Budidaya Lebah Madu Lokal di Gorontalo Kian Berkembang, Ekonomi Warga Ikut Tumbuh.

Selasa, 28 Jul 2026, 11:57 WIB

Budidaya lebah madu lokal di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, mulai mendorong kesadaran warga menjaga populasi lebah sekaligus membuka peluang ekonomi melalui produksi madu hutan dan madu budidaya.

Pengelola Madu Asli Pangahu Sulastri Sude di Gorontalo, Senin, mengatakan usaha tersebut dirintis bersama suaminya, Sardiman, sejak 2021 karena khawatir populasi lebah madu lokal terus berkurang akibat pemusnahan oleh warga.

Ket. Foto: Pengelola Madu Asli Pangahu memanen madu dari koloni lebah budidaya di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Senin (27/7/2026). Budidaya lebah madu lokal tersebut dikembangkan untuk menjaga kelestarian populasi lebah sekaligus membuka peluang ekonomi melalui produksi madu budidaya dan madu hutan. — Sumber: Antara Foto

"Awalnya kami khawatir lebah lokal ini punah karena banyak yang dimusnahkan secara massal. Sekarang sudah mulai ada kesadaran warga untuk menjaga dan membudidayakan lebah," katanya.

Ia mengatakan perkembangan budidaya memang belum signifikan, namun sejak dirintis terdapat peningkatan sekitar 25 persen.

Warga yang sebelumnya memusnahkan lebah kini mulai melaporkan keberadaan koloni di kebun maupun rumah untuk dibudidayakan bersama.

Madu Asli Pangahu menghasilkan dua jenis produk, yakni Dorsata dan Cerana.

Dorsata merupakan madu hutan yang diperoleh langsung dari kawasan hutan maupun kebun warga, sedangkan Cerana merupakan madu hasil budidaya.

Madu Dorsata kemasan 50 mililiter dalam botol plastik dijual Rp25 ribu, sedangkan kemasan 100 mililiter dalam jar kaca berbentuk segi lima dan hexagonal dijual Rp65 ribu.

Sementara madu Cerana kemasan 50 mililiter dijual Rp35 ribu dan kemasan 100 mililiter dalam jar kaca berbentuk segi lima serta hexagonal dijual Rp75 ribu.

Sulastri mengatakan budidaya lebah madu memiliki prospek ekonomi yang baik. Namun, panen madu budidaya tidak dapat dilakukan setiap hari dan membutuhkan waktu minimal dua minggu setelah panen pertama.

"Kalau secara ekonomi bagus, tetapi panennya tidak bisa setiap hari. Minimal dua minggu sekali setelah panen pertama," ujarnya.

Untuk pemasaran, produk Madu Asli Pangahu saat ini masih didominasi konsumen di wilayah Gorontalo. Produk tersebut juga pernah dikirim ke sejumlah daerah, seperti Yogyakarta, Makassar, Surabaya, dan Jakarta.

Sulastri mengatakan pengembangan budidaya diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan produk madu, tetapi juga melestarikan populasi lebah, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lebah, serta membangun ekosistem bisnis berbasis komunitas.

Saat ini, Madu Asli Pangahu telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Sertifikasi halal masih dalam proses pengurusan, sementara izin Nomor Kontrol Veteriner (NKV) menunggu tersedianya ruang produksi yang memenuhi persyaratan.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap pengembangan budidaya lebah madu lokal, terutama untuk mendorong generasi muda ikut menjaga kelestarian lebah dan membantu memperluas jangkauan pemasaran produk.

"Kami berharap budidaya ini bisa menginspirasi banyak orang, terutama anak muda, untuk menjaga kelestarian lebah madu lokal dan membantu agar pemasaran produk bisa menjangkau konsumen lebih luas."

  • Budidaya lebah madu

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.