Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

Minggu, 23 Agu 2026, 18:05 WIB

LEBAK – Panen durian di Kabupaten Lebak, Banten, bukan cuma soal buah manis yang ramai diburu, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi warga.

Dari kebun, rezeki mengalir ke banyak tangan, mulai dari petani, buruh pemetik dan pengangkut, pengepul, jasa transportasi, hingga pedagang eceran.

Ket. Foto: Seorang konsumen menikmati buah durian khas Badui di Gang Kibun Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Banten seiring musim panen melimpah. — Sumber: ANTARA/ Mansur

Satu musim panen durian pun mampu menciptakan mata rantai pendapatan yang ikut menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan musim panen durian tahun ini berlangsung melimpah seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi.

“Panen durian menjadi andalan ekonomi masyarakat. Saat ini petani memasok durian ke Rangkasbitung hingga luar daerah dalam jumlah ribuan butir dan perputaran uang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah per hari,” katanya di Lebak, Sabtu (22/8).

Potensi tersebut ditopang basis produksi durian yang cukup besar. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, realisasi produksi durian daerah itu pada 2025 mencapai 12.234 ton.

Musim panen tahun ini diperkirakan berlangsung selama Agustus hingga Oktober, dengan sentra produksi tersebar antara lain di Leuwidamar, Cirinten, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik, Cijaku, Cigemblong, Cibeber, Cilograng, Bayah, Panggarangan, Cihara, Cikulur, dan Cimarga.

Aktivitas ekonomi selama musim panen terlihat hingga pusat Kabupaten Lebak di Rangkasbitung. Pedagang eceran durian bermunculan di sejumlah ruas jalan, pasar, dan pusat keramaian, sementara sebagian lainnya memasarkan buah menggunakan kendaraan maupun berkeliling ke permukiman.

Harga durian di tingkat eceran berkisar Rp50.000 hingga Rp200.000 per butir, bergantung pada ukuran dan kualitas.

Ade (50), pedagang durian di Gang Kibun, Rangkasbitung, mengaku dalam sepekan terakhir mampu menjual sekitar 1.000 butir durian per hari dengan harga rata-rata Rp50.000 per butir atau menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp50 juta per hari.

“Kami kewalahan melayani permintaan durian, terutama durian Badui. Pembeli datang bersama rombongan maupun keluarga. Aktivitas penjualan ini juga membuat kami bisa mempekerjakan delapan orang,” katanya.

Menurut Ade, durian dari wilayah Badui banyak diminati karena memiliki karakter daging buah tebal, aroma kuat, dan rasa manis. Pembelinya tidak hanya berasal dari Lebak, tetapi juga datang dari Depok, Bogor, Tangerang hingga Jakarta.

Perputaran komoditas tersebut juga dirasakan pengepul. Acong (50), pengepul di Rangkasbitung, mengatakan pada puncak panen dirinya dapat menampung sekitar 5.000 butir durian per hari dari sejumlah kecamatan.

Durian tersebut selanjutnya dipasarkan kepada pedagang eceran di Rangkasbitung, Jakarta, dan sejumlah daerah di Jawa Barat dengan harga rata-rata sekitar Rp20.000 per butir di tingkat pengepul.

“Kalau mencapai 5.000 butir dengan harga rata-rata Rp20.000, omzetnya sekitar Rp100 juta per hari. Jadi panen ini bukan hanya memberikan penghasilan kepada petani, tetapi juga menghidupkan kegiatan pengepul, angkutan, buruh angkut hingga pedagang,” katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.