Ubah Sampah Jadi BBM, Masyarakat Berdaya di Bukit Imogiri Bantul

Sabtu, 25 Jul 2026, 16:07 WIB

YOGYAKARTA -- Deru mobil bak terbuka pengangkut sampah silih berganti memecah kesunyian perbukitan Imogiri, Kabupaten Bantul. Satu per satu kendaraan memasuki halaman Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah. Dari bak kendaraan, berkilo-kilogram sampah diturunkan untuk kemudian dipilah dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai.

Di area pengolahan, aktivitas berlangsung nyaris tanpa henti. Sejumlah pekerja memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sebagian lainnya menurunkan muatan dari truk, sementara yang lain mondar-mandir memanggul karung berisi sampah plastik. Masing-masing bekerja sesuai tugasnya, membentuk mata rantai pengelolaan sampah yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Ket. Foto: Anggota KSM Pilah Berkah Bantul tengah mengisi BBM di botol kaca yang diambil dari mesin pirolisis di KSM Pilah Berkah, Kabupaten Bantul, DIY, Kamis (18/6). — Sumber: ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Di bagian belakang bangunan, kepulan asap tipis keluar dari sebuah tungku berukuran besar. Di sanalah mesin pirolisis bekerja mengolah sampah plastik menjadi Petasol, bahan bakar alternatif yang menjadi inovasi terbaru KSM Pilah Berkah.

Perjalanan kelompok ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak berdiri pada 2017, KSM Pilah Berkah terus berupaya menjadi bagian dari solusi atas persoalan sampah di Bantul. Kini, perjuangan tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekaligus menghadirkan energi alternatif dari limbah plastik.

Berawal dari keresahan

KSM Pilah Berkah didirikan pada 2017 dengan mengusung konsep pengelolaan sampah berbasis rukun tetangga (RT) melalui program sedekah sampah. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 2021, kelompok tersebut mulai bertransformasi dengan menitikberatkan pada penguatan manajemen pengelolaan sampah.

Perubahan itu dilatarbelakangi banyaknya kelompok pengelola sampah yang berhenti beroperasi akibat tata kelola yang belum tertata dengan baik.

“Di KSM Pilah Berkah, saya menerapkan tata kelola pengelolaan sampah, baik untuk kawasan berbasis masyarakat maupun industri,” kata Konsultan Program Daur Ulang Sampah KSM Pilah Berkah, Arif Sholikin, Jumat (24/7).

Pada masa awal berdiri, kelompok tersebut hanya beranggotakan empat orang. Pemasukan pun nyaris belum ada sehingga para pengurus harus berjuang untuk mempertahankan keberlangsungan organisasi. Mitra pertama mereka hanya berada di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri. Kini, jaringan kemitraan tersebut telah berkembang hingga mencakup 10 kalurahan.

Selama bertahun-tahun, Arif bersama tim melakukan pendampingan secara intensif, mulai dari sosialisasi, pelatihan praktik pengelolaan sampah, pembentukan kelembagaan, hingga penyusunan sistem kerja. Seluruh upaya itu dilakukan untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Saat ini, sistem tersebut telah terintegrasi melalui aplikasi pelaporan sampah yang terhubung langsung dengan Waste Crisis Center Kementerian Lingkungan Hidup. Menurut Arif, pencatatan yang sistematis merupakan bagian penting dalam tata kelola pengelolaan sampah.

Dari semula hanya empat anggota, kini KSM Pilah Berkah memiliki 15 anggota yang sekaligus bekerja di dalam kelompok tersebut. Masing-masing memiliki tugas berbeda, mulai dari memilah sampah, menjadi sopir, juru masak, hingga mengoperasikan mesin pengolah Petasol. Seluruh aktivitas itu dipusatkan di Padukuhan Tegal, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.

“Rata-rata anggota merupakan warga sekitar,” katanya.

