Proyek Jembatan Rahasia Korea Utara - Russia Diduga untuk Memenangkan Moskow dalam Perang Ukraina

Rabu, 29 Jul 2026, 00:03 WIB

PYONGYANG - Russia dan Korea Utara hampir menyelesaikan pembangunan jembatan jalan pertama yang menghubungkan langsung kedua negara. Secara resmi, Moskow dan Pyongyang menyebut proyek tersebut sebagai upaya memperluas perdagangan, pariwisata, dan kerja sama ekonomi. Namun, sebuah investigasi terbaru justru memunculkan dugaan bahwa fungsi utamanya adalah membangun koridor logistik militer yang lebih sulit dideteksi untuk mendukung perang Rusia di Ukraina.

Dari The Guardian, jembatan itu membentang melintasi Sungai Tumen, menghubungkan Khasan di wilayah timur jauh Rusia dengan Tumangang di Korea Utara. Selama ini, kedua negara hanya terhubung oleh Jembatan Persahabatan, satu-satunya jalur kereta api lintas perbatasan yang telah digunakan selama puluhan tahun.

Ket. Foto: Pembangunan jembatan dimulai setelah Vladimir Putin dan Kim Jong-un menandatangani pakta kemitraan strategis komprehensif pada Juni 2024. Korea Utara dilaporkan telah memasok amunisi artileri, rudal balistik, hingga personel militer untuk membantu perang di Ukraina. — Sumber: Istimewa

Pembangunan fisik proyek kini hampir selesai. Korea Utara bahkan telah menyelesaikan bagian pekerjaannya, termasuk fasilitas bea cukai dan karantina, lebih cepat dari jadwal pada 19 Juni 2026. Sementara itu, Rusia masih menyelesaikan sejumlah pekerjaan di sisi perbatasannya sehingga tanggal pembukaan resmi belum diumumkan.

Meski pemerintah kedua negara secara terbuka menyatakan jembatan itu akan meningkatkan perdagangan dan pariwisata, investigasi organisasi hak asasi manusia Ukraina Truth Hounds, yang diperoleh The Guardian, menyebut tujuan strategisnya jauh lebih besar.

Menurut kepala riset sumber terbuka Truth Hounds, Nazar Myhun, jalur darat baru ini memungkinkan aktivitas logistik militer berlangsung jauh lebih sulit dipantau dibandingkan pengiriman melalui jalur kereta api.

Ia menjelaskan bahwa jaringan jalan raya Rusia dan Korea Utara jauh lebih luas daripada jaringan rel kereta, sehingga pengawasan melalui citra satelit menjadi jauh lebih rumit. Selain itu, proses bongkar muat truk berlangsung lebih cepat dibandingkan kereta, sehingga waktu kendaraan berada dalam jangkauan satelit juga lebih singkat.

Myhun juga menyoroti bahwa gerbong kereta sering kali memperlihatkan jenis muatan yang dibawa. Bahkan beberapa komoditas harus diangkut menggunakan gerbong terbuka sehingga relatif mudah diidentifikasi melalui citra satelit.

Sebaliknya, truk umumnya memiliki bentuk luar yang seragam sehingga jauh lebih sulit dibedakan hanya dari pengamatan satelit. Muatan juga dapat dipindahkan dari hampir semua lokasi, tidak harus melalui stasiun kereta tertentu sebagaimana transportasi rel.

Di sisi lain, Menteri Transportasi Rusia Andrey Nikitin menegaskan proyek tersebut bertujuan meningkatkan perdagangan bilateral, memperkuat hubungan budaya, mengoptimalkan logistik, dan mengembangkan kawasan perbatasan menjadi pusat ekonomi baru. Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, juga menyebut jembatan itu akan memperlancar perjalanan warga, pariwisata, serta arus barang antarnegara.

Namun, Truth Hounds menilai alasan ekonomi tersebut kurang meyakinkan.

