Koperasi Petani Kakao Jembrana Bikin Harga Panen Stabil, Ratusan Petani Diuntungkan.

Jumat, 31 Jul 2026, 15:06 WIB

Sistem koperasi yang diikuti ratusan petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali, mampu membuat harga panen komoditas pertanian stabil dan petani mendapatkan pendampingan yang komprehensif.

"Harga yang stabil tidak hanya menambah penghasilan kami, tapi juga bisa menjadi dasar perhitungan kami untuk menanam dan merawat pohon kakao," kata Ketut Sudomo seorang petani kakao di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, saat menerima kunjungan sejumlah awak media yang mengikuti program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia.

Ket. Foto: Pegawai Koperasi Kerta Semaya Samaniya menjelaskan proses panen biji kakao di Jembrana, Bali Kamis (30/7). — Sumber: Antara Foto

Ketut Sudomo di Jembrana, Kamis, mengatakan pendampingan dari Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari tidak hanya meningkatkan kualitas biji kakao tapi juga meningkatkan volume panen.

Dengan lahan seluas tiga hektare, menurut dia, bisa mendapatkan 1 ton lebih biji kakao kering setiap tahun, yang secara ekonomi cukup signifikan menopang kehidupannya.

"Saat harga bagus seperti pada tahun 2024 dan 2025, hasil panen saya cukup besar. Dengan harga yang stabil dari koperasi, otomatis penghasilan saya sebagai petani juga lumayan besar," kata petani yang sering menjadi rujukan di Kabupaten Jembrana itu.

Direktur Kalimajari Agung Widiastuti dan Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya I Ketut Wiadnyana mengatakan pendampingan yang utuh dan instant menjadi kunci keberhasilan produksi kakao anggota koperasi.

Menurut Widiastuti, bersama koperasi pihaknya mendampingi petani mulai dari pemilihan bibit, proses penanaman, perawatan hingga panen.

"Bibit kakao yang ditanam kami sesuaikan dengan kondisi tanah yang bisa jadi berbeda-beda. Kami juga mengajari petani melakukan treatment terhadap lahannya, agar sesuai dengan kebutuhan pohon kakao," katanya.

Untuk mengetahui kondisi lahan, pihaknya mengambil contoh tanah untuk diuji laboratorium sehingga mendapatkan detail kandungan tanah tersebut, serta cara yang tepat untuk melakukan treatment.

Untuk mendapatkan kakao yang berkualitas serta memenuhi standar internasional, dia mengatakan, petani binaan Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari menerapkan sistem pertanian organik.

"Dari proses yang konsisten, kakao fermentasi Jembrana diakui merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Kami sudah berkali-kali mengekspor komoditas pertanian ini," kata Wiadnyana.

Dia mengatakan, saat ini ada 750 petani kakao yang bergabung dengan koperasinya, dengan mendapatkan pendampingan dari petugas-petugas koperasi.

Karena bergerak di pengolahan kakao fermentasi dengan orientasi ekspor, dia mengatakan, pemilahan kakao dilakukan mulai dari panen hingga pengambilan bijinya.

"Buah kakao yang tidak sehat atau terkontaminasi hama kami pisahkan dari buah yang sehat. Saat pengambilan biji, juga dicek lagi agar mendapatkan biji kakao yang benar-benar baik," katanya.

Biji kakao yang sudah dipilah tersebut, dibawa ke lokasi fermentasi Koperasi Kerta Semaya Samaniya untuk diproses kemudian dipasarkan.

Terobosan, pendampingan dan pengakuan dari dunia internasional ini membuat Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari menjadi rujukan utama komoditas kakao di Kabupaten Jembrana.

Pola koperasi yang mengawal petani dari hulu sampai hilir ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk konsorsium yang bergabung dalam Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia yang didukung oleh Uni Eropa.

Melalui program tersebut mereka mendorong transformasi pola konsumsi konsumen Indonesia agar lebih sadar dampak lingkungan, ekonomi dan sosial.

  • petani kakao Jembrana

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.