- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tanda-tanda Menunjukkan Pe...
Tanda-tanda Menunjukkan Perlambatan Ekonomi Tiongkok akan Berlanjut
Selasa, 18 Agu 2026, 05:37 WIBBEIJING â Perekonomian Tiongkok menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang berlanjut. Produksi industri dan penjualan ritel pada Juli 2026 tumbuh lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya, menambah tekanan bagi pemerintah untuk mengambil langkah guna menopang aktivitas ekonomi.
Daru The Guardian, Data Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) yang dirilis Senin (17/8) menunjukkan produksi industri tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada Juli. Angka tersebut turun dari pertumbuhan 5,3 persen pada Juni dan berada di bawah perkiraan 4,8 persen berdasarkan jajak pendapat Reuters.
Perlambatan juga terjadi pada konsumsi masyarakat. Penjualan ritel pada Juli hanya tumbuh 0,6 persen secara tahunan, turun dari 1 persen pada Juni. Pertumbuhan tersebut juga jauh di bawah perkiraan analis sebesar 1,5 persen.
NBS menyebut kondisi cuaca ekstrem, termasuk suhu tinggi dan hujan lebat, turut mengganggu pasokan dan permintaan di sejumlah wilayah.
Namun, pelemahan ekonomi tersebut terjadi setelah Tiongkok mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah pada kuartal II 2026. Produk domestik bruto (PDB) Tiongkok tumbuh 4,3 persen secara tahunan dalam tiga bulan hingga Juni.
Angka itu berada di bawah target pertumbuhan pemerintah yang berada pada kisaran 4,5 hingga 5 persen dan menjadi salah satu pertumbuhan kuartalan terlemah sejak Tiongkok mulai menerbitkan data PDB triwulanan pada awal 1990-an.
Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian terhadap kebijakan pemerintah Tiongkok dalam menjaga permintaan domestik. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang mengatakan lemahnya permintaan dalam negeri masih menjadi persoalan yang menonjol.
"Saat ini, masalah kurangnya permintaan domestik masih menonjol, beberapa industri dan perusahaan menghadapi kesulitan yang semakin meningkat, dan ketidakpastian di lingkungan eksternal semakin meningkat," kata Li dalam pertemuan Dewan Negara Tiongkok, seperti dilaporkan Xinhua.
Li mengatakan Tiongkok perlu meningkatkan permintaan eksternal melalui perdagangan dan kerja sama ekonomi internasional.
"Kita harus secara aktif menstabilkan permintaan eksternal, memperluas kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional yang saling menguntungkan, dan mendorong pembangunan perdagangan yang seimbang," ujarnya.
Sejumlah ekonom masih memperkirakan perekonomian Tiongkok dapat mengalami penguatan pada paruh kedua tahun ini apabila pemerintah meningkatkan dukungan fiskal.
Julian Evans-Pritchard, kepala ekonomi Tiongkok di Capital Economics, mengatakan investasi pada sektor manufaktur yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) masih menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan.
"Sisi positifnya adalah peningkatan aktivitas manufaktur dari belanja modal (capex) AI terus meningkat, dan pelemahan yang lebih luas sebagian mencerminkan gangguan sementara akibat topan baru-baru ini," kata Evans-Pritchard.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dapat meningkat secara moderat hingga akhir tahun dengan dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah.
Meski demikian, data Juli menunjukkan lemahnya konsumsi domestik masih menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi ekonomi Tiongkok, sementara aktivitas industri juga mulai kehilangan momentum.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Raih Dua Kemenangan, John Herdman Ingin Timnas Indonesia Jaga Momentum Positif
-
Pangkas Pohon Pakai Sains, Singapura Buktikan Diri Jadi Kota Tercanggih
-
Gunung Semeru Erupsi dengan Ketinggian Letusan Capai 600 Meter, Masyarakat Diminta Waspada
-
Jepang Siap Gelontorkan Rp397 Triliun ke Indonesia, Sektor Otomotif Jadi Primadona Investasi
-
Astronot Tiongkok Sukses Uji Coba Alat Pengukur Massa di Orbit Bumi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.