Berpotensi Melemah, 6 Agustus 2026

Kamis, 06 Agu 2026, 08:25 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, hari ini (6/8). Hal ditu dipengaruhi sikap pelaku pasar yang memilih wait and see alias menunggu sinyal baru kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat para pengamat kebijakan moneter dan pelaku pasar global fokus memantau rilis data ketenagakerjaan ADP serta Nonfarm Payrolls (NFP) pada 7 Agustus mendatang untuk meng­ukur arah suku bunga acuan The Fed. Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam per­dagangan di pasar uang antarbank, Kamis (6/8), bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran 17.930 - 17.980 rupiah per dollar AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (5/8), bergerak menguat 94 poin atau 0,52 persen dari sehari sebelumnya men­jadi 17.933 rupiah per dollar AS. “Penguatan rupiah dipe­ngaruhi data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi,” ujar analis Bank Woori Saudara Rully Nova di Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian In­donesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada triwu­lan II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) ADHK mencapai 3.576,2 triliun rupiah, meningkat dari 3.396,6 triliun rupiah pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar 6.552,1 triliun rupiah. Pelaku pasar sebelumnya berekspe­ktasi pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen.

Melihat sentimen global, tren penurunan harga minyak disebut akan mempengaruhi inflasi jangka pendek yang berdampak pada suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tak dinaikkan dalam waktu dekat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.