Komoditas Udang Indonesia Bisa Jadi Nomor Satu di Dunia, Begini Caranya

Sabtu, 08 Agu 2026, 07:45 WIB

MAKASSAR - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding optimistis komoditas udang Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain nomor satu di dunia.

Menurutnya, penerapan teknologi, standar operasional prosedur (SOP), serta pengelolaan induk dan lingkungan secara konsisten menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan budidaya udang.

"Kalau udangnya dikelola dengan tepat, Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia," ujarnya usai melakukan kunjungan ke PT Boga Tama Marinusa (Bomar) di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8).

Ungkapan itu bukan tanpa alasan, dalam kunjungannya tersebut, Abdul Kadir melihat langsung penerapan sistem budidaya udang yang dinilai memiliki standar tinggi, mulai dari pengelolaan induk, produksi benur, hatchery, hingga pengendalian lingkungan budidaya.

Ia menilai, sistem yang diterapkan menunjukkan bahwa teknologi dan tata kelola yang tepat dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup atau survival rate udang secara signifikan.

Menurut dia, penerapan standar yang ketat tersebut menjadi salah satu kunci agar budidaya udang dapat menghasilkan komoditas berkualitas dan memenuhi standar pasar ekspor.

Dalam proses hatchery, tingkat survival rate benur mencapai 95 persen lebih terhadap tingkat kelangsungan hidup benur. Tingkat kelangsungan hidup yang tinggi menunjukkan adanya penerapan teknologi dan standar budidaya yang jauh lebih baik dibandingkan pola konvensional.

"Teknologi, SOP, induk, itu berpengaruh. Di sini yang dijaga induknya, benurnya, lingkungannya, dan juga airnya," katanya.

Kepala Barantin menegaskan, keberhasilan sistem budidaya itu juga akan membantu tugas Barantin dalam menjaga kesehatan dan mutu komoditas perikanan yang keluar-masuk antarwilayah maupun antarnegara.

"Tugas kami sebagai Badan Karantina memastikan semua komoditas perikanan yang keluar masuk, baik antarpulau maupun antarnegara, harus betul-betul sehat, mutu dan kualitasnya terjaga," jelasnya.

Ia bahkan membuka peluang agar sistem budidaya ini dapat dikembangkan sebagai model bagi pengembangan industri udang nasional.

CEO PT Bomar Tigor mengatakan peningkatan produksi udang nasional harus dimulai dari pembenahan sektor hulu. Disebut, tantangan terbesar industri udang berada pada aspek budidaya, mulai dari kualitas induk hingga produksi benur.

Ia menekankan pentingnya penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) secara konsisten. Selain itu, pelaku usaha juga harus terus memperbarui teknologi agar berbagai kendala dalam proses budidaya dapat diatasi.

Tigor juga mengapresiasi kunjungan Kepala Barantin. Ia berharap kunjungan tersebut dapat memberikan semangat bagi pelaku usaha dan masyarakat perikanan untuk terus meningkatkan kualitas industri udang nasional.

"Keberadaan Karantina sangat penting bagi industri perikanan, terutama dalam mencegah penyebaran penyakit," kata dia.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.