• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Review Harusnya Horror: Ha...

Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit

Kamis, 20 Agu 2026, 14:12 WIB

Jakarta - Membawa karya yang lahir dari ekosistem kreator internet ke bioskop bukan sekadar memindahkan wajah dan gaya hiburan dari platform digital ke layar lebar.

Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan mengembangkan gagasan, membangun karakter, dan menjaga ritme cerita ketika durasinya jauh lebih panjang. Persoalan tersebut terasa dalam film komedi fantasi Harusnya Horror karya sutradara Reza Oktovian.

Ket. Foto: Suasana pemutaran film "Harusnya Horror" karya sutradara Reza Arap Oktovian dengan naskah yang ditulis oleh Rahabi Mandra dalam acara gala perdana di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (13/8). — Sumber: Antara

Film produksi Ess Jay Studios ini menawarkan premis yang cukup segar. Ceritanya memadukan komedi, horor, budaya populer Jepang, dan kehidupan kreator konten melalui kisah tentang hantu yang harus menjalankan misi di dunia manusia.

Namun, gagasan yang memiliki potensi tersebut belum sepenuhnya menemukan bentuk yang efektif ketika dikembangkan menjadi film panjang berdurasi 106 menit.

Masalahnya bukan semata-mata soal durasi, melainkan bagaimana durasi tersebut diisi. Dalam film komersial, durasi 90 hingga 120 menit memang lazim untuk memberi ruang bagi perkembangan karakter dan konflik. Namun, durasi panjang juga menuntut struktur cerita yang mampu mempertahankan perhatian penonton.

Dalam Harusnya Horror, sejumlah bagian justru terasa seperti pengembangan sketsa komedi yang diperpanjang menjadi rangkaian adegan.

Jika sejak awal dikembangkan sebagai film pendek, premis utama Harusnya Horror sebenarnya berpeluang tampil lebih padat. Kisah tentang seorang pria penggemar anime yang meninggal secara tak terduga lalu mendapat kesempatan kembali ke dunia sebagai arwah penasaran sudah memiliki konflik dan tujuan yang cukup jelas untuk menopang cerita berdurasi singkat.

Tokoh Mas, seorang pekerja kantoran sekaligus penggemar anime, dikisahkan meninggal setelah tersedak kopi ketika bekerja lembur seorang diri. Ia kemudian berada di alam baka dalam kondisi masih menyimpan rasa penasaran karena belum menyaksikan episode terakhir anime kesayangannya.

Alih-alih langsung memperoleh ketenangan setelah kematian, Mas justru mendapat tugas kembali ke dunia manusia sebagai arwah yang harus menakut-nakuti sejumlah orang. Imbalannya adalah kesempatan menuntaskan rasa penasarannya terhadap serial anime tersebut.

Premis itu kemudian dipertemukan dengan sekelompok kreator konten pemula yang sedang menghadapi persoalan finansial. Mereka melihat keberadaan Mas sebagai peluang membuat konten mistis yang dapat mendatangkan penonton sekaligus pemasukan. Pertemuan dua dunia inilah yang menjadi fondasi komedi Harusnya Horror.

Sayangnya, potensi tersebut tidak selalu dikembangkan dengan ritme yang konsisten. Film beberapa kali terasa masih membawa pola hiburan khas konten digital yang mengandalkan spontanitas, interaksi antarkreator, dan lelucon internal. Pola semacam itu dapat bekerja baik dalam video berdurasi pendek, tetapi membutuhkan penyesuaian ketika dibawa ke struktur film panjang.

Perbedaan karakter penonton juga menjadi faktor penting. Penonton yang sudah mengenal para kreator mungkin lebih mudah memahami gaya humor dan karakter masing-masing pemain. Sebaliknya, penonton bioskop yang tidak memiliki kedekatan dengan ekosistem tersebut membutuhkan pengenalan karakter yang lebih kuat agar setiap lelucon dan konflik memiliki bobot.

Sebagian pemeran utama film ini memang berasal dari kalangan kreator konten, seperti Tierison yang memerankan Kevin, Garry Ang, Yukatheo, Teguh Prakoso (Tepe), Niko Junius, King Aloy, Bravy, dan Ibot.

