Pasar Dunia Kepincut Kepiting Soka Banda Aceh, Ekonomi Pesisir Ikut Terangkat
Sabtu, 29 Agu 2026, 00:10 WIBBANDA ACEH â Budi daya kepiting soka memiliki prospek ekonomi yang menarik karena menghasilkan kepiting bercangkang lunak dengan nilai tambah dan permintaan pasar yang relatif tinggi.
Komoditas ini juga membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk mengembangkan usaha perikanan yang tidak hanya bergantung pada penangkapan alam.
Namun, pengembangannya membutuhkan pengelolaan yang cermat, terutama dalam penyediaan benih, tingkat keberhasilan molting, pengendalian kematian, dan kesinambungan produksi.
Jika aspek teknis dan rantai pasok dapat diperkuat, budi daya kepiting soka berpotensi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Kepiting soka hasil budi daya masyarakat di kawasan pesisir Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh, tembus pasar nusantara hingga ekspor ke sejumlah negara di Asia seperti Singapura, Malaysia, Jepang dan Tiongkok.
"Kita kirimnya melalui Medan dulu, dan dari sana baru diekspor, per minggunya sekitar 70-100 kilogram," kata Pembudidaya Kepiting Soka Banda Aceh, Muhammad Rafli, di Banda Aceh, Jumat (28/8).
Rafli mengatakan, budidaya kepiting soka tersebut dilakukan dengan memelihara bibit hingga mengalami pergantian cangkang, dan baru dapat dipanen dalam waktu sekitar 15 hari.
âKalau sudah dilepas bibitnya, sekitar 15 hari sudah bisa panen. Sekali panen bisa sampai 480 kilogram,â ujarnya.
Rafli sendiri telah menjalankan budidaya kepiting soka tersebut sejak 2012 bersama orang tuanya. Dalam sebulan, bibit yang dibudidayakan bisa mencapai hasil mencapai sekitar 960 kilogram.
Ia menyampaikan, kepiting hasil panen mereka tersebut dijual ke Medan terlebih dahulu sebelum diekspor untuk kebutuhan pasar global. Permintaan rata-rata per pekan sekitar 100 kilogram.
Selain dikirim ke luar negeri, kata dia, hasil produksi kepiting soka dari pesisir Banda Aceh tersebut juga dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri, diantaranya ke Jakarta dan sejumlah kota di pulau Jawa.
"Selain ekspor, kita juga menjual untuk pasar nasional, ke Jakarta dan beberapa kota di pulau Jawa lainnya," kata Rafli.
Sementara itu, pembudidaya kepiting soka lainnya, Liza menyebutkan untuk harga jual kepiting soka saat ini cukup menjanjikan, dan dapat membantu perekonomian mereka, apalagi, kepiting Soka bisa dipanen dalam 15 hari sekali.
âUntuk harga sekarang sekitar Rp200 ribu per kilogram. Dengan harga segitu, alhamdulillah sudah bisa membantu ekonomi kami. Apalagi masa panennya cepat, 15 hari sekali,â kata Liza.
Dalam kesempatan ini, Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Banda Aceh menyatakan dukungan penuh terhadap pembudidaya di ibu kota provinsi Aceh tersebut, baik itu kepiting, udang vaname dan lainnya.
Selama ini, Kepala DPPKP Banda Aceh, Iskandar mengatakan pihaknya rutin membantu para petambak dengan memberikan pendampingan pengembangan usaha masyarakat melalui para penyuluh perikanan.
"Pemerintah terus memberikan dukungan kepada para pembudidaya untuk meningkatkan usaha mereka, sehingga kita berikan pembinaan lewat penyuluh," katanya.
Bentuk dukungan lainnya, lanjut dia, DPPKP membuka kesempatan kepada petani tambak jika ingin mengusulkan bantuan bibit dan lainnya, tetapi harus melalui kelompok serta memiliki yayasan, sehingga prosesnya lebih mudah.
"Pemerintah bakal terus membantu. Silahkan ajukan proposal, tetapi harus melalui kelompok dan punya yayasan, ini sesuai ketentuan hibah sekarang," demikian Iskandar.
- Banda Aceh
- kepiting soka
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Igor Tudor Resmi Jadi Pelatih Sementara Tottenham
-
Ancol Siapkan Beragam Program Spesial Sambut Liburan Sekolah 2026, Catat Tanggalnya!
-
NATO Panaskan Situasi: Tambah Pasukan di Baltik Usai Denmark Diguncang Insiden Drone
-
bank bjb Bukukan Kinerja Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun dan Laba Tumbuh 58,8 Persen.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.