Djokovic Memburu Sejarah, US Open Menanti dengan Ujian Fisik Berat
Jumat, 28 Agu 2026, 00:20 WIBNEW YORK â Novak Djokovic datang ke US Open 2026 dengan satu ambisi besar: mencatatkan namanya sebagai pemilik rekor tunggal Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah. Namun, di balik peluang menorehkan sejarah tersebut, ada pertanyaan besar yang kembali mengemuka: mampukah tubuh petenis Serbia berusia 39 tahun itu melewati dua pekan paling menguras tenaga dalam kalender tenis?
Djokovic memburu gelar Grand Slam ke-25, yang akan membawanya melewati rekor 24 gelar tunggal Grand Slam milik Margaret Court dan menjadikannya pemegang rekor tunggal terbanyak sepanjang masa.
Juara US Open empat kali itu juga sudah mencapai final di New York sebanyak 10 kali, sebuah rekor di nomor tunggal putra. Jika kembali mengangkat trofi di Flushing Meadows, Djokovic akan semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu petenis terbesar dalam sejarah.
Perjalanan Djokovic sepanjang musim ini menunjukkan bahwa kualitas permainannya masih berada di level tertinggi. Ia mencapai final Australian Open setelah menyingkirkan Jannik Sinner dalam pertarungan lima set di semifinal. Djokovic kemudian melaju hingga semifinal Wimbledon.
Namun, kekalahan di Cincinnati Open bulan ini memberikan peringatan bahwa tantangan terbesar Djokovic mungkin bukan hanya lawan di seberang net, melainkan kondisi fisiknya sendiri.
Tampil dalam pertandingan pertamanya setelah Wimbledon, Djokovic sempat tampil dominan ketika menghadapi petenis Argentina Thiago Agustin Tirante. Ia menyapu bersih set pertama, tetapi kondisi panas dan kelembapan tinggi kemudian mulai memengaruhinya.
Pada set kedua, Djokovic bahkan harus berlutut di lapangan setelah menjalani gim servis selama 18 menit. Ia menerima perawatan sebelum akhirnya menyerah 2-6, 6-4, 6-4.
âIni hanya masalah kesehatan yang saya alami. Masalah ini sudah mengganggu saya selama beberapa tahun terakhir,â ujar Djokovic seusai pertandingan.
âSaya mengalami banyak masalah, terutama ketika kelembapan dan suhu udara sangat tinggi.â
Situasi tersebut menjadi peringatan serius menjelang US Open. Turnamen Grand Slam terakhir musim ini menghadirkan kombinasi kondisi yang sangat menuntut: suhu akhir musim panas, kelembapan tinggi, lapangan keras, serta tujuh pertandingan dalam dua pekan yang harus dilewati untuk menjadi juara.
Dengan usia yang tidak lagi muda, Djokovic tidak memiliki ruang kesalahan sebesar ketika berada di puncak dominasinya.
Kabar mundurnya Sinner akibat cedera lutut kanan sedikit mengurangi salah satu ancaman terbesar Djokovic. Namun, juara bertahan Carlos Alcaraz tetap menjadi kandidat kuat untuk menghentikan langkahnya.
Alcaraz, yang kini berusia 23 tahun, mengalahkan Djokovic di semifinal US Open tahun lalu dan kembali menundukkannya pada final Australian Open Januari lalu. Petenis Spanyol tersebut memang datang ke New York setelah sempat menepi akibat cedera pergelangan tangan, tetapi tetap menjadi salah satu favorit utama.
Selain Alcaraz, Djokovic juga harus mewaspadai Alexander Zverev, juara French Open, serta dua petenis Amerika Serikat, Ben Shelton dan Taylor Fritz.
Generasi muda yang semakin percaya diri juga mulai menunjukkan bahwa mereka tidak lagi gentar menghadapi aura Djokovic. Pengalaman dan reputasi sang legenda tetap menjadi senjata, tetapi bukan lagi jaminan kemenangan.
Keunggulan terbesar Djokovic tetap terletak pada pengalaman. Tidak banyak petenis yang mampu menyamai kemampuannya menghadapi tekanan, mengubah strategi di tengah pertandingan, dan mempertahankan konsentrasi dalam duel lima set.
Namun, tantangannya kini berbeda. Djokovic harus mengelola energi dengan jauh lebih cermat dibandingkan ketika masih berada di usia emas.
Undian yang menguntungkan pada babak-babak awal, kemampuan memenangkan gim servis secara efisien, serta pertandingan singkat di pekan pertama bisa menjadi faktor krusial.
Setiap energi yang berhasil dihemat akan sangat berharga ketika memasuki perempat final, semifinal, hingga final.
Pada akhirnya, misi Djokovic di US Open bukan hanya tentang bagaimana mengalahkan para rivalnya. Perburuan gelar Grand Slam ke-25 juga menjadi pertarungan melawan waktu dan kemampuan tubuhnya sendiri.
Jika fisiknya mampu mengimbangi ambisi, Djokovic berpeluang menulis salah satu bab paling bersejarah dalam perjalanan tenis dunia. Namun, jika tubuhnya kembali memberi sinyal bahaya seperti di Cincinnati, rekor yang sudah berada di depan mata bisa kembali tertunda.
- Novak Djokovic
- US Open 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Saat Prancis dan Spanyol Berjuang Mengatasi Kebakaran Hutan, Gelombang Panas Baru Mengancam Eropa
-
Kemarau Panjang Membawa Korban, Ribuan Orang Telah Meninggal Dunia
-
Sambut Era Komputasi Kuantum, Telkom Gelar Workshop Kriptografi Pascakuantum
-
Menko Zulhas: Kopdes Tak Akan Matikan Usaha Warung Warga dan UMKM
-
Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Utara Andalkan Pariwisata
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.