- Home
-
- Luar Negeri
-
- Seluruh Desa Mereka Lenyap...
Seluruh Desa Mereka Lenyap: Pencarian Panik Keluarga Korban di Rumah Sakit Kathmandu
Minggu, 30 Agu 2026, 04:10 WIBKATHMANDU â Poster-poster orang hilang berjajar di dinding rumah sakit, lemnya masih terlihat jelas. Seorang siswi tersenyum dalam seragamnya; seorang bayi berseri-seri dengan pipi tembem; sepasang suami istri tersenyum di hari pernikahan mereka; seorang pemuda, tangan di pinggang, di puncak gunung; seorang gadis muda dengan rambut terurai, mengintip dari balik pintu.
Dari The Guardian, wajah-wajah ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan orang yang belum terlihat sejak banjir bandang mematikan melanda Himalaya dan menghancurkan seluruh desa. Pada Sabtu (29/8) pagi, jumlah korban hilang telah meningkat menjadi hampir 3.000, baik di Nepal maupun Tibet setelah banjir menghancurkan desa-desa di kawasan Himalaya.
Di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan, Kathmandu, keluarga korban menempelkan foto orang-orang yang belum ditemukan di dinding. Sebagian lainnya memeriksa daftar pasien dan korban yang telah ditemukan, berharap mendapatkan informasi tentang anggota keluarga mereka.
Nepal telah menemukan 669 jenazah. Namun, banyak wilayah terdampak berada di kawasan terpencil dan hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter militer. Tim penyelamat masih kesulitan memperkirakan jumlah korban yang kemungkinan tertimbun lumpur.
Tugas identifikasi jenazah juga menghadapi kendala. Di Chitwan, kamar mayat rumah sakit dilaporkan kewalahan sehingga bangunan darurat disiapkan untuk menampung jenazah. Sebagian korban bahkan ditemukan jauh di hilir sungai hingga wilayah India.
Mencari Bayi Berusia Satu Tahun
Yavraj Lama datang ke rumah sakit membawa foto anggota keluarganya yang hilang. Saudara perempuan, suami, dan dua anak mereka hilang setelah Desa Jaydada di Distrik Rasuwa tersapu banjir.
Ia menempelkan foto Sijan Tawang, bayi berusia satu tahun yang terlihat berada dalam pelukan ibunya. Di sebelahnya terdapat foto Sahil, kakaknya yang berusia 12 tahun.
âKami merasa mati rasa, kami tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan betapa sedih dan terpukulnya kami,â kata Lama.
âFokus utama kami adalah mencoba menemukan bayi Sijan. Dia sangat manis dan polos; mustahil bagi kami untuk berpikir bahwa dia tidak bersama kami lagi.â
Namun, kondisi desa tempat keluarganya tinggal membuat peluang untuk menemukan mereka semakin sulit.
âNamun seluruh desa mereka telah lenyap,â tambahnya, âjadi kita tidak punya harapan lagi bahwa ada di antara mereka yang selamat.â
Suami Hilang Setelah Enam Bulan Menikah
Di rumah sakit yang sama, Monita Nepali, 22 tahun, mencari suaminya, Vishal Nepali, 30 tahun.
Keduanya baru menikah enam bulan. Vishal bekerja sebagai sopir dan kerap melakukan perjalanan ke wilayah perbatasan Nepal-Tibet.
Monita terakhir berbicara dengan suaminya sekitar satu jam sebelum banjir menerjang. Saat itu Vishal sedang berjalan-jalan pagi di Rasuwa. Ia berjanji akan menelepon malam harinya, tetapi panggilan tersebut tidak pernah terjadi.
âAku tak ingin hidup di muka bumi ini tanpanya,â kata Monita.
Empat hari setelah bencana, ia masih menunggu suaminya kembali.
âAku merasakannya di dalam hatiku, dia akan kembali.â
Keluarga Mulai Berharap Jenazah Ditemukan
Tulmaya Tamang, 36 tahun, datang ke rumah sakit membawa poster sejumlah anggota keluarganya. Sebanyak 12 anggota keluarganya, termasuk keponakannya yang berusia lima bulan, tinggal di sebuah desa di Rasuwa dan belum ditemukan sejak banjir.
âKeluarga kami sedang mengalami tekanan yang luar biasa,â katanya. âBanyak yang telah tiada, dan kami yang tersisa sedang berjuang keras.â
Ketika harapan untuk menemukan korban dalam keadaan hidup mulai menipis, keluarganya kini berharap setidaknya jenazah dapat ditemukan.
âJika kami menemukan jenazahnya, setidaknya kami bisa tenang,â katanya. âJika tidak, keluarga tidak akan pernah berhenti bertanya-tanya dan rasa sakit ini akan berlanjut untuk waktu yang sangat lama.â
Ratusan Pekerja Pembangkit Listrik Hilang
Sedikitnya 900 orang yang masih hilang diketahui bekerja di sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang koridor Sungai Trishuli.
Kawasan tersebut diterjang banjir dan tanah longsor. Banyak pekerja merupakan buruh bergaji rendah, termasuk sedikitnya 63 warga negara India.
Pada Jumat, tentara Nepal menyelamatkan sejumlah korban dari sebuah terowongan di proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli-1. Rekaman operasi tersebut memperlihatkan tentara menarik korban keluar melalui timbunan lumpur yang memenuhi terowongan.
Angkatan Darat Nepal memperkirakan sedikitnya 100 orang lainnya masih terjebak di dalam terowongan tersebut. Puluhan orang juga dilaporkan terjebak di bawah tanah di proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli-3.
Salah satu pekerja yang masih hilang adalah Sujan Nepali, 24 tahun. Ia baru menyelesaikan shift malam dan sedang tidur ketika gelombang air menerjang lembah.
Saudaranya, Sushisha Maluwar, setiap hari datang ke pusat trauma rumah sakit untuk memeriksa daftar korban.
âKami belum kehilangan harapan,â katanya. âKami mencatat namanya di rumah sakit dan memasang fotonya di mana-mana, berharap kami bisa menemukannya di suatu tempat.â
âMungkin dia sudah diselamatkan. Mungkin dia berhasil melarikan diri dan selamat.â
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di berbagai wilayah Nepal, sementara keluarga korban terus menunggu informasi mengenai orang-orang yang belum ditemukan.
- Banjir Bandang Nepal-Tibet
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Gunung Semeru Erupsi dengan Tinggi Letusan 700 Meter di Atas Puncak
-
George Clooney Sekeluarga Mengungsi dari Rumah Mereka di Prancis Ketika Kebakaran Hutan Melanda
-
Jumlah Korban Tewas Akibat Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tiongkok Terus Bertambah
-
Banjir Bandang Nepal Terjang Permukiman, Ratusan Orang Masih Hilang
-
Pelepasliaran 500 ekor tukik di Bali
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.