Pengalaman mereka dalam menghasilkan hiburan digital menjadi modal tersendiri. Namun, perpindahan medium dari konten internet ke film juga menuntut pendekatan akting yang berbeda.

Pada beberapa adegan, ekspresi dan penyampaian dialog masih terasa kasual seperti dalam format konten digital. Hal tersebut bukan persoalan yang tidak dapat diperbaiki, tetapi menjadi lebih terlihat ketika penonton harus mengikuti karakter selama lebih dari 100 menit.

Reza Oktovian, yang sekaligus memerankan Mas, juga menggunakan pendekatan akting yang relatif santai. Pilihan tersebut sesuai dengan karakter yang dibangun, tetapi membuat perjalanan emosional Mas terkadang belum terasa cukup kuat, terutama bagi penonton yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai persona sang kreator.

Dalam format film pendek, keterbatasan tersebut kemungkinan tidak akan terlalu mengganggu. Tempo cerita yang lebih cepat dapat membuat karakter bergerak langsung menuju konflik utama tanpa membutuhkan banyak adegan transisi.

Referensi Anime

Di tengah sejumlah catatan tersebut, Harusnya Horror memiliki kekuatan pada detail-detail yang menunjukkan kecintaan pembuatnya terhadap budaya populer Jepang. Elemen tersebut tidak sekadar menjadi tempelan, tetapi hadir dalam rancangan dunia setelah kematian yang menggunakan sejumlah mekanisme menyerupai permainan video gim dan anime.

Salah satu karakter yang menarik adalah Resepsionis Akhirat yang diperankan aktor cilik Malka Rafasya. Karakter tersebut tampil dengan gaya formal dan dingin meskipun diperankan oleh anak-anak. Bagi penonton yang akrab dengan anime, pembawaannya dapat mengingatkan pada karakter Near dalam Death Note, terutama melalui kebiasaannya memainkan mainan di lantai sambil tetap berkonsentrasi membicarakan persoalan serius.

Kontras antara resepsionis anak-anak yang berbicara formal dan sosok hantu dewasa yang justru bersikap kekanak-kanakan menjadi salah satu sumber komedi yang menarik pada bagian awal film.

Film juga menghadirkan boneka pencatat skor yang mengikuti Mas dan menghitung jumlah manusia yang berhasil ditakutinya. Konsep tersebut memperkuat kesan bahwa dunia akhirat dalam film ini memiliki sistem seperti permainan.

Detail semacam itu menjadi salah satu bagian yang membuat referensi budaya Jepang terasa hidup. Penggunaannya pun cukup organik karena karakter utama sejak awal memang digambarkan sebagai penggemar anime.

Kecintaan terhadap anime bukan sekadar atribut karakter. Rahabi Mandra, yang menulis naskah bersama Reza Oktovian, juga diketahui memiliki ketertarikan terhadap anime. Dalam suatu kesempatan pada gala perdana film tersebut, Rahabi Mandra mengaku memiliki kesamaan dengan Reza Arap, yakni sama-sama menyukai One Piece.

Dengan demikian, unsur budaya Jepang justru menjadi salah satu identitas yang dapat dikembangkan lebih jauh apabila film ini memiliki struktur cerita yang lebih ringkas.

Referensi tersebut memberi warna sekaligus membedakan Harusnya Horror dari film komedi live-action Indonesia pada umumnya.

Lula Memberi Sentuhan Emosional

Catatan positif lainnya datang dari penampilan mendiang Lula Lahfah. Kehadirannya memberikan nuansa emosional yang berbeda di tengah dominasi komedi dan interaksi para kreator konten.

Penampilan Lula menjadi salah satu bagian yang terasa hangat sekaligus memberi keseimbangan terhadap dinamika pemeran lainnya. Bagi penonton yang mengikuti perjalanan Lula di industri hiburan digital Indonesia, kemunculannya juga memiliki nilai emosional tersendiri.

