Airlangga Ungkap Potensi Besar, Ekonomi Hijau Bidik 3% Pertumbuhan

Selasa, 29 Sep 2026, 18:30 WIB

JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pengembangan ekonomi hijau secara masif berpotensi memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2-3 persen, seiring masuknya investasi dan berkembangnya aktivitas ekonomi berbasis energi bersih di dalam negeri.

"Kalau sekarang tanpa energi hijau ini secara masif kita sudah tumbuh 5,45 persen, maka kalau ini bekerja secara masif, investment-nya masuk dan dikerjakan di dalam negeri, maka 2-3 persen pertumbuhan bisa tercipta," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (29/9).

Ket. Foto: Ilustrasi-Pekerja memanen basil di Ladang Farm, Cilandak, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Sulthony Hasanuddin.

Menurut dia, sektor ekonomi hijau diperkirakan dapat mempekerjakan hingga 5,3 juta orang pada 2029 yang akan diikuti kebutuhan terhadap keterampilan yang lebih sesuai dengan perkembangan sektor energi bersih.

"Energi hijau ini butuh tenaga kerja yang berbeda, tenaga kerja yang lebih skilled. Dan tenaga kerja ini di tahun 2029 diperkirakan di sektor ini bisa mempekerjakan 5,3 juta orang," ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan dia, Indonesia memiliki sumber daya strategis yang dapat menjadi modal penting dalam pengembangan energi hijau dan hilirisasi, terutama komoditas mineral strategis.

Hilirisasi dinilai semakin penting apabila didukung energi yang bersih, andal, serta terjangkau. Salah satu sektor yang menjadi andalan adalah kendaraan listrik karena mampu menghasilkan nilai tambah lebih dari 60 kali.

Pengembangan ekosistem tersebut dinilai dapat menempatkan Indonesia sebagai pemain strategis dalam transisi energi global.

Sejumlah negara, termasuk negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada, disebut dirinya menginginkan kerja sama dengan Indonesia di sektor mineral kritis.

Kondisi itu disebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengembangkan potensi mineral kritis sekaligus memperkuat industri energi hijau.

Selain mineral, Indonesia juga memiliki cadangan pasir silika yang besar sehingga berpotensi mendukung pengembangan industri panel surya dalam negeri.

Indonesia disampaikan dia memiliki potensi kapasitas pembangunan panel surya yang setara dengan 111 gigawatt per tahun. Namun, peningkatan ekspor panel surya ke Amerika Serikat membuat produk Indonesia dikenakan bea masuk hingga 110 persen.

Di sektor baja, khususnya stainless steel, produk Indonesia juga menghadapi tarif masuk sebesar 50 persen di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris.

Meski demikian, Indonesia dinilai masih dapat bersaing di pasar global apabila penerapan tarif tersebut berlaku secara setara bagi seluruh negara.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah mendorong pemanfaatan green bond dan blended finance untuk mendukung investasi ekonomi hijau, salah satunya komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang menyiapkan pendanaan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk Indonesia.

Airlangga juga mengaitkan pengembangan ekonomi hijau dengan pertumbuhan ekonomi digital. Menurut dia, energi hijau menjadi salah satu prasyarat bagi pembangunan infrastruktur ekonomi digital, termasuk pusat data.

Ia menyebut ekonomi digital Indonesia yang saat ini sekitar 100 miliar dolar AS berpotensi berkembang seiring implementasi Digital Economy Framework Agreement.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.