Harapan Menyelamatkan Permafrost Arktik
Kamis, 30 Jul 2026, 07:27 WIBJIKA suatu hari mammoth berbulu kembali berjalan di dataran Arktik, tujuannya bukan sekadar menghidupkan kembali hewan ikonik Zaman Es. Di balik ambisi de-extinction (de-ekstinksi), terdapat gagasan yang lebih besar: mengembalikan peran ekologis megafauna dalam membentuk lanskap Arktik dan membantu melindungi permafrost dari pencairan.
Permafrost lapisan tanah, pasir, sedimen, atau batuan yang berada pada suhu 0 °C atau di bawahnya secara terus-menerus selama minimal dua tahun berturut-turut. Lapisan ini banyak ditemukan di wilayah kutub dan pegunungan tinggi.
Gagasan ini berangkat dari konsep mammoth steppe, ekosistem padang rumput dingin yang pernah membentang luas pada Zaman Pleistosen. Lanskap ini dahulu dihuni berbagai herbivora besar seperti mammoth, kuda liar, dan bison. Kepunahan megafauna serta perubahan iklim di akhir Zaman Es mengubah padang rumput terbuka ini menjadi tundra modern yang didominasi semak dan vegetasi berkayu.
Kini, muncul wacana untuk mengembalikan fungsi ekologis tersebut dengan menghadirkan kembali herbivora besar. Mammoth hasil rekayasa genetika menjadi kandidat paling menarik, meski para ilmuwan juga dapat memanfaatkan spesies yang masih hidup seperti bison dan kuda. Pertanyaannya, apakah hewan-hewan ini benar-benar dapat menjalankan peran ekologis yang diharapkan, termasuk memperlambat pencairan permafrost?
Mammoth steppe merupakan padang rumput atau stepa-tundra yang pernah berkembang luas di wilayah utara, berbeda dengan Arktik modern yang kini didominasi tundra dan hutan boreal. Penelitian menunjukkan bahwa pergeseran dari mammoth steppe ke tundra semak terjadi akibat kombinasi kompleks antara perubahan iklim, kelembapan, mencairnya es, serta aktivitas manusia. Karena itu, mengembalikan mammoth steppe saat ini merupakan sebuah eksperimen ekologis yang sangat rumit.
Peran Megafauna sebagai Insinyur Ekosistem
Para pendukung rewilding berpendapat bahwa herbivora besar bertindak sebagai insinyur ekosistem (megafaunal ecosystem engineering). Aktivitas merumput dan menginjak-injak tanaman berkayu oleh hewan besar dapat menekan pertumbuhan pohon dan semak, menjaga lanskap tetap terbuka bagi rerumputan.
Penelitian dari University of Oxford menyebutkan bahwa pengenalan kembali herbivora besar berpotensi mengembalikan vegetasi berkayu menjadi padang rumput, yang dalam kondisi tertentu dapat memberikan efek pendinginan pada tanah Arktik. Namun, Dr. Marc Macias-Fauria dari University of Oxford menegaskan bahwa ilmu tentang eco-engineering ini sebagian besar belum teruji dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Permafrost adalah lapisan tanah beku yang menyimpan karbon organik dalam jumlah sangat besar. Ketika mencair, mikroorganisme akan menguraikan material tersebut dan melepaskan karbondioksida serta metana ke atmosfer.
Herbivora besar dinilai dapat membantu mempertahankan permafrost melalui dua jalur utama. Pertama, melalui perubahan vegetasi, di mana padang rumput memiliki sistem akar yang menyimpan karbon serta kemampuan memantulkan radiasi matahari (albedo) yang berbeda dari semak atau pohon.
Kedua, melalui pemadatan salju di musim dingin. Injakan kaki hewan memadatkan lapisan salju sehingga mengurangi efek isolasi hangatnya, memungkinkan suhu dingin ekstrem menembus lebih dalam untuk menjaga tanah tetap membeku. Meski demikian, efektivitas mekanisme ini sangat bergantung pada kondisi lokal, populasi hewan, ketebalan salju, dan kelembapan tanah.
Uji coba fungsi ekologis ini sebenarnya tidak harus menunggu keberhasilan teknologi rekayasa genetik. Di timur laut Siberia, proyek Pleistocene Park telah menguji hipotesis ini menggunakan spesies yang masih ada seperti kuda dan bison. Hasil awalnya menunjukkan potensi positif, meski dibutuhkan populasi hewan dalam skala yang sangat besar untuk memberikan dampak signifikan bagi seluruh wilayah Arktik. Jika spesies modern terbukti mampu menjalankan fungsi tersebut, kebutuhan merekayasa ulang mammoth menjadi berkurang.
Membawa kembali megafauna juga membawa risiko nyata. Mammoth hasil rekayasa genetik mungkin memiliki perilaku berbeda dari aslinya, apalagi Arktik modern memiliki iklim yang tak lagi sama dengan Zaman Pleistosen. Selain itu, ada tanggung jawab etis mengenai kesejahteraan gajah hasil rekayasa genetika sebagai hewan sosial berumur panjang.
Rewilding Arktik juga tidak boleh mengalihkan fokus dari penyebab utama pencairan permafrost, yaitu pemanasan global. Efek rewilding hanya bertindak sebagai strategi tambahan, bukan pengganti mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.