AS Perketat Blokade Iran, Kapal Tanker Diperiksa di Laut Arab

Senin, 27 Jul 2026, 01:00 WIB

New York – Militer Amerika Serikat (AS) kembali memperketat penegakan blokade maritim terhadap Iran dengan melakukan inspeksi terhadap sebuah kapal tanker berbendera Komoro di Laut Arab, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukan AS naik ke atas kapal tanker M/T Charminar untuk melakukan proses verifikasi sebelum kapal tersebut diizinkan melanjutkan pelayaran.

Ket. Foto: Cuplikan video Minggu (26/7) Komando Pusat AS (CENTCOM) menunjukkan operasi penegakan blokade angkatan lautnya terhadap Iran. — Sumber: AFP/Komando Pusat AS (CENTCOM)

"Hari ini, pasukan AS telah menyelesaikan proses verifikasi dengan naik ke atas kapal M/T Charminar berbendera Komoro di Laut Arab dan tanker tersebut kini telah melanjutkan perjalanannya," kata CENTCOM melalui akun X, Sabtu (25/7).

Dikutip dari Antara, CENTCOM juga mengklaim telah mengalihkan 12 kapal komersial yang disebut berupaya menembus blokade laut terhadap Iran.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Kamis (23/7) menyatakan Washington akan menggunakan aset-aset Iran yang dibekukan di bawah kendali AS untuk mengganti kerugian atas kerusakan kapal maupun muatan yang terjadi selama operasi militer di Selat Hormuz.

Padahal, AS dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. CENTCOM beralasan operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Presiden Trump selanjutnya menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.

Di tengah eskalasi tersebut, sejumlah media AS melaporkan Trump justru menunda rencana memperluas operasi militer terhadap Iran. The New York Times, mengutip sejumlah sumber internal pemerintah, menyebut keputusan itu dipengaruhi kekhawatiran Pentagon terhadap menipisnya persediaan rudal pertahanan udara Patriot dan amunisi strategis lainnya.

Sementara itu, Axiosmelaporkan militer AS tetap mematangkan berbagai opsi operasi berskala besar terhadap Iran, meski Trump belum mengeluarkan perintah resmi. Menurut laporan tersebut, Trump telah menghentikan gelombang serangan baru sejak Jumat (25/7), mengakhiri rentetan serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.

Selain persoalan stok persenjataan, para pejabat AS juga disebut mengkhawatirkan dampak geopolitik jika konflik terus meluas, mulai dari memburuknya hubungan dengan sekutu di Teluk Persia hingga potensi gangguan ekonomi global, krisis energi, dan migrasi.

Cadangan Rudal AS

Secara terpisah, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dilaporkan memperingatkan bahwa operasi militer skala besar memang memungkinkan dilakukan, tetapi berisiko menguras cadangan rudal pencegat milik AS.

Sejumlah pejabat di lingkaran pemerintahan Trump bahkan mempertanyakan efektivitas eskalasi militer. Salah satu sumber menilai serangan tambahan belum tentu mampu memaksa Iran kembali ke meja perundingan, bahkan berpotensi menyatukan dukungan domestik di Iran untuk menghadapi ancaman dari luar.

Di sisi lain, The New York Post melaporkan AS juga tengah mengkaji kemungkinan operasi militer darat untuk merebut persediaan uranium yang telah diperkaya dari fasilitas nuklir Iran.

"Saya benci mengatakannya, tetapi saya pikir cara terbaik untuk menyingkirkan material nuklir Iran, sekurangnya dengan apa yang mereka kuasai sekarang, adalah melalui operasi militer karena negosiasi saat ini mandek," kata seorang sumber militer kepada surat kabar tersebut.

Menurut laporan itu, operasi akan melibatkan ribuan personel militer AS yang bertugas mengamankan fasilitas nuklir Iran, membersihkan jalur masuk, menjinakkan jebakan, serta membentuk perimeter pertahanan sebelum pasukan khusus mengambil material uranium dari lokasi. Tahap tersebut disebut sebagai bagian paling berisiko dari keseluruhan operasi.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.