Mengubah sampah menjadi BBM

KSM Pilah Berkah lahir dari kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah yang mencemari lingkungan, mulai dari selokan dan sungai hingga bermuara ke laut. Selama bertahun-tahun, kelompok tersebut terus mencari cara agar sampah tidak hanya terserap, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Terutama sampah plastik yang menjadi momok di Bantul,” kata Arif.

Upaya tersebut memasuki babak baru sekitar pertengahan Juni 2026 ketika KSM Pilah Berkah menerima bantuan mesin pirolisis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui kerja sama dengan Pertamina Foundation.

Ketua KSM Pilah Berkah, Yekti Murwani, mengatakan mesin tersebut memungkinkan plastik yang sebelumnya tidak laku atau hanya memiliki nilai ekonomi rendah diubah menjadi Petasol, bahan bakar dengan karakteristik yang menyerupai solar.

Kelompok tersebut juga menjalin kerja sama dengan BRIN untuk menjadikan Petasol sebagai salah satu solusi dalam menangani sampah plastik bernilai ekonomi rendah. Hampir seluruh jenis plastik dapat diolah menggunakan mesin pirolisis, kecuali plastik jenis PET dan PVC.

Dalam sehari, mesin tersebut mampu mengolah sekitar 50 kilogram sampah plastik menjadi 40 hingga 45 liter Petasol.

“Setiap hari kami berproduksi, kecuali hari Minggu karena digunakan untuk perawatan mesin,” ujar Yekti.

Petasol kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan operasional KSM Pilah Berkah, mulai dari menggerakkan mesin pengolah sampah dan genset hingga mengoperasikan truk pengangkut sampah.

“Kami gunakan untuk mesin, genset, dan truk pengangkut sampah,” katanya.

Secara ekonomi, nilai tambah yang dihasilkan cukup signifikan. Sebelumnya, sampah plastik bernilai rendah hanya dihargai sekitar Rp600 hingga Rp1.000 per kilogram. Setelah diolah menjadi Petasol, nilai ekonominya meningkat menjadi sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per liter.

Dukungan pemerintah

Pada pertengahan Juni 2026, BRIN bersama Pertamina Foundation dan Pemerintah Kabupaten Bantul menyerahkan satu unit mesin pirolisis kepada KSM Pilah Berkah.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengatakan keberadaan mesin tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang mencapai sekitar 31 persen dari total produksi sampah harian di Bantul.

“Jika setiap hari sekitar 600 ton sampah diproduksi di Bantul, sekitar 180 ton di antaranya merupakan sampah plastik,” katanya.

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul berencana memperbanyak mesin pirolisis agar dapat dimanfaatkan oleh kelompok pengelola sampah lainnya.

“Ini kan baru demplot di KSM Pilah Berkah Imogiri. Nanti, insya Allah, akan kita kembangkan di KSM-KSM yang lain,” kata Halim.

Menurut Halim, teknologi pirolisis tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil melalui penyediaan bahan bakar alternatif.

Perwakilan BRIN, Heru Susanto, mengatakan inovasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk mencari solusi atas persoalan sampah plastik di Bantul. Selain mengurangi timbunan sampah, teknologi pirolisis juga meningkatkan nilai ekonomi plastik residu yang selama ini kurang diminati pelaku daur ulang.

Pirolisis merupakan proses penguraian limbah plastik melalui pemanasan bersuhu tinggi di dalam reaktor tertutup tanpa oksigen. Proses tersebut menghasilkan minyak cair yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, seperti solar atau bensin.

“Karena plastik asalnya dari minyak bumi, maka kita kembalikan lagi menjadi minyak bumi,” katanya.

Menurut Heru, biaya produksi Petasol berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter. Dengan harga jual internal sekitar Rp10.000 per liter, setiap liter mampu menghasilkan keuntungan sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000.

“Untungnya Rp6.000 sampai Rp7.000 per liter, sedangkan sehari bisa menghasilkan 40 sampai 45 liter dari 50 kilogram plastik. Tinggal dikalikan saja,” ujarnya.

Perjalanan KSM Pilah Berkah menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di tangan masyarakat yang memiliki kemauan untuk berinovasi, limbah yang semula dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sumber energi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.