Kehadiran tersebut membuat film tidak hanya berbicara tentang lelucon, hantu, dan budaya anime. Ada sisi emosional yang sebenarnya dapat menjadi pijakan untuk memperkuat cerita apabila pendekatan serupa dikembangkan dalam karya berikutnya.

Pada akhirnya, Harusnya Horror memiliki modal utama berupa gagasan yang tidak biasa. Pertemuan antara hantu penggemar anime dan kelompok kreator konten menawarkan ruang komedi yang luas, sekaligus membuka kemungkinan eksplorasi mengenai budaya digital dan budaya populer Jepang.

Namun, kekuatan premis tersebut belum sepenuhnya diimbangi struktur cerita yang sama kuatnya. Beberapa bagian terasa terlalu panjang sehingga perkembangan konflik tidak selalu bergerak secepat yang diharapkan.

Karena itu, persoalan utama Harusnya Horror bukan pada keberanian membuat film panjang, melainkan pada ketepatan memilih wadah untuk sebuah gagasan. Film ini justru menunjukkan bahwa ide yang sederhana, unik, dan sangat spesifik kadang lebih efektif ketika disampaikan secara ringkas.

Jika dikembangkan sebagai film pendek, cerita tentang hantu wibu yang menjalankan misi di dunia manusia berpotensi menjadi lebih padat, fokus, dan memiliki tempo komedi yang lebih terjaga.

Format tersebut juga dapat memberi ruang bagi para kreator untuk mengasah kemampuan akting dan penceritaan tanpa harus mempertahankan struktur cerita selama lebih dari 100 menit.

Sebagai karya awal Reza Oktovian bersama komunitas kreator konten yang terlibat, Harusnya Horror tetap menunjukkan keberanian mencoba medium baru.

Kekurangan yang terlihat justru dapat menjadi bahan evaluasi penting untuk karya berikutnya, bukan hanya bagaimana menciptakan gagasan yang menarik, tetapi juga bagaimana menentukan bentuk, durasi, dan bahasa sinema yang paling tepat untuk menyampaikannya.

Dengan premis yang segar dan identitas budaya populer yang kuat, Harusnya Horror sebenarnya memiliki fondasi yang menjanjikan. Tantangannya ke depan adalah bagaimana pengalaman dari film pertama tersebut diterjemahkan menjadi karya berikutnya yang lebih matang, lebih terukur, dan tidak takut memilih durasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan cerita.

  • harusnya horror

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Trump Ancam Hukuman Ekonomi ke Negara Mana pun yang Bantu Iran

Gibran Tinjau Dampak Gempa di NTT, Pastikan Keselamatan dan Kebutuhan Dasar Warga Jadi Prioritas

Mesin Ekonomi Baru di Pesisir! KNMP Konawe Suplai 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor ke Luar Kota

Komisi X DPR Minta BPK NTT Laporkan Kondisi Situs Budaya yang Terdampak Gempa

Kejar Target Bebas Emisi, Pemprov DKI Jakarta Bakal Operasikan 10 Ribu Bus Listrik

Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya

Pestani Rawit Groo Festival: PT Petrokimia Gresik Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas Cabai

Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak

MinyaKita Dijual Rp31 Ribu, Mobil GASING Keliling Batam Tekan Harga Sembako

Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk Kedua di Dunia, Data Real-time IQAir Catat AQI 161

Fantastis! Sindikat Pemalsuan Materai di Lima Provinsi Rugikan Negara Rp1,03 Triliun

BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri

Polda dan 22 Ormas se-Banten Gelar Apel Kamtibmas

Airlangga: Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Berbasis Tenaga Surya

Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit

Kapasitas Terpasang Panas Bumi Baru 11,6%, Bahlil: Jangan Tahan Konsesi!

Komisi XIII DPR Buka Peluang Bentuk Badan Khusus soal TPPO

Empat Pekerja Tewas Tertabrak Kereta di Jepang, Negara dengan Catatan Keselamatan KA Terbaik di Dunia

Gempa NTT, UMI Makassar Kirim Tim Medis dan Bantuan Logistik untuk Warga Terdampak

Ayam Tukong Kalbar Tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.