Palu Targetkan Jadi Kota Tangguh Bencana

Selasa, 28 Jul 2026, 07:10 WIB

PALU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menargetkan Indeks Ketahanan Daerah (IKD) meningkat dari 0,74 pada 2025 menjadi 0,80 pada 2028-2029 untuk mencapai kategori hijau atau menjadi Kota Tangguh Bencana.

“Sekarang IKD kita masih di angka 0,74. Target kita pada 2026 naik menjadi 0,76 atau naik dua poin, kemudian 2027 sekitar 0,78, dan pada 2028 atau 2029 kita harapkan sudah mencapai 0,80 sehingga masuk kategori hijau,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu Presly Tampubolon di Palu, Senin (27/7).

Ket. Foto: Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu Presly Tampubolon di Palu, Senin (27/7). — Sumber: antara foto

Menurut dia, IKD menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam menghadapi bencana melalui berbagai aspek, mulai dari penguatan organisasi, regulasi, pengetahuan masyarakat, hingga kemandirian dalam kesiapsiagaan.

Ia mengatakan IKD Kota Palu meningkat dari 0,73 pada 2024 menjadi 0,74 pada 2025. Angka tersebut terus didorong menuju 0,80 karena apabila berada pada rentang 0,80 hingga 1, suatu daerah masuk kategori hijau atau memiliki tingkat resiliensi yang lebih baik.

“Kalau indeks kita sudah 0,80 sampai 1 berarti kita sudah masuk kategori hijau atau resilient city. Jadi angka 0,74 menuju 0,80 inilah yang sedang kita kejar,” ujarnya.

Presly mengatakan peningkatan IKD dilakukan melalui tujuh sasaran prioritas, 71 indikator, dan 284 item kegiatan yang mencakup berbagai aspek kebencanaan.

Salah satu program yang terus diperkuat, kata dia, adalah edukasi mitigasi bencana sejak dini melalui simulasi dan sosialisasi di lingkungan sekolah.

BPBD Kota Palu telah melakukan simulasi dan sosialisasi kebencanaan sekitar 225 Taman Kanak-kanak (TK). Pada 2026 program tersebut fokus pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Dari sekitar 184 SD sederajat di Kota Palu, sekitar 60 sekolah telah mendapatkan simulasi dan sosialisasi.

Sementara itu terkait Indeks Risiko Bencana (IRB), dia menjelaskan Kota Palu sebelumnya memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.

Sejak 2015 bahkan sebelum periode tersebut, IRB Kota Palu tercatat berada pada angka 181,2 atau masuk kategori tinggi dan berada pada level merah.

Namun, kata dia, setelah berbagai upaya mitigasi, penanganan, serta program pengurangan risiko bencana dilakukan, saat ini angka tersebut mengalami penurunan menjadi 136.

“Tetapi tahun lalu kita sempat 113. Karena evaluasi baru dari BNPB satu tahun terakhir, ada pertambahan kenaikan indeks risiko kita karena ada jenis bencana yang ditambahkan,” katanya.

Ia menjelaskan salah satu jenis bencana yang sebelumnya belum masuk dalam perhitungan risiko adalah likuefaksi. Setelah kejadian gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018, ancaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perhitungan risiko bencana.

“Dulu sebelum 2018 dalam perhitungan risiko itu belum ada yang namanya likuefaksi. Setelah masuk, naiklah risiko kita karena ada jenis bencana yang ditambahkan,” ujarnya.

Meski demikian ia menegaskan pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan IKD Kota Palu agar mampu mencapai kategori hijau.

Selain edukasi dan sosialisasi kebencanaan, BPBD Kota Palu juga terus memperkuat regulasi serta mekanisme penanganan tanggap darurat agar terdapat keseragaman Standar Operasional Prosedur (SOP) di berbagai sektor.

Ia mengatakan penguatan kawasan rawan bencana juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana, terutama melalui penegasan kawasan yang tidak diperbolehkan untuk pembangunan hunian.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.