- Home
-
- Luar Negeri
-
- Setelah Assad Tumbang, Sur...
Setelah Assad Tumbang, Suriah dan Rusia Sepakat Soal Dua Pangkalan Militer
Senin, 10 Agu 2026, 05:00 WIBDAMASKUS â Suriah pada Minggu (9/8) menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Rusia mengenai masa depan dua pangkalan militernya di negara tersebut, yang sebelumnya digunakan Moskow untuk memberikan dukungan militer kepada pemimpin yang terguling, Bashar al-Assad, selama perang saudara Suriah.
Rusia merupakan sekutu utama Assad selama konflik yang berlangsung selama 13 tahun dan membantu mempertahankan kekuasaannya. Kejatuhan Assad pada 2024 menjadi pukulan besar bagi pengaruh Rusia di kawasan tersebut.
Sejak saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya membangun hubungan dengan pemerintahan baru di Damaskus guna mengamankan masa depan dua pangkalan militer resmi Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet.
Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengutip Kementerian Luar Negeri yang menyatakan bahwa pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan angkatan laut Tartus akan diubah menjadi "pusat pelatihan bersama dan pengembangan kapasitas" melalui pengaturan baru yang tetap menjaga kepentingan kedua negara.
Nota kesepahaman tersebut dicapai setelah melalui negosiasi selama satu setengah tahun dan menetapkan batas waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikan proses tersebut, demikian dilaporkan SANA.
Sementara itu, fasilitas sipil di kedua pangkalan akan diserahkan kepada pemerintah Damaskus.
Rusia sejauh ini belum memberikan komentar resmi mengenai kesepakatan tersebut.
Pangkalan Hmeimim dan Tartus tetap beroperasi selama proses negosiasi berlangsung. Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani juga mengunjungi kedua lokasi tersebut pada Minggu untuk meninjau fasilitas dan instalasi yang tercakup dalam nota kesepahaman tersebut.
Langkah Penting
Kepala Otoritas Penerbangan Sipil Suriah Omar al-Hasri mengatakan lembaganya mulai mengambil alih Bandara Internasional Latakia, fasilitas sipil yang berada berdekatan dengan pangkalan Hmeimim dan selama ini operasionalnya berkaitan erat dengan keberadaan Rusia.
"Tim khusus dari otoritas telah memulai penilaian teknis dan operasional terhadap bandara, fasilitas, serta sistemnya sebagai persiapan menyusun rencana rehabilitasi," kata Hasri.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai "tahap penting untuk memulihkan dan mengoperasikan kembali bandara-bandara Suriah serta mengintegrasikannya ke dalam sistem penerbangan sipil nasional."
Suriah sebelumnya telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Moskow. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bahkan telah dua kali diterima Putin di Moskow sejak mengambil alih pemerintahan.
Dalam kunjungan terakhir Sharaa pada Januari, Putin mengatakan bahwa "banyak hal telah dicapai dalam memulihkan hubungan antarnegara" serta memuji upaya Sharaa untuk memulihkan integritas wilayah Suriah.
Sharaa juga memuji "peran historis" Rusia di Suriah dan kawasan tersebut. Namun, Damaskus berulang kali meminta Moskow mengekstradisi Assad yang kini tinggal di Moskow bersama istrinya setelah digulingkan.
Awal tahun ini, Kremlin menarik pasukannya dari Bandara Qamishli di wilayah timur laut Suriah.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
LAKON Indonesia Rilis Koleksi HARSA, Rayakan Keindahan Karya Tangan
-
Airena Kreatif Hadir, IM3 Buka Ruang Belajar dan Kolaborasi bagi Kreator
-
KRL Commuter Tabrak Orang di Dekat Stasiun Tebet, Transjakarta Bantu Angkut Penumpang
-
BMKG Prakirakan Cuaca di Jakarta, Bandung, dan Semarang pada Selasa (11/8) Berawan, Hujan Ringan di Kota Medan
-
D.A.N.C.E., Platform Baru untuk Buka Ruang Jaringan dan Kolaborasi Lintas Perusahaan
-
Wali Kota Bandung Pamerkan Kekuatan Musik Melalui Konser Merah Putih 2026 Swara Merdeka
-
Pemkot Tangerang Buka Layanan KB Gratis 15–18 September 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.