- Home
-
- Luar Negeri
-
- Era Baru Perang Bawah Laut...
Era Baru Perang Bawah Laut, Kapal Selam Virginia AS akan Jadi Ancaman dari Kedalaman - Segera Dibekali Rudal Hipersonik Anti-Pesawat
Minggu, 02 Agu 2026, 05:15 WIBWASHINGTON DC - Angkatan Laut Amerika Serikat atau U.S. Navy tengah menyiapkan lompatan besar dalam kemampuan tempur bawah laut. Untuk pertama kalinya, kapal selam serang nuklir kelas Virginia diproyeksikan akan dipersenjatai rudal anti-pesawat yang dapat diluncurkan langsung dari bawah laut. Jika program ini berhasil diwujudkan, kapal selam Amerika tidak lagi hanya menjadi pemburu kapal perang dan sasaran darat, tetapi juga mampu mengancam pesawat tempur, pesawat patroli maritim, hingga rudal musuh.
Kemampuan baru tersebut menjadi bagian dari pengembangan keluarga rudal generasi berikutnya bernama Naval Modular Missile (NMM). Informasi ini diungkap Angkatan Laut AS melalui dokumen permintaan solusi kepada industri pertahanan yang baru dipublikasikan, setelah sebelumnya menggelar Naval Modular Missile Industry Day untuk menjaring masukan dari para produsen.
Program NMM sendiri sebenarnya telah mulai dirintis sejak sedikitnya tahun 2021. Namun, baru kali ini Angkatan Laut AS mengungkap gambaran yang jauh lebih rinci mengenai konsep rudal masa depan tersebut.
Dalam dokumen resminya, Angkatan Laut AS menjelaskan bahwa mereka sedang mencari interceptor modular baru yang akan menjadi inti keluarga Naval Modular Missile.
"Angkatan Laut Amerika Serikat sedang mencari pencegat modular baru untuk menjadi dasar program Rudal Modular Angkatan Laut, sebuah inisiatif generasi berikutnya yang dirancang untuk merevolusi kemampuan angkatan laut permukaan melalui utilitas multi-misi, peningkatan kapasitas, dan arsitektur terbuka modular.," tulis Angkatan Laut AS.
Artinya, rudal ini dirancang sebagai senjata multi-misi dengan arsitektur terbuka sehingga dapat digunakan di berbagai platform tempur dan lebih mudah dikembangkan pada masa mendatang.
Jantung dari seluruh keluarga rudal ini adalah Terminal Stage Interceptor (TSI), sebuah interceptor berdiameter 10 inci yang terdiri atas lima modul utama, yaitu modul pencari sasaran, modul hulu ledak, modul komando, motor roket tahap akhir, serta sistem kendali manuver.
Konsep modular ini memungkinkan satu teknologi dasar digunakan untuk menghasilkan berbagai jenis rudal dengan fungsi yang berbeda, hanya dengan mengganti pendorong roket atau tabung peluncurnya.
Angkatan Laut AS merancang sedikitnya empat varian Naval Modular Missile.
Varian pertama adalah Long Range (LR), rudal jarak jauh yang dirancang untuk diluncurkan dari sistem peluncur vertikal Mk 41 Vertical Launch System yang digunakan kapal perang Amerika. Rudal ini diproyeksikan memiliki kemampuan multi-misi, termasuk mencegat ancaman hipersonik.
Varian kedua adalah Dual-Pack Extended Range (DP-ER) yang memiliki ukuran lebih ramping sehingga dua rudal dapat dimuat dalam satu sel peluncur Mk 41.
Varian ketiga adalah Quad-Pack Medium Range (QP-MR). Dengan dimensi yang lebih kecil, empat rudal dapat dimasukkan ke dalam satu sel peluncur, sehingga kapal perang dapat membawa amunisi dalam jumlah jauh lebih banyak dibandingkan saat menggunakan rudal Standard Missile-2 saat ini.
Namun varian yang paling menarik adalah ER-S (Extended RangeâSubmarine).
Rudal inilah yang dirancang khusus untuk diluncurkan dari kapal selam nuklir kelas Virginia Block V yang telah dilengkapi Virginia Payload Module (VPM).
VPM merupakan empat tabung peluncur vertikal berukuran besar yang mulai dipasang pada kapal selam Virginia Block V. Melalui adaptor khusus bernama Multiple All-Up-Round Canister, setiap tabung nantinya dapat membawa tujuh rudal ER-S sekaligus.
Bila direalisasikan, ini akan menjadi kemampuan yang benar-benar baru bagi Angkatan Laut AS. Hingga saat ini, belum diketahui adanya kapal selam Amerika yang memiliki kemampuan operasional untuk menembakkan rudal anti-pesawat.
Sebenarnya konsep rudal anti-pesawat untuk kapal selam sudah lama dipelajari berbagai negara. Namun hingga kini, implementasinya masih sangat terbatas.
Selama ini kapal selam lebih mengandalkan kemampuan siluman untuk menghindari deteksi pesawat patroli maritim dan helikopter anti-kapal selam. Dengan hadirnya ER-S, kapal selam Amerika nantinya memiliki opsi untuk membalas serangan dari udara.
