- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tiga Tentara Korsel Jadi K...
Tiga Tentara Korsel Jadi Korban Ledakan di Zona Rawan Ranjau Korea Utara
Senin, 21 Sep 2026, 13:14 WIBSeoul - Tiga personel militer Korea Selatan terluka dalam ledakan saat menjalankan operasi di dekat perbatasan yang dipenuhi ranjau dengan Korea Utara, kata militer Korea Selatan, Senin (21/9).
Insiden tersebut terjadi di sebelah selatan Garis Demarkasi Militer (Military Demarcation Line/MDL), di dalam Zona Demiliterisasi (Demilitarized Zone/DMZ), yang merupakan salah satu wilayah perbatasan paling dijaga ketat dan dipenuhi ranjau di dunia.
Dua personel yang terluka dievakuasi menggunakan helikopter, sementara satu personel lainnya rencananya dibawa melalui jalur darat sebelum kemudian diterbangkan menggunakan helikopter, kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Joint Chiefs of Staff/JCS).
Belum diketahui secara langsung apakah ledakan tersebut disebabkan oleh ranjau milik Korea Utara, ranjau Korea Selatan, atau alat peledak lainnya.
"Ketiga personel tersebut terluka akibat ledakan yang belum diketahui penyebabnya saat menjalankan operasi di lokasi sebelah selatan MDL," kata JCS dalam sebuah pernyataan.
Militer belum memberikan keterangan mengenai tingkat keparahan luka yang dialami ketiga personel tersebut.
DMZ merupakan zona penyangga sepanjang 248 kilometer dan memiliki lebar sekitar empat kilometer yang membagi Semenanjung Korea sejak gencatan senjata pada 1953 yang menghentikan Perang Korea.
Meskipun wilayah DMZ secara resmi didemiliterisasi, batas utara dan selatannya termasuk salah satu perbatasan dengan pengamanan paling ketat di dunia dan masih dipenuhi ranjau darat.
Menurut data militer yang dikutip kantor berita Yonhap, diperkirakan sekitar 800.000 ranjau tertanam di kawasan tersebut. Banyak di antaranya berasal dari masa Perang Korea, meskipun pemasangan ranjau masih berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak 2024, setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai "musuh utama" negaranya, militer Pyongyang memasang ranjau dan membangun penghalang antiranjau untuk tank di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari upaya menutup perbatasan secara permanen.
Militer Korea Selatan sebelumnya mengatakan sejumlah tentara Korea Utara tewas atau terluka akibat ledakan ranjau yang tidak disengaja saat melakukan pekerjaan tersebut.
Insiden ranjau sebelumnya juga sempat meningkatkan ketegangan antara kedua Korea.
Pada 2015, dua tentara Korea Selatan terluka parah ketika sebuah ranjau meledak di sisi selatan DMZ. Salah seorang di antaranya kehilangan kedua kakinya.
Seoul menyimpulkan bahwa tentara Korea Utara telah melintasi MDL untuk menanam ranjau tersebut, tuduhan yang dibantah Pyongyang.
Insiden itu mendorong Korea Selatan kembali mengoperasikan pengeras suara untuk menyiarkan propaganda antipemerintah Korea Utara di sepanjang perbatasan.
Insiden terbaru tersebut terjadi ketika Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berulang kali menyerukan dialog tanpa syarat dengan Korea Utara. Namun, hingga kini, upaya tersebut belum mendapat tanggapan dari Pyongyang.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Korut Ancam Korsel Jika Terbangkan Drone ke Wilayahnya
-
Badan Intelijen Korsel Digerebek, Diduga Terlibat Insiden Drone di Korut
-
Binus Bentuk Generasi Berdaya Saing Global Lewat Kolaborasi dengan Universitas Mitra di Asia
-
Pangkas Birokrasi Perizinan, Pemkab Bekasi Luncurkan Aplikasi BOSS
-
Messi Cetak 4 Gol, Inter Miami Bantai Montreal 7-1 di MLS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.