JAFEX 2026: DKI Jakarta Tawarkan 40 Aset dengan Potensi Rp22,37 T

Selasa, 11 Agu 2026, 15:05 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempromosikan 40 Barang Milik Daerah (BMD) melalui Jakarta Asset Forum & Expo (JAFEX) 2026. Kegiatan yang digelar di The St. Regis Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (11/8), tersebut menawarkan estimasi potensi investasi awal mencapai Rp22,37 triliun.

Forum tersebut mempertemukan Pemprov DKI Jakarta dengan investor, dunia usaha, lembaga keuangan, serta mitra pembangunan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuka peluang optimalisasi aset daerah melalui berbagai skema kerja sama yang produktif dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempromosikan 40 Barang Milik Daerah (BMD) melalui Jakarta Asset Forum & Expo (JAFEX) 2026. Kegiatan yang digelar di The St. Regis Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (11/8), tersebut menawarkan estimasi potensi investasi awal mencapai Rp22,37 triliun. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan JAFEX 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan potensi aset milik Jakarta dengan mitra strategis. Menurutnya, aset daerah tidak cukup hanya tercatat sebagai kekayaan pemerintah, tetapi harus mampu dikelola secara optimal agar memberikan manfaat yang lebih luas.

"Hari ini kami menyelenggarakan JAFEX 2026 untuk mempertemukan potensi aset Jakarta dengan mitra strategis. Aset daerah harus dikelola secara optimal agar tidak sekadar tercatat, tetapi memberi manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat," kata Pramono saat membuka forum.

Sebanyak 40 BMD yang ditawarkan tersebut diproyeksikan dikembangkan menjadi aset produktif. Pengembangannya diharapkan dapat mendukung konektivitas kawasan, menggerakkan aktivitas ekonomi, sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan ruang publik di berbagai wilayah Jakarta.

"Ada 40 BMD potensial yang dipromosikan dengan asumsi nilai investasi sekitar Rp22,37 triliun. Ini merupakan estimasi awal untuk studi kelayakan, sehingga nilai aktual masih perlu dikaji melalui studi teknis, desain, spesifikasi bangunan, dan perhitungan biaya," ujarnya.

Optimalisasi BMD juga menjadi salah satu instrumen Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan produktivitas aset sekaligus memperluas sumber pembiayaan pembangunan. Pada 2026, Badan Pengelolaan Aset Daerah menargetkan kontribusi pendapatan dari pemanfaatan aset meningkat dari Rp805 miliar menjadi Rp1 triliun.

Aset-aset yang ditawarkan memiliki beragam potensi pengembangan sesuai karakteristik dan kebutuhan kawasan. Beberapa di antaranya diarahkan untuk kawasan Transit Oriented Development (TOD), waterfront atau riverfront, mixed-use, fasilitas olahraga dan rekreasi, ruang komersial dan kreatif, hingga media luar ruang.

"Aset-aset tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, seperti kawasan TOD, waterfront/riverfront, mixed-use, fasilitas olahraga dan rekreasi, ruang komersial dan kreatif, serta media luar ruang. Tujuannya menciptakan konektivitas dan peluang ekonomi sekaligus meningkatkan pelayanan publik," ungkap Pramono.

Menurut Pramono, pembangunan Jakarta tidak dapat sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus mendorong penggunaan creative financing, kerja sama pemanfaatan aset, serta pemenuhan kewajiban pengembang untuk mendukung pembiayaan infrastruktur dan fasilitas publik.

Salah satu pendekatan tersebut telah diterapkan dalam rencana pengembangan Jakarta International Cultural Hub di Kuningan. Proyek tersebut dirancang melalui kerja sama dengan pihak swasta tanpa menggunakan APBD.

"Pembangunan Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Karena itu, kami mendorong creative financing dan skema kerja sama, termasuk kompensasi atas pelampauan KLB, untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik," tegas Pramono.

Pemprov DKI Jakarta menargetkan JAFEX 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi aset daerah. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan kerja sama konkret yang memiliki kelayakan bisnis, dilakukan secara transparan, serta tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai salah satu pertimbangan utama.

"Kami berharap JAFEX menghasilkan kerja sama konkret dengan prinsip profesional dan transparan. Setiap pemanfaatan aset harus memberi manfaat bagi masyarakat, menciptakan nilai ekonomi dan peluang usaha, serta memberikan nilai jangka panjang bagi Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan," tutur Pramono.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turut menyambut positif penyelenggaraan JAFEX 2026. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak dalam mengembangkan aset publik.

"Semoga Jakarta bisa menjadi kota yang penuh dengan inovasi, kota global dunia yang menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan untuk semua," ucap AHY.

AHY menilai sinergi antara pemerintah, investor, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan menjadi kunci agar aset publik tidak hanya menjadi bagian dari pencatatan kekayaan daerah. Dengan kolaborasi yang tepat, aset tersebut dapat dikembangkan menjadi infrastruktur maupun layanan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Kalau seluruh kekuatan ini bisa kita satukan, bisa kita sinergikan dan kolaborasikan, kita akan punya peluang yang besar untuk mengubah aset publik menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kita," pungkas AHY.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.