• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Misi yang Diwariskan dari ...

Misi yang Diwariskan dari Kakek ke Cucu

Kamis, 23 Jul 2026, 07:12 WIB

Di DALAM sebuah ruang kendali bersuhu sejuk di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, monitor-monitor komputer menampilkan garis-garis kode bernuansa hijau pudar. Kode-kode itu tampak begitu kuno, kontras dengan layar sentuh dan teknologi modern yang biasa kita temui hari ini.

Namun, dari ruangan inilah sekelompok kecil ilmuwan dan insinyur mengirimkan perintah ke tepi antariksa. Yang mereka ajak “bicara” bukan satelit baru, melainkan Voyager 1 dan Voyager 2—dua penjelajah besi yang diluncurkan pada tahun 1977, masa ketika lagu-lagu ABBA sedang berada di puncak tangga lagu dan komputer pribadi masih menjadi barang langka.

Ket. Foto: Peluncuran Voyager 1 (kiri) dan ilustrasi Voyager 1 — Sumber: Dok NASA

Hampir lima dekade berlalu, Voyager kini berada puluhan miliar kilometer dari Bumi. Namun, keajaiban sejati dari misi ini bukan hanya fakta bahwa wahananya masih bergerak. Keajaiban itu ada di dalam ruangan kendali: orang-orang yang menjaganya kini adalah generasi yang bahkan belum lahir saat Voyager pertama kali meluncur ke langit.

Ketika sebagian besar insinyur asli perancang Voyager mulai memasuki masa pensiun pada akhir 1990-an dan 2000-an, NASA menyadari sebuah tantangan unik. Voyager tidak bisa dikendalikan dengan bahasa pemrograman modern seperti Python atau C++. Wahana tua ini digerakkan oleh bahasa Assembly dan FORTRAN yang ditulis pada era 1970-an, tersimpan dalam memori komputer sebesar 68 kilobita—jauh lebih kecil daripada ukuran satu foto resolusi rendah di smartphone Anda.

“Mengendalikan Voyager itu seperti menjadi seorang arkeolog digital,” ungkap salah satu insinyur muda tim Voyager. “Kami tidak cuma belajar cara kerja wahana antariksa, tapi kami juga harus belajar cara berpikir para insinyur senior di tahun 1970-an.”

Untuk menjaga agar sinyal tidak terputus, manual operasional dan catatan bertuliskan tangan yang sudah menguning dari para insinyur perintis diwariskan bak “kitab kuno”. Informasi tentang bagaimana cara menghemat daya listrik plutonium (RTG) hingga trik mengakali komputernya yang sering kali lupa ingatan (glitch) diajarkan secara intensif dari senior ke junior, menciptakan tradisi estafet pengetahuan yang tak tertulis di buku teks manapun.

Estafet Antar-Generasi

Bagi para ilmuwan muda yang bergabung dalam tim Voyager, pekerjaan ini memiliki dimensi emosional yang mendalam. Kebanyakan dari mereka tumbuh besar dengan cerita-cerita kehebatan foto Pale Blue Dot atau mitos tentang Golden Record—piringan emas berisi suara Bumi yang dibawa Voyager.

Kini, merekalah yang memegang kendali. Ketika Voyager mengalami gangguan komunikasi serius, seperti yang terjadi saat sistem komputernya mengirimkan kode acak tanpa arti, para insinyur generasi baru inilah yang bergadang semalaman. Mereka membedah arsitektur memori buatan dekade 70-an, mencari tahu jalur sirkuit yang rusak, dan secara telaten mengirimkan “tambalan” kode baru dari jarak miliaran kilometer.

Ada rasa hormat yang mendalam dalam pekerjaan ini. Mereka tahu bahwa setiap perintah yang diketik hari ini adalah kelanjutan dari mimpi yang dimulai oleh generasi orang tua atau bahkan kakek-nenek mereka.

Kini, tugas terbesar generasi penerus ini bukanlah memetakan planet baru, melainkan menjadi penjaga takdir. Setiap tahun, daya listrik Voyager terus meredup. Tugas tim muda ini adalah mengambil keputusan-keputusan dingin namun puitis: mematikan pemanas instrumen satu per satu demi memperpanjang masa pakai baterai radioaktifnya.

Mereka sadar bahwa dalam beberapa tahun ke depan, di bawah pengawasan merekalah, sinyal terakhir Voyager akan benar-benar padam ketika energinya habis total. Namun, tidak ada rasa sedih di ruang kendali JPL.

Bagi para insinyur lintas generasi ini, Voyager telah mengajarkan arti sejati dari pengabdian sains. Saat sinyal itu akhirnya terputus nanti, tugas mereka menjaga wahana ini selesai. hay

  • Voyager 1

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.