Tiang Ayu Berdiri, Erau Adat Kutai Dimulai
Senin, 21 Sep 2026, 13:23 WIBTENGGARONG, KALTIM -- Pagi itu, halaman Keraton Mulawarman, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dipenuhi masyarakat yang menyaksikan prosesi Mendirikan Tiang Ayu sebagai penanda dimulainya festival tahunan Erau Adat Kutai 2026.
Tiang Ayu itu dihiasi dengan janur, kain kuning, dan umbul-umbul. Para pemangku adat kemudian mengangkat dan mendirikannya dalam prosesi yang menjadi bagian penting dari pembukaan Erau.
Ketika Tiang Ayu berdiri di bumi Tuah Himba, rangkaian Erau dimulai. Masyarakat dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti pesta adat dan budaya Kutai Kartanegara.
Tahun ini, Erau Adat Kutai mengusung tema "Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya." Tema tersebut menegaskan bahwa Erau bukan hanya kegiatan di lingkungan kesultanan, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat.
Hadir dalam prosesi tersebut Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata Dwi Marhen Yono, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri beserta wakil bupati, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kerabat kesultanan, tokoh adat, dan budayawan.
Setelah Tiang Ayu berdiri, rangkaian berlanjut ke Stadion Rondong Demang sebagai lokasi pembukaan seremonial. Gong dipukul, titah dibacakan, dan Api Brong dinyalakan.
Warisan budaya yang terus dirawat
Pada masa Aji Batara Agung Dewa Sakti dinobatkan sebagai Raja Kutai Kartanegara pertama pada 1300â1325, digelar upacara Erau. Sejak itu, Erau menjadi seremoni ketika terjadi penggantian atau penobatan raja-raja.
Dalam perkembangannya, selain sebagai upacara penobatan raja, Erau juga menjadi bagian dari pemberian gelar oleh raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.
Sampai kini, tradisi tersebut tetap dirawat. Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan Erau bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga warisan yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.
"Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya. Erau adalah warisan yang hidup, yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengajarkan bagaimana menghormati leluhur, setia pada adat, bersatu sesama warga, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, serta Sang Pencipta," ujarnya.
Ia mengatakan setiap prosesi, tarian, dan ucapan dalam upacara Erau mengandung nilai-nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Nilai tersebut antara lain penghormatan kepada leluhur, kesetiaan pada adat, kebersamaan, serta harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Erau Adat Kutai 2026 terpilih masuk dalam agenda pariwisata nasional Karisma Event Nusantara (KEN).
"Kebudayaan Kutai Kartanegara tidak hanya memiliki daya tarik lokal, tetapi juga menjadi barometer kebudayaan nasional," kata Bupati Aulia.
Ia mengundang masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari pelosok desa dan kota-kota besar di Nusantara hingga wisatawan dari luar negeri, untuk datang ke Tenggarong, Kota Raja.
Tenggarong di tepian Sungai Mahakam menjadi tempat sejarah, adat, agama, dan kebudayaan hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kebersamaan
Kehangatan terasa setelah rangkaian pembukaan usai. Bupati Aulia Rahman Basri bersama istrinya menyambut para tamu di Pendopo Odah Etam untuk makan siang bersama.
Hadir dalam acara tersebut Dwi Marhen Yono dari Kementerian Pariwisata, Putra Mahkota Kesultanan Gowa Adi Muhammad Imam Daeng Situju, pejabat kepolisian dan TNI setempat, serta para kepala dinas dan undangan lain.
Suasana berlangsung hangat, diwarnai senyum, tawa, dan percakapan. Para tamu duduk bersama, tak ada sekat yang membatasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat maupun di antara kesultanan.
Makan bersama tersebut menjadi bagian dari acara "Raja Menjamu Rakyatnya" sekaligus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi.
"Erau bukan hanya kegiatan adat dan budaya, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi, memperkenalkan kekayaan budaya Kutai, serta memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan seluruh masyarakat," kata Aulia.
Menurut sang bupati, kehadiran wakil Kementerian Pariwisata menjadi tanda perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian budaya daerah.
Dwi Marhen Yono menyampaikan bahwa wisatawan datang ke Indonesia bukan semata-mata karena pantai atau pemandangan alam, tetapi juga karena kekayaan budayanya. Menurut dia, Erau merupakan salah satu kekayaan budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata.
Di tengah keakraban itu, bupati dan istrinya turut menyanyikan lagu untuk menghibur para tamu.
Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Dwi Marhen Yono dan Putra Mahkota Gowa sebagai tanda persahabatan.
Untuk generasi mendatang
Pesta budaya Erau Adat Kutai ke-244 yang dibuka pada 20 September akan berlangsung selama satu pekan. Seluruh rangkaian acara akan ditutup dengan prosesi Merebahkan Pinang Ayu pada 28 September, bertepatan dengan peringatan HUT Kota Tenggarong.
Di antara rangkaian tersebut terdapat pameran, bazar, pertunjukan, dan pertemuan yang menyatukan warga.
Berbagai kegiatan itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mengenal kembali tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Tiang Ayu yang berdiri di halaman Keraton Kutai menjadi bagian penting dari rangkaian Erau. Prosesi tersebut menunjukkan bahwa tradisi masih dijalankan dan diwariskan di tengah perubahan zaman.
Erau akan terus menjadi bagian dari identitas masyarakat Kutai Kartanegara selama generasi berikutnya mengenal, menjaga, dan meneruskannya.
- Erau Adat Kutai
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.