Wow Canggih Terobosan BRIN Ini! Inovasi Kayu Transparan dengan Memanfaatkan Bahan Organik

Minggu, 23 Agu 2026, 04:30 WIB

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi kayu transparan (transparent wood) dengan memanfaatkan bahan organik berbasis bahan hayati berupa kayu, sebagai alternatif material silika pasir kuarsa bahan baku kaca.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN Adik Bahanawan mengatakan industri kaca selama ini bahan utamanya menggunakan silika yang tidak bisa diperbarui. Sehingga, alternatif ini diharapkan bisa menjadi lebih ramah lingkungan.

Ket. Foto: Inovasi kayu transparan (transparent wood) dengan memanfaatkan bahan organik berbasis bahan hayati berupa kayu, sebagai alternatif material silika pasir kuarsa bahan baku kaca yang dikembangkan oleh BRIN. — Sumber: Antara foto/HO-BRIN

"Melalui inovasi ini, kami memanfaatkan material organik berupa kayu yang ada di negara kita. Dengan pendekatan modifikasi dan rekayasa material, kayu yang selama ini tidak tembus pandang bisa diubah menjadi material transparan sebagai salah satu parameter utama produk kaca," kata Adik dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Adik mengatakan, hampir semua jenis kayu berpotensi dapat digunakan sebagai bahan kayu transparan. Namun, setiap jenis kayu membutuhkan pendekatan dan perlakuan yang berbeda. Salah satu parameter penting yang diperhatikan adalah kadar dan tipe lignin.

"Secara umum, berbagai jenis kayu, baik kayu jenis daun jarum maupun daun lebar dapat digunakan. Namun, setiap jenis kayu memerlukan perlakuan modifikasi dan rekayasa yang berbeda. Kadar dan tipe lignin dari kayu tersebut akan menentukan mudah tidaknya proses modifikasi rekayasa," kata dia menjelaskan.

Adik menjelaskan, proses pembuatan kayu transparan secara umum terdiri atas dua tahap utama. Pertama, dilakukan delignifikasi, yaitu proses meluruhkan sebagian besar lignin yang merupakan salah satu komponen utama kayu dan bersifat menyerap cahaya.

"Lignin merupakan salah satu komponen utama di kayu yang bersifat opak atau tidak tembus cahaya. Jadi, kalau ada cahaya, dia tidak mentransmisikan tapi dia menyerap. Karena itu, dilakukan proses delignifikasi," ujarnya.

Tahap berikutnya adalah infiltrasi polimer, yaitu memasukkan material polimer untuk menggantikan lignin yang telah diluruhkan. Polimer tersebut harus mampu mempertahankan struktur kayu pengganti lignin namun memiliki kemampuan meneruskan cahaya.

Melalui proses tersebut, kata Adik, material kayu akan membentuk struktur dan sifat baru sehingga disebut biokomposit. Hasilnya, material kayu yang sebelumnya tidak tembus cahaya menjadi transparan.

Ia menuturkan keunggulan kayu transparan ini tidak hanya terletak pada aspek ramah lingkungan, di mana dengan menggunakan bahan baku tanpa silika dari pasir kuarsa, inovasi ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap eksploitasi tambang pasir kuarsa khususnya.

"Semangatnya tetap ke green lifestyle dan green process. Kita menggunakan bahan baku yang tidak menggunakan silika, sehingga secara tidak langsung dapat mengantisipasi eksploitasi tambang pasir lebih jauh ke depan," ucap dia.

Selain itu, lanjut Adik, keunggulan lain dari inovasi ini terletak pada performa atau kualitas material yang dihasilkan. Dari sisi performa, menurut Adik, kayu transparan yang dikembangkan memiliki tingkat transmitansi cahaya yang tinggi, yaitu kemampuan material dalam meneruskan cahaya.

Hingga saat ini, riset yang dilakukan telah mampu menghasilkan kayu transparan dengan tingkat transmitansi lebih dari 50 persen.

Pengembangan material ini juga diarahkan pada prinsip keberlanjutan, dengan mengupayakan material yang dapat didaur ulang atau setidaknya terdegradasi secara alami setelah masa penggunaannya berakhir.

"Harapannya, kita bisa mendaur ulang produk ini. Oleh karena itu ke depan, kita kembangkan produk yang lebih biodegradable. Jadi, suatu produk nanti tidak berhenti pada produk akhir, tetapi bisa didaur ulang atau minimal terdegradasi terlebih dahulu. Saat degradasi ke alam, juga lebih ramah lingkungan," tutur Adik Bahanawan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

Berita Terbaru

Pasar-pasar Sepi Pengunjung, DPRD Banjarmasin Dorong Perlunya Penataan Ulang

Pasar-Pasar di Banjarmasin Makin Sepi? DPRD Minta Segera Ditata Ulang

Prakiraan Cuaca Jakarta Cerah Berawan pada Minggu (23/8), Suhu Capai 26 hingga 31 Derajat Celcius

Cuaca Jakarta Hari Minggu Ini: Cerah Berawan Siang hingga Malam

Hasil Liga Italia: Napoli Awali Musim Serie A dengan Taklukkan Genoa 2-0, De Bruyne Sumbang Gol

Inter Milan Pesta Gol! Monza Dibungkam 4-1 di Laga Pembuka

‘It Ends’: Backrooms Perjalanan di Pedalaman

Hasil Mengejutkan! Tottenham Hotspur Dibantai Brentford 0-3

Wow Fantastis! QRIS Makin Diminati, Pengguna di Sulsel Kini Tembus 1,5 Juta

Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Kompleks Aeropolis Banjarbaru Mulai Mengungsi

Bayern Muenchen Buktikan Kelasnya, Juara Piala Super Jerman!

Gempa Cukup Kuat M 5,4 Guncang Sulteng, Perairan Pulau Puh Jadi Titik Episentrum

Situasi Makin Genting! Kapolda Kalsel Pimpin Pemadaman Karhutla Dekat Bandara

Jakarta Perangi Tawuran! Pemprov DKI Pastikan Penanganan Dilakukan Berkelanjutan

Mengejutkan di Liga Inggris! Manchester United Dipermalukan Tim Promosi Hull City dengan Skor 0-2

KAI Palembang Tambah Kereta Eksekutif Saat Libur Maulid Nabi, Cek Jadwalnya!

Luar Biasa Indonesia Borong Medali! Tampil Gemilang di Kejuaraan Open Water Swimming Asia Tenggara

Wow Canggih Terobosan BRIN Ini! Inovasi Kayu Transparan dengan Memanfaatkan Bahan Organik

Melon Jadi Harapan Baru! Kelompok Tani di Kulon Progo Genjot Ketahanan Pangan

AS Kenakan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada Senilai US$20 Miliar, Ottawa Siapkan Balasan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.