Meski demikian, konsep ini bukan tanpa tantangan.
Meluncurkan rudal berukuran besar dari bawah laut akan menghasilkan jejak inframerah, radar, dan akustik yang sangat kuat. Padahal, seluruh konsep operasi kapal selam bertumpu pada kemampuan tetap tersembunyi.
Artinya, setiap peluncuran rudal harus benar-benar diperhitungkan karena dapat langsung membocorkan posisi kapal selam kepada musuh.
Di sisi lain, manfaat strategisnya dinilai sangat besar.
Kapal selam yang membawa ER-S dapat menjadi bagian dari jaringan pertahanan udara terpadu bersama kapal perang, pesawat tempur, satelit, hingga sistem tempur Aegis.
Data sasaran bahkan tidak harus berasal dari kapal selam itu sendiri. Informasi dapat dikirim oleh pesawat tempur generasi berikutnya, kapal perusak, satelit, maupun sensor lain yang terhubung dalam jaringan tempur terpadu.
Dengan konsep tersebut, kapal selam dapat bertindak sebagai forward shooter, yakni platform penembak yang beroperasi jauh di depan garis pertahanan tanpa harus mengaktifkan sensor sendiri.
Kemampuan ini dinilai sangat berguna untuk memburu target bernilai tinggi seperti pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C), pesawat intai, pesawat tanker, maupun ancaman udara lainnya yang selama ini relatif aman dari serangan kapal selam.
Bahkan, bila ER-S juga memiliki kemampuan mencegat rudal hipersonik, kapal selam dapat ditempatkan lebih dekat ke wilayah musuh untuk memberikan lapisan pertahanan tambahan terhadap rudal balistik maupun rudal hipersonik sejak fase awal penerbangannya.
Selain memperkenalkan rudal baru, program NMM juga membawa perubahan besar dari sisi logistik.
Selama ini kapal perang Amerika hanya dapat membawa satu rudal Standard Missile dalam setiap sel peluncur vertikal. Dengan konsep dual-pack dan quad-pack, jumlah rudal yang dapat dibawa kapal perang akan meningkat drastis tanpa perlu memperbesar ukuran kapal.
Hal ini menjadi sangat penting setelah pengalaman operasi di Laut Merah menunjukkan bahwa kapal perang Amerika dapat kehabisan rudal pertahanan udara setelah menghadapi serangan drone dan rudal secara terus-menerus. Ketika amunisi habis, kapal harus meninggalkan area operasi untuk mengisi ulang di pelabuhan, sehingga mengurangi kesiapan tempur.
Angkatan Laut AS berharap keluarga Naval Modular Missile nantinya mampu menggantikan seluruh keluarga rudal Standard Missile yang saat ini digunakan armadanya.
Selain meningkatkan kemampuan tempur, penggunaan desain modular juga diyakini akan mempercepat produksi massal serta menekan biaya.
Dalam dokumen anggaran tahun fiskal 2027, Angkatan Laut AS mengajukan dana sebesar 311 juta dolar AS sebagai tahap awal pengembangan program NMM.
Targetnya cukup ambisius, yakni mampu memproduksi sekitar 1.000 interceptor setiap tahun dalam waktu lima tahun setelah kontrak diberikan.
Menurut Angkatan Laut AS, kebutuhan akan rudal baru ini muncul karena ancaman dari sistem anti-access/area denial (A2/AD) milik negara-negara pesaing terus meningkat.
Dokumen anggaran menyebutkan bahwa meningkatnya jangkauan, kemampuan, dan jumlah rudal musuh membuat kapal perang Amerika dan sekutunya menghadapi risiko yang semakin besar.
"NMM akan menyediakan kemampuan pertahanan dan serangan tingkat lanjut kepada Angkatan Laut AS, Pasukan Gabungan, Sekutu, dan Mitra untuk mengungguli ancaman.," tulis Angkatan Laut AS dalam dokumen anggarannya.
Meski demikian, proyek ini masih berada pada tahap awal. Persyaratan teknis maupun konsep operasinya masih dapat berubah seiring proses pengembangan.
Namun jika seluruh rencana tersebut berhasil diwujudkan, Angkatan Laut Amerika akan memiliki kemampuan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Kapal selam kelas Virginia bukan hanya mampu menyerang kapal perang, kapal selam, dan sasaran darat, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi pesawat dan rudal musuh dari balik kedalaman laut. Kehadiran kemampuan ini diperkirakan akan mengubah taktik peperangan laut modern sekaligus memaksa negara-negara pesaing, seperti Tiongkok dan Rusia, menyusun ulang strategi perburuan kapal selam Amerika.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Formasi Jadi Kunci di Debut Herdman
-
Pakar Sampaikan Masukan dalam Revisi UU Pemilu
-
Pecinan Glodok Jakarta Barat Terus Bersolek, Siap Jadi Destinasi Wisata Unggulan Ibu Kota.
-
Bappenas: RI Siap Jadi Contoh Global dalam Pembangunan Berkelanjutan
-
DKI Jakarta Sediakan Pangan Bersubsidi Murah, Daging Ayam Hanya Rp8.000 per Ekor
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.