PLTS 100 GWp, Langkah Awal Bali Menuju Cahaya Energi Bersih

Minggu, 30 Agu 2026, 15:20 WIB

JAKARTA - Selama bertahun-tahun lamanya, Provinsi Bali menyimpan kontradiksi yang jarang disorot di balik gemerlap pariwisatanya: pulau ini masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Padahal, keberlanjutan dan keasrian alam merupakan citra utama yang dijual kepada dunia.

Kesenjangan tersebut mulai diatasi pada 25 Agustus 2026, ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

Ket. Foto: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto saat mendengarkan pemaparan walking gallery oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi (kiri) dalam acara Launching & Groundbreaking Program PLTS 100 GWp, di Gilimanuk, Bali. — Sumber: ANTARA/HO-PLN

Target 100 GWp bukan sekadar angka fantastis untuk dibanggakan.

Sebagai pembanding, total kapasitas pembangkit listrik nasional saat ini yang mencakup batu bara, minyak, gas, hingga panas bumi, berada di kisaran 88 GWp. Artinya, pemerintah tengah membangun kapasitas energi surya yang melampaui seluruh infrastruktur kelistrikan hasil pembangunan berpuluh-puluh tahun, dengan target penyelesaian yang jauh lebih cepat.

Awalnya, proyek ini diperkirakan selesai dalam tiga tahun. Namun, Prabowo menantang tim energi di jajaran kabinetnya untuk mempercepat penyelesaiannya sehingga rampung pada 2029.

Kepercayaan diri pemerintah dalam menetapkan target agresif ini bukan tanpa preseden. Presiden menyinggung pengalaman program swasembada pangan yang semula ditargetkan tercapai dalam empat tahun, tetapi berhasil diwujudkan dalam satu tahun. Pola pikir yang sama kini diterapkan pada sektor energi.

Optimisme itu setidaknya dilandasi kalkulasi ekonomi yang cukup konkret. Proyek ini membawa nilai investasi mencapai Rp1.140 triliun, dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja hingga 5,5 juta orang. Selain itu, program ini diperkirakan berpotensi menghemat subsidi energi nasional sebesar Rp73,9 triliun setiap tahun.

Pemilihan Bali sebagai lokasi peresmian tahap pertama proyek PLTS 100 GWp juga memiliki makna simbolis yang didasarkan pada kondisi sistem pembangkit listrik di Pulau Dewata. Dari 14 pembangkit tahap awal dengan total kapasitas 5,3 GWp yang mulai dibangun di enam provinsi, Bali memperoleh kuota terbesar, yakni 1.000 megawatt peak.

Jumlah tersebut secara khusus dipertimbangkan karena pulau ini masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel. Dengan kuota itu, PLN diproyeksikan mampu melakukan efisiensi konsumsi solar hingga 0,6 juta kiloliter.

Proses penetapan kuota tersebut berlangsung sangat cepat. Pembahasan antara Gubernur Bali Wayan Koster, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo digelar pada Sabtu malam, 22 Agustus. Keputusan tersebut disetujui Presiden keesokan harinya, lalu diresmikan hanya dua hari berselang.

Kecepatan birokrasi seperti ini tergolong langka dalam proyek infrastruktur nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa transisi energi di Bali telah menjadi prioritas politik utama, bukan lagi sekadar agenda teknis kementerian.

Bagi Bali, program ini selaras dengan target pemerintah provinsi yang telah lama digaungkan, yakni mewujudkan pulau mandiri energi bersih pada 2030. Selama ini, narasi keberlanjutan di Bali lebih banyak bertumpu pada sektor pariwisata, seperti pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan, guna mendukung citra wisata hijau.

Hadirnya PLTS 1 GWp di Bali dari total 100 GWp secara nasional menjadi jawaban atas aspek yang selama ini luput dari narasi tersebut. Proyek ini menghadirkan bukti konkret dari sisi produksi energi, bukan sekadar imbauan gaya hidup hijau melalui konsumsi yang bertanggung jawab.

Saat sebuah destinasi wisata mengklaim dirinya berkelanjutan, sumber listrik yang menopang hotel, restoran, dan fasilitas publiknya menjadi tolok ukur nyata yang jauh lebih valid daripada sekadar kampanye pemasaran.

Skala Nasional

Di luar Bali, proyek ini juga membawa implikasi ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia. Nilai substitusi impor energi dari program ini diproyeksikan berkisar antara 14,4 miliar hingga 28,9 miliar dolar AS, dengan tambahan kontribusi terhadap produk domestik bruto yang bisa mencapai 26,6 miliar dolar AS.

Angka-angka tersebut menempatkan PLTS 100 GWp bukan semata sebagai proyek lingkungan, melainkan sebagai instrumen untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak yang selama ini membebani neraca perdagangan nasional.

Program ini juga telah tercantum dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, dengan tahap percepatan awal sebesar 17 gigawatt yang didukung penyediaan lahan hingga 24.000 hektare di Pulau Jawa. Masuknya proyek ini ke dalam dokumen perencanaan resmi PLN menunjukkan bahwa target 100 GWp bukan sekadar pernyataan politik dalam seremoni peresmian. Proyek tersebut telah terintegrasi ke dalam kerangka kerja kelistrikan nasional jangka panjang.

Tentu saja, jarak antara peletakan batu pertama dan realisasi penuh 100 GWp masih panjang. Pembangunan pembangkit energi terbarukan dalam skala sebesar ini bergantung pada berbagai faktor, mulai dari ketersediaan lahan, kesiapan rantai pasok komponen, sinkronisasi dengan jaringan transmisi PLN, hingga konsistensi pendanaan selama bertahun-tahun ke depan.

Sejarah proyek infrastruktur energi di Indonesia juga menyimpan catatan tentang target-target ambisius yang pada akhirnya direvisi seiring berjalannya waktu. Namun, apa yang terjadi di Gilimanuk pada akhir Agustus ini menandai sesuatu yang berbeda dari sekadar wacana.

Sebuah pulau yang selama ini dikenal karena keindahan alamnya kini mulai membangun fondasi energi yang sepadan dengan citra yang selama ini dijualnya kepada dunia.

  • presiden prabowo subianto
  • energi bersih
  • transisi energi
  • plts 100 gwp
  • plts bali

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.