Petani Turki Sukses Panen Melimpah tapi Tercekik Biaya Produksi Tinggi

Kamis, 30 Jul 2026, 17:12 WIB

ANKARA - Saat mesin penuai menyapu ladang gandum yang telah menguning di Distrik Golbasi, Ankara, Turki, para petani bisa bernapas lega saat melihat hasil panen yang melebihi ekspektasi berkat curah hujan yang melimpah dan kondisi pertumbuhan yang menguntungkan.

Namun, optimisme yang dibawa oleh salah satu panen biji-bijian terkuat di Turki dalam beberapa tahun terakhir ini tengah diredam oleh tantangan yang semakin hari semakin lazim terjadi, yakni melonjaknya biaya produksi, khususnya untuk solar, dipicu oleh konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.

Sejak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berkobar pada awal Juli menyusul runtuhnya gencatan senjata, Turki telah tiga kali menaikkan harga bensin, dengan harga eceran per liter di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) naik sekitar 14 lira Turki, atau 0,30 dolar AS.

Untuk melindungi konsumen dari fluktuasi tajam, pemerintah Turki memperkenalkan mekanisme stabilisasi bahan bakar sementara pada April, yang akan berlangsung hingga Oktober.

Akan tetapi, para petani mengatakan langkah tersebut tidak banyak membantu mengimbangi kenaikan biaya selama salah satu musim pertanian tersibuk dalam setahun itu.

"Panen tahun ini lebih baik dari biasanya dibandingkan tahun lalu, tetapi hasil panen yang tinggi saja tidak cukup untuk menyelamatkan kami," kata petani gandum Omer Temizsoy kepada Xinhua.

Deretan truk tampak berjejer di samping ladangnya yang baru saja dipanen.

"Biaya kami meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Harga bensin terus naik hampir setiap pekan," katanya, seraya menambahkan harga bahan bakar telah melonjak dari sekitar 27 lira per liter tahun lalu menjadi lebih dari 70 lira saat ini.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

Pertanian tetap menjadi salah satu sektor strategis Turki, dengan negara itu menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk komoditas gandum, jelai, buah-buahan, dan sayuran.

"Biaya pakan, jelai, dan pupuk telah meningkat tajam, sementara keuntungan kami menurun," kata Uzum.

"Semuanya menjadi lebih mahal. Kami kesulitan untuk mengimbanginya," ujarnya.

Curah hujan yang melimpah tahun ini di sebagian besar wilayah Anatolia, jantung Turki bagian Asia sekaligus sabuk penghasil biji-bijian utama negara itu, telah mendorong hasil panen yang melimpah dan meningkatkan ekspektasi akan pasokan domestik yang lebih kuat.

Namun, peningkatan hasil panen ini tidak otomatis menjamin peningkatan keamanan finansial. Di samping tekanan kenaikan biaya, utang telah menjadi beban besar di pedesaan.

"Hampir 80 persen petani memiliki pinjaman bank," kata Ismail Derin, seorang petani biji-bijian lainnya di Golbasi.

Banyak yang terpaksa berutang hanya demi mempertahankan aktivitas produksi di tengah meningkatnya biaya, imbuhnya.

Tekanan finansial ini juga meluas hingga di luar sektor pertanian biji-bijian.

Peternak domba Umut Uzum dari Golbasi mengatakan melonjaknya biaya pakan, jelai, dan pupuk kian menekan para peternak, serta mengikis margin keuntungan mereka meskipun produksi stabil.

Merujuk pada konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, peternak itu memperingatkan peristiwa yang terjadi bahkan ribuan kilometer jauhnya dapat menimbulkan konsekuensi langsung bagi keluarga-keluarga di pedesaan.

Saat mesin penuai terakhir melanjutkan perjalanan lambat mereka melintasi ladang gandum yang membentang di luar Ankara, perasaan lega bercampur cemas seolah menetap di benak para petani.

Cuaca baik telah menghasilkan panen yang melimpah, tetapi para petani tetap cemas. Apakah hasil panen berlimpah tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan mereka akan bergantung pada faktor-faktor di luar lahan pertanian itu sendiri. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Wali Kota: Bandung Tegaskan Kontribusi sebagai Ibu Kota Provinsi

Museum ITB Hadirkan Wisata Edukatif di Bandung

Pemkot Siapkan Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung Jadi Etalase UMKM

OJK Sebut Kota Bandung Layak Jadi “Role Model” Pemberdayaan UMKM

Disbudpar: Bandung Creative Hub Jadi  Ruang Kreatif Gratis untuk Tumbuhkan Talenta Kota Bandung

85 Ribu Hektare Kawasan Konsesi Perusahaan Terbakar akibat Karhutla.

Wali Kota Pontianak Apresiasi Relawan Tangani Karhutla dan Dampak Kualitas Udara.

Polres Tanah Laut Tingkatkan Penanganan Karhutla, Pemadaman Dipercepat.

357,59 Hektare Terdampak Karhutla, BPBD Banjarbaru Perkuat Penanganan.

Cegah Karhutla Meluas, Sekolah di Jambi Diimbau Gelar Shalat Istisqa.

Presiden Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum bagi Pelaku Karhutla di Kalimantan.

Yura Yunita Bikin Penonton Tegang! Terbang sebagai Mahadewi, Ternyata Naik Motor di Balik Panggung

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kolom Abu 400 Meter! Nelayan dan Wisatawan Diminta Waspada

NeKat Buang Sampah Sembarangan di Ciracas, Warga Langsung Kena OTT dan Denda Rp500 Ribu

Siapkan Joran! Pemkot Tangerang Siram Situ Gede 1 Ton Ikan Lele untuk "Mancing Bersama"

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Berbahaya, Karhutla Kepung Perumahan Dekat Bandara Internasional Syamsudin Noor Kalsel

Film “Jumbo” Tayang di AS, KJRI Houston Hadirkan Pemutaran Perdana

Prabowo Datangi Karhutla di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Optimal

Cip Penglihatan Hemat Energi Dikembangkan Tim Ilmuwan Dipimpin Tiongkok

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.