- Home
-
- Luar Negeri
-
- Banjir Bandang Nepal Tewas...
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 734 Orang, 2.498 Masih Hilang Usai Gletser Runtuh
Minggu, 30 Agu 2026, 12:40 WIBBidur (Nepal) â Tim penyelamat di Nepal dan China pada Minggu (30/8) berjibaku dengan lumpur yang dapat menyeret kaki serta ancaman naiknya permukaan air sungai untuk mencari ribuan orang yang masih hilang setelah gelombang air dan material longsoran menerjang kawasan Himalaya dan menenggelamkan sejumlah desa.
Bencana yang melanda perbatasan China-Nepal pada Rabu pagi tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser yang memicu gelombang besar air dan material longsoran mengalir ke hilir, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (US Geological Survey/USGS).
Pasukan tentara dan para insinyur Nepal pada Minggu berupaya menyelamatkan para pekerja yang diyakini terjebak di dalam terowongan di proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A, setelah mereka berhasil memasukkan pipa ke dalam terowongan tersebut.
"Mereka telah mulai mengalirkan udara melalui celah kecil tersebut," kata Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung dalam sebuah pernyataan.
Namun, upaya penyelamatan terhambat hujan dan meningkatnya debit sungai pada Minggu. Otoritas penanggulangan bencana Nepal pun meminta tim penyelamat untuk "berhati-hati".
Di wilayah yang menjadi lokasi sejumlah proyek infrastruktur energi berskala besar itu, otoritas bencana Nepal mencatat 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air termasuk dalam daftar orang yang hilang.
Kantor berita China Xinhua melaporkan pada Minggu bahwa para ahli menyatakan "sebuah gletser di lereng selatan Puncak Lirung di Nepal" mengalami retakan yang memicu longsoran es dan batu.
Xinhua menyebut aliran air tersebut meluncur dengan cepat dan membentuk material longsoran dalam jumlah besar yang bergerak lebih dari 20 kilometer sebelum menerjang Pelabuhan Gyirong.
"Kejadian runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang ini menjadi pengingat yang menghancurkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini," kata Kepala Iklim PBB Simon Steill dalam sebuah pernyataan.
"Tidak ada yang tersisa"
Para penyintas kini menghadapi penantian menyakitkan untuk mengetahui nasib anggota keluarga yang hilang serta kemungkinan harus membangun kembali kehidupan mereka dari nol.
"Semua permukiman di dekat sungai tersapu," kata Buddhi Ram Dangol kepada AFP di Distrik Nuwakot, Nepal.
"Tidak ada yang tersisa."
Di sebuah pangkalan militer di Bidur yang dijadikan pusat operasi penyelamatan, keluarga korban berkerumun di sekitar daftar nama orang yang berhasil diselamatkan yang ditempelkan di dinding.
"Saya datang ke sini untuk mencari anak saya," kata Kalka Sharda sambil dengan putus asa memeriksa daftar tersebut.
Pada Minggu, otoritas penanggulangan bencana Nepal mengatakan 589 warga negara asing, termasuk pendaki dan peziarah Hindu yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash yang dianggap suci di Tibet, belum diketahui keberadaannya.
Isha Foundation yang dipimpin guru spiritual asal India Sadhguru mengatakan dalam unggahan Instagram pada Sabtu bahwa sebanyak 80 anggotanya sedang melakukan perjalanan kelompok di wilayah tersebut.
"Saat ini, tampaknya belum ada indikasi yang menggembirakan mengenai adanya korban selamat di sekitar area kantor imigrasi," demikian pernyataan tersebut.
Trauma "Luar Biasa"
Amerika Serikat dan Kanada menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan masing-masing sebesar 3,6 juta dolar AS kepada Nepal.
Inggris menawarkan bantuan sebesar 6,8 juta dolar AS, sementara PBB menggelontorkan dana darurat sebesar 2,5 juta dolar AS.
Uni Eropa pada Jumat menjanjikan bantuan sebesar 2,3 juta dolar AS. Sementara itu, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyatakan telah mengalokasikan lebih dari 1 juta dolar AS dan meluncurkan penggalangan dana darurat sebesar 31 juta dolar AS.
Perekonomian Nepal sebelumnya telah berada di bawah tekanan. Negara tersebut memiliki sumber daya terbatas untuk menangani bencana dalam skala sebesar ini. Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan biaya rekonstruksi dapat mencapai "miliaran dolar AS".
Ia meminta bantuan khusus, termasuk drone berkemampuan mengangkut beban berat serta teknologi untuk membantu menemukan orang-orang yang masih terjebak.
Khanal juga meminta penyediaan perangkat uji forensik untuk mengidentifikasi jenazah dan unit pendingin untuk menyimpannya. Ia mengatakan jenazah yang telah lama berada di dalam air dapat mengalami pembusukan lebih cepat.
Banjir besar yang membawa material es dan lumpur juga membentuk sejumlah danau besar. Salah satu danau tersebut kini menjadi ancaman karena berpotensi memicu banjir susulan.
Menteri luar negeri China dan Nepal berbicara pada Sabtu dan membahas kemungkinan berbagi data satelit serta data hidrologi, menurut pernyataan kedua negara.
Di Tibet, tempat otoritas China menjadi satu-satunya sumber informasi, operasi penyelamatan untuk sementara dihentikan di wilayah Gyirong yang paling parah terdampak karena adanya risiko banjir lebih lanjut akibat terbentuknya danau baru.
Namun, stasiun televisi pemerintah CCTV pada Sabtu malam melaporkan danau tersebut "mengalir secara alami" dan "pada dasarnya telah terkuras", dengan mengutip Kementerian Sumber Daya Air China.
Sebanyak 2.141 personel penyelamat berada di sekitar lokasi Gyirong, menurut Xinhua, termasuk lebih dari 500 personel yang dikerahkan di wilayah paling parah terdampak.
Jalur Ziarah
Nepal pada Minggu melaporkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 734 orang.
Sebanyak 2.498 orang, termasuk ratusan warga negara asing, masih belum dapat dihubungi di negara tersebut.
Di Tibet, di seberang perbatasan, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 546 orang masih hilang, menurut laporan CCTV.
Otoritas China juga mengatakan telah mengevakuasi 555 wisatawan yang terjebak dan 499 warga China dari wilayah Tibet.
Sementara itu, di India, pejabat setempat mengatakan telah menemukan tujuh jenazah dari sungai-sungai yang mengalir dari Nepal. Mereka diduga merupakan korban banjir.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Banjir bandang Parigi Moutong
-
Sedikitnya 30.000 Orang Terdampak Banjir di Myanmar
-
Inovasi Pakan Lele Berbasis Energi Surya, Unars dan Universitas Ibrahimy Beri Pelatihan.
-
Sukses Digelar, Sakura Matsuri 2026 Suguhkan Perpaduan Budaya Indonesia-Jepang
-
Kuba Makin Terisolasi dari Dunia Usai Kontainer Tertahan Akibat Blokade Sanksi AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.