Gerak Cepat, BPBD Palangka Raya Tangani 130 Karhutla pada 2026
Minggu, 02 Agu 2026, 04:37 WIBPALANGKA RAYA - Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menangani 130 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode 1 Juni hingga 31 Juli 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi saat dikonfirmasi dari Palangka Raya, Sabtu, mengatakan ratusan kejadian tersebut mengakibatkan sekitar 57,89 hektare lahan terbakar yang tersebar di sejumlah kecamatan.
"Selama periode 1 Juni sampai 31 Juli 2026, kami mencatat terjadi 130 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 57,89 hektare. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sabangau," katanya.
Berdasarkan data BPBD Kota Palangka Raya, kejadian karhutla terbanyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya sebanyak 85 kali, disusul Sebangau 25 kali, Pahandut 16 kali, Bukit Batu empat kali, sedangkan Kecamatan Rakumpit nihil kejadian.
Heri menjelaskan setiap laporan kebakaran ditindaklanjuti dengan mengerahkan personel beserta peralatan pemadaman ke lokasi. Penanganan dilakukan secara cepat agar api tidak meluas, terutama pada lahan gambut yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar saat musim kemarau.
Dalam pelaksanaan pemadaman, BPBD berkolaborasi dengan berbagai unsur, di antaranya Manggala Agni, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pemadam kebakaran, relawan, masyarakat peduli api (MPA), serta didukung perangkat kecamatan dan kelurahan sesuai wilayah terdampak.
Menurut dia, sinergi lintas instansi menjadi kunci dalam mempercepat pengendalian karhutla, mulai dari pemadaman darat, patroli terpadu, pemantauan wilayah rawan, hingga penyediaan sumber air di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kebakaran.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi menambahkan, selain penanganan di lapangan, BPBD juga terus memperkuat langkah antisipasi dan pencegahan melalui patroli rutin di kawasan rawan karhutla, sosialisasi kepada masyarakat, penyebarluasan informasi peringatan dini, serta pemetaan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Kami terus mengedepankan upaya pencegahan karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," kata pria yang akrab disapa Budi ini.
Dia menambahkan pemerintah daerah juga terus meningkatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapsiagaan personel, peralatan, dan logistik selama musim kemarau berlangsung.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun, tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering, serta segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap kepada BPBD, aparat kelurahan, maupun layanan darurat terdekat.
Menurut dia, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat. Dengan keterlibatan semua pihak, potensi meluasnya kebakaran dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.
- Kebakaran Hutan
- Antisipasi Karhutla
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Pengelolaan Sampah Plastik Jadi Kunci Kelestarian Karimunjawa dan Ekonomi Warga
-
Gunung Ringgit Probolinggo Dilalap Api, 4,5 Hektare Lahan Hangus
-
Semarak Perayaan Peh Cun di Kota Pekalongan
-
Badan Karantina dan Kemendes Perkuat Literasi Desa Dukung Pengembangan 5.000 Desa Ekspor
-
Gelar RUPS Tahun Buku 2025, IAS Catat Kinerja Positif dan Perkuat Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.