlebih dahulu sebelum kembali ke titik asal dan kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang baru.
Sementara itu, Chimot menyampaikan refleksi yang tak kalah emosional mengenai perjalanan panjangnya bersama for Revenge. Ia menyadari bahwa ada hal yang harus dilepaskan dan diterima setelah dua dekade menjalani perjuangan bersama band.
"Gue harus benar-benar rela. Sudahlah ya, sudahlah. Kali ini aku kalah," ujar Chimot.
Pernyataan para personel tersebut membuat konser Titik Sadrah menyimpan makna lebih dari sekadar pertunjukan musik. Konser ini bisa menjadi penanda berakhirnya sebuah fase dalam perjalanan for Revenge, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi titik awal menuju bentuk baru yang belum diketahui.
Jawaban mengenai masa depan for Revenge pun masih menjadi tanda tanya. Konser Titik Sadrah dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana para personel menutup satu bab perjalanan mereka sekaligus menentukan apakah setelahnya akan lahir cerita baru.
Bagi para penggemar yang ingin menyaksikan langsung momen tersebut, tiket konser Titik Sadrah tersedia melalui forrevenge.id. Dengan segala pengakuan emosional yang muncul menjelang konser, pertunjukan ini berpotensi menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan 20 tahun for Revenge.
- konser musik
- Musisi Indonesia
- Musik Indonesia
- for Revenge
- Titik Sadrah
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Wamendiktisaintek: Kampus Harus Bersatu Jawab Persoalan Stunting dan Kemiskinan
-
Viral Sejumlah Mal Pasang Pagar Tinggi, Pramono Minta Pagar Dibongkar, Pastikan Jakarta Aman
-
Eropa Akan Ucapkan Selamat Tinggal Piala Dunia, Tak Lagi Ikut Serta
-
DPRD Bogor Soroti Selisih Data DTSEN, Minta Hak Penerima Bansos Tak Hilang
-
Dinas Kelautan dan Perikanan: Hasil Laut Kaltim Tembus Pasar 12 Negara di Asia hingga Eropa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.