Kebutuhan Pusat Data Melonjak, Danantara Bidik Investasi Besar

Kamis, 27 Agu 2026, 22:20 WIB

JAKARTA – Investasi pusat data menjadi semakin strategis seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi.

Penguatan kapasitas pusat data tidak hanya menopang transformasi digital, tetapi juga berpotensi menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi digital regional.

Ket. Foto: Wisma Danantara Indonesia. — Sumber: Antara.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara siap memperluas investasi di sektor pusat data (data center) seiring tingginya permintaan terhadap infrastruktur digital di Indonesia.

Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan kebutuhan terhadap kapasitas data center saat ini terus meningkat, bahkan kapasitas baru yang dibangun langsung terserap pasar.

"Kalau kita membangun 100 megawatt, 200 megawatt, habis langsung," ujar dia di Jakarta, Kamis (27/8).

Menurut dia, permintaan data center di Indonesia saat ini sangat besar. Setiap investasi baru untuk pembangunan pusat data disebut langsung diikuti dengan penyerapan kapasitas oleh pasar.

Ia mengatakan kondisi tersebut menyebabkan waktu tunggu untuk memperoleh kapasitas data center dapat mencapai enam bulan hingga satu tahun.

"Permintaan data center luar biasa besar, sehingga terjadi kelangkaan, harus menunggu enam bulan, sembilan bulan sampai setahun," katanya.

Menurut dia, Indonesia saat ini memiliki sekitar 45 data center berskala besar. Namun, tingginya kebutuhan terhadap infrastruktur digital membuat ketersediaan kapasitas menjadi tantangan.

Danantara, kata dia, siap mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur tersebut, termasuk menyiapkan kebutuhan teknologi dan komponen pendukung bagi industri pusat data.

Selain infrastruktur pusat data, Sigit mengatakan bahwa Danantara juga menaruh perhatian pada pengembangan chip semikonduktor terutama artificial intelligence (AI) chip yang kebutuhannya meningkat pesat.

Ia mengatakan Danantara telah menjalin kerja sama dengan perusahaan semikonduktor Inggris Arm Limited untuk mengembangkan desain chip.

Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) juga dilibatkan dalam pengembangan tersebut.

Ia menambahkan kebutuhan terhadap AI chip saat ini juga mengalami peningkatan tajam secara global, dengan waktu tunggu untuk memperoleh chip tersebut di sejumlah negara dapat mencapai enam hingga sembilan bulan.

Menurut Sigit, Danantara akan menyiapkan kebutuhan infrastruktur digital mulai dari sistem, subsistem, hingga komponen yang diperlukan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri tersebut.

Namun demikian, ia mengatakan pengembangan infrastruktur digital masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan daya serta kompleksitas proses dan regulasi.

"Memang tantangannya cukup besar, tapi juga peluangnya juga cukup besar," ucap Sigit.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.