Bangkit Lagi! KKP Kebut Rehabilitasi 15.000 Hektare Tambak Aceh Pascabencana

Sabtu, 25 Jul 2026, 11:02 WIB

ACEH - Produktivitas tambak di Aceh yang sempat terhenti akibat bencana hidrologi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini mempercepat rehabilitasi kawasan tambak agar para petambak bisa kembali berbudidaya dan menggerakkan ekonomi pesisir.

Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha mengatakan, pemerintah menargetkan 15.000 hektare tambak di Aceh kembali beroperasi hingga akhir 2026. Dalam tahap awal, seluas kurang lebih 5.200 hektare tambak ditargetkan operasional kembali paling lambat September 2026.

Ket. Foto: Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Andy Artha saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Jumat (24/7) — Sumber: istimewa

Menurut Andy, pemulihan tidak berhenti pada perbaikan tambak yang rusak. Setelah rehabilitasi selesai, pemerintah langsung menyalurkan benih dan pakan agar petambak bisa segera memulai kembali aktivitas budidaya. Sinergi KKP dengan pemerintah daerah serta dukungan Komisi IV DPR RI menjadi salah satu kunci percepatan pemulihan ini.

"Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya," ujar Andy saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Jumat (24/7).

Hingga saat ini, seluas 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin. Pemerintah optimistis luasan tersebut akan terus bertambah seiring percepatan rehabilitasi di berbagai wilayah terdampak.

Untuk mendukung percepatan pemulihan, KKP juga menyalurkan 12 unit excavator ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Delapan unit di antaranya difokuskan untuk mempercepat rehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.

Selain memperbaiki infrastruktur tambak, pemerintah juga memperkuat sektor perikanan tangkap dengan memberikan bantuan mesin kapal serta 100 unit coolbox berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Andy mengungkapkan, berdasarkan teknologi tradisional plus yang dilakukan masyarakat saat ini, setiap hektare tambak yang dioperasionalkan kembali oleh masyarakat diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang per hektare dalam satu siklus budidaya. Dengan harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam 3 bulan.

"Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari selesainya rehabilitasi, tetapi dari kemampuan petambak kembali bekerja dan memperoleh pendapatan," katanya.

Percepatan rehabilitasi dilakukan melalui refokusing anggaran internal KKP agar masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi anggaran rehabilitasi yang masih berjalan. Pemerintah juga memastikan seluruh bantuan diberikan tanpa dipungut biaya.

Hidupkan Ekonomi Pesisir

Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid mengapresiasi langkah cepat KKP yang dinilai mampu mempercepat kebangkitan sektor budidaya di Aceh. Menurutnya, apabila hanya mengandalkan anggaran rehabilitasi yang masih dalam proses administrasi, pemulihan tambak berpotensi mengalami keterlambatan.

“KKP mengambil langkah yang sangat cepat dengan melakukan refocusing anggaran internal, ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana,” kata TA Khalid.

Di sisi lain, para petambak mulai merasakan manfaat program tersebut. Fazil, petambak asal Pidie Jaya, mengaku bantuan benih dan pakan menjadi modal penting untuk kembali menjalankan usaha setelah tambaknya terdampak bencana. 

"Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen," ujarnya.

Melalui rehabilitasi yang dilakukan secara bertahap, KKP berharap produktivitas tambak di Aceh dapat kembali meningkat, sekaligus menghidupkan lagi roda ekonomi masyarakat pesisir yang sempat terpuruk akibat bencana.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.