PSEL Legok Nangka Ditargetkan Beroperasi 2029, Serap 1.500 Tenaga Kerja dan Hasilkan 40 MW
Kamis, 30 Jul 2026, 14:05 WIBBandung - Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna menilai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung menjadi langkah strategis untuk mengatasi krisis sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi di Jawa Barat.
Buky mengatakan dimulainya pembangunan (groundbreaking) PSEL Legok Nangka mengakhiri penantian panjang sejak proyek tersebut mulai direncanakan pada 2005.
"Sudah cukup lama ditunggu, akhirnya hari ini dilakukan groundbreaking untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik di Legok Nangka yang sudah tertunda cukup lama," kata Buky di Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Kamis (30/7).
Menurut dia, pembangunan PSEL Legok Nangka menjadi tonggak penting dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA).
"Kita ini sedang menghadapi bencana sampah. Jadi ini merupakan upaya yang sangat baik sebagai jalan keluar," ujarnya.
Ia menjelaskan fasilitas tersebut dirancang mengolah sekitar 2.000 ton sampah per hari yang berasal dari enam kabupaten/kota di Jawa Barat. Kehadiran fasilitas itu diharapkan mampu mengurangi beban penanganan sampah, khususnya di kawasan Bandung Raya.
Buky berharap pembangunan proyek senilai sekitar Rp7,2 triliun tersebut dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat.
"Ya kita pasti berharap pelaksanaan sesuai dengan timeline. Mudah-mudahan waktunya tidak molor," katanya.
Menurut dia, ketepatan waktu penyelesaian proyek membutuhkan komitmen seluruh pihak, terutama investor dan pelaksana pembangunan.
"Dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak, terutama dari pihak investor dan pelaksana pembangunan ini," ujarnya.
Solusi Sampah
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan PSEL Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 sebagai solusi penanganan sampah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
"Hari ini kita mendapatkan tiga berkah besar yang hasilnya akan kita rasakan pada tahun 2029. Pertama, persoalan sampah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi akan mendapatkan solusi," kata Dedi.
Selain mengatasi persoalan sampah, Dedi menilai proyek tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan penerimaan daerah, dan percepatan pertumbuhan ekonomi.
"Kalau kita berinvestasi membangun jaringan listrik, manfaat ekonominya jauh lebih besar karena akan membuka lapangan kerja, meningkatkan pajak, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi. Karena itu saya ingin memasukkan pembangunan infrastruktur energi sebagai bagian dari investasi daerah," ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pembangunan PSEL Legok Nangka diperkirakan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja selama masa konstruksi.
Menurutnya, fasilitas tersebut juga akan menghasilkan listrik sekitar 40 megawatt yang akan memperkuat pasokan energi di Jawa Barat.
"Untuk kegiatan ini, total tenaga kerja yang akan terserap nanti ada 1.500 tenaga kerja dan akan menghasilkan listrik sekitar 40 megawatt. Ini akan memperkuat ketersediaan energi di Provinsi Jawa Barat," kata Yuliot.
PSEL Legok Nangka merupakan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik senilai sekitar Rp7,2 triliun yang memiliki kapasitas pembangkit sebesar 40,79 megawatt. Proyek ini ditargetkan selesai setelah masa konstruksi sekitar 41 bulan dan mulai beroperasi pada 2029.
Selain melayani enam kabupaten/kota di Jawa Barat, fasilitas tersebut juga diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 311 ribu ton karbon dioksida ekuivalen setiap tahun.
- PSEL Legok Nangka
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.