Biaya pembangunan jembatan diperkirakan melampaui USD100 juta, sementara nilai perdagangan resmi Rusia-Korea Utara pada 2024 hanya sekitar USD34 juta. Sementara itu, sektor pariwisata juga masih sangat terbatas. Pada 2025 hanya sekitar 10.000 wisatawan Rusia yang tercatat mengunjungi Korea Utara, sebagian besar melalui tur yang dikawal secara ketat. Bahkan, ibu kota Pyongyang yang menjadi tujuan utama wisatawan berada lebih dari 500 kilometer dari lokasi penyeberangan tersebut.

Karena itu, laporan tersebut menyimpulkan bahwa jembatan lebih masuk akal dipandang sebagai infrastruktur strategis untuk memindahkan personel militer, brigade konstruksi, pejabat pertahanan Korea Utara ke Rusia, sekaligus mempermudah pengiriman teknologi dan sumber daya dari Rusia menuju Korea Utara.

Citra satelit April 2026 juga menunjukkan pembangunan besar-besaran di sisi Rusia. Pos pemeriksaan perbatasan yang saat itu diperkirakan baru selesai sekitar 40 persen dirancang memiliki 10 jalur, lengkap dengan berbagai bangunan pendukung. Citra lainnya bahkan memperlihatkan pembangunan landasan helikopter di kawasan tersebut.

Myhun mengatakan Truth Hounds terus memantau hubungan Rusia-Korea Utara karena kerja sama kedua negara kini menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat kemampuan Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Menurutnya, hubungan yang semakin erat itu juga membuat pertukaran senjata dan teknologi militer berlangsung lebih mudah serta jauh lebih sulit dipantau, sehingga berpotensi meningkatkan ancaman terhadap negara-negara tetangga Korea Utara.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, pihak Kremlin belum memberikan tanggapan atas temuan investigasi tersebut.

Aliansi militer yang semakin erat

Jembatan baru ini memiliki panjang sekitar 1 kilometer dengan lebar 7 meter dan terdiri atas dua lajur, menjadi bagian dari koridor perbatasan sepanjang 4,7 kilometer yang mencakup jalan akses menuju kedua negara.

Selama ini, jalur kereta api lintas Rusia-Korea Utara memiliki kendala teknis berupa perbedaan lebar rel sehingga roda kereta harus diganti ketika memasuki jaringan negara lain. Hambatan tersebut tidak lagi berlaku pada jalur jalan raya baru, sehingga distribusi logistik dapat berlangsung lebih cepat dan fleksibel.

Sebelumnya, para peneliti sumber terbuka mengandalkan citra satelit di perlintasan kereta untuk memantau dugaan pengiriman senjata antara kedua negara. Dengan hadirnya jalur darat baru, pengawasan semacam itu diperkirakan akan menjadi jauh lebih sulit.

Pembangunan jembatan dimulai setelah Vladimir Putin dan Kim Jong-un menandatangani pakta kemitraan strategis komprehensif pada Juni 2024. Sejak saat itu, hubungan militer kedua negara berkembang pesat. Korea Utara dilaporkan memasok amunisi artileri, rudal balistik, hingga personel militer untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina.

Lebih dari 14.000 tentara Korea Utara dilaporkan telah bertempur bersama pasukan Rusia di wilayah Kursk setelah serangan balasan Ukraina pada Agustus 2024. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan baru-baru ini memperingatkan bahwa Moskow sedang bersiap menerima tambahan sekitar 30.000 tentara Korea Utara.

Kerja sama kedua negara juga mencakup bidang persenjataan, teknologi militer, hingga proyek rekonstruksi.

Pada 2023, Reuters melaporkan citra satelit menunjukkan sekitar 2.000 kontainer dikirim dari Pelabuhan Rason di Korea Utara menuju Rusia. Muatan tersebut diyakini berisi peluru artileri dan kemungkinan rudal jarak pendek.

Sementara itu, Kim Jong-un secara terbuka memuji tentara Korea Utara yang bertempur untuk Rusia serta meresmikan kompleks perumahan bagi keluarga prajurit yang gugur. Berbagai laporan memperkirakan sedikitnya 2.000 tentara Korea Utara telah tewas dalam konflik tersebut, sementara dua prajurit yang mengalami luka berat dilaporkan berhasil ditangkap oleh Ukraina.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.