Tata Kelola AI dan Keamanan Siber Jadi Kunci Hadapi Ancaman Digital
Minggu, 09 Agu 2026, 22:57 WIBJAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong perubahan dalam operasional sektor jasa keuangan. Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi, membantu analisis credit scoring, hingga mendukung proses deteksi aktivitas yang berpotensi menjadi kejahatan siber.
Di sisi lain, perkembangan teknologi AI juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengembangkan modus penipuan baru. Bentuknya antara lain fraud, manipulasi identitas digital, hingga penggunaan teknologi deepfake yang semakin sulit dikenali.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri jasa keuangan untuk memperkuat sistem keamanan siber sekaligus mengembangkan tata kelola AI yang mampu mengantisipasi risiko.
PT Pembiayaan Digital Indonesia atau AdaKami menyatakan akan memperkuat pendekatan tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Komitmen itu disampaikan dalam diskusi panel AI Cyber Forum 2026: âAI vs. AI: Membangun Pertahanan Siber Proaktif di Sektor Keuangan Indonesiaâ yang diselenggarakan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) pada 29 Juli 2026.
Forum tersebut dihadiri perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku industri teknologi finansial, serta perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber.
Human Oversight dalam Penggunaan AI
Public Policy Manager AdaKami Hanadia Pasca Yurista mengatakan perusahaan memanfaatkan AI untuk mendukung sejumlah proses bisnis, termasuk analisis risiko, deteksi fraud, dan otomatisasi layanan kepada konsumen.
Namun, menurut Hanadia, penggunaan AI tetap membutuhkan pengawasan manusia. Keputusan yang memiliki dampak langsung terhadap konsumen tidak sepenuhnya diserahkan kepada sistem AI.
âAdaKami mengoptimalkan penggunaan AI untuk meningkatkan efektivitas proses bisnis, mulai dari efisiensi analisis risiko, deteksi fraud, hingga otomatisasi layanan kepada konsumen. Namun, dalam implementasinya, kami memegang teguh prinsip human oversight, di mana AI berperan sebagai instrumen pendukung, sedangkan keputusan yang berdampak langsung terhadap konsumen tetap berada di tangan manusia,â ujar Hanadia melalui siaran pers pada hari Kamis (5/8).
Pendekatan tersebut, lanjut dia, diterapkan untuk memastikan proses operasional berlangsung secara akuntabel serta memperhatikan ketentuan mengenai pelindungan data pribadi dan pedoman tata kelola AI di sektor jasa keuangan.
Pengawasan manusia menjadi salah satu aspek penting dalam penerapan AI karena keputusan yang dihasilkan sistem dapat berkaitan langsung dengan konsumen, termasuk dalam proses analisis risiko dan layanan keuangan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala Bidang Talent Development ADIGSI Dr. Charles Lim menilai penguatan keamanan siber tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak.
Menurut dia, perkembangan teknologi dan modus kejahatan digital membutuhkan kerja sama antara pemerintah, asosiasi industri, akademisi, masyarakat, serta perusahaan teknologi dan jasa keuangan.
âKolaborasi erat antara pemerintah, asosiasi, akademisi, masyarakat, dan pelaku industri seperti AdaKami menjadi kunci dalam membangun ekosistem keamanan siber yang mampu menjawab tantangan di masa depan,â kata Charles.
Kolaborasi tersebut mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia, pertukaran pengetahuan mengenai ancaman siber, peningkatan kesadaran masyarakat, serta pengembangan tata kelola teknologi yang dapat mengikuti perkembangan AI.
Edukasi Masyarakat Jadi Bagian Pertahanan
Selain penguatan sistem internal, edukasi konsumen menjadi salah satu aspek yang dinilai penting dalam menghadapi penipuan digital.
AdaKami menyatakan secara berkelanjutan menjalankan program edukasi mengenai penanganan fraud dan penipuan digital bersama berbagai pemangku kepentingan.
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali berbagai modus penipuan, menjaga kerahasiaan informasi pribadi, serta menggunakan layanan keuangan digital secara lebih aman.
Perkembangan AI membuat modus penipuan dapat semakin meyakinkan karena pelaku dapat memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan konten palsu, meniru identitas seseorang, atau membuat komunikasi yang terlihat menyerupai interaksi resmi.
Karena itu, penguatan keamanan siber tidak hanya membutuhkan teknologi pendeteksi dan sistem pertahanan digital, tetapi juga kesiapan manusia dalam mengenali ancaman.
Bagi sektor jasa keuangan digital, kombinasi antara teknologi AI, pengawasan manusia, tata kelola, dan literasi masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang lebih aman.
Penguatan kolaborasi lintas sektor pun menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi perkembangan ancaman siber yang bergerak seiring dengan kemajuan teknologi AI.
- Fintech
- cybersecurity
- Keuangan Digital
- Deepfake
- Keamanan Siber
- Teknologi AI
- AdaKami
- Artificial Intelligence
- AI Fraud
- kecerdasan buatan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
BPH Migas Pastikan Distribusi BBM di Jawa Timur Kembali Normal
-
Ambisi Adopsi AI di Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan
-
Harga Cabai Rawit Rp63.900/Kg, Telur Ayam Rp29.250/Kg pada Kamis Pagi
-
Survei Ipsos: Keamanan Jadi Faktor Utama Masyarakat Memilih Bank Digital
-
KPK Buka Peluang Panggil Menhut Raja Juli Antoni dalam Kasus Gratifikasi Hutan Kuansing.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.