• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hampir 50 Tahun Menjelajah...

Hampir 50 Tahun Menjelajah, Voyager 1 Segera Mencapai Jarak Satu Hari Cahaya dari Bumi

Kamis, 23 Jul 2026, 07:22 WIB

HAMPIR setengah abad setelah diluncurkan, wahana antariksa Voyager 1 terus melaju menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 61.100 kilometer per jam. Namun, meski telah menempuh perjalanan luar biasa panjang sejak 1977, wahana antariksa milik NASA itu ternyata baru akan mencapai tonggak sejarah baru pada akhir 2026.

Pada masa itu, wahana ini akan berjarak satu hari cahaya dari Bumi atau mencapai jarak sekitar 25,9 miliar kilometer dari Bumi pada 18 November 2026 pukul 02.16 waktu Pasifik Amerika Serikat (PST). Jarak tersebut setara dengan jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu 24 jam.

Ket. Foto: Wahana antariksa kembar Voyager milik NASA, yang diluncurkan pada tahun 1977, sedang melaju melalui ruang antarbintang dengan kecepatan sekitar 35.000 mph (56.000 kph). — Sumber: Sumber: NASA/JPL-Caltech

Dengan demikian, Voyager 1 akan menjadi objek buatan manusia pertama yang mencapai jarak satu hari cahaya dari Bumi. Pencapaian ini sekaligus memperpanjang daftar tonggak sejarah yang telah ditorehkan wahana antariksa tersebut selama hampir lima dekade menjelajah Tata Surya dan ruang antarbintang.

Voyager 1 diluncurkan NASA pada 5 September 1977, membawa misi awal yang sebenarnya jauh lebih sederhana dibandingkan perjalanan panjang yang akhirnya ditempuhnya. Wahana ini dirancang untuk melakukan penerbangan lintas dekat (flyby) terhadap Yupiter dan Saturnus, dua planet raksasa di bagian luar Tata Surya.

Voyager 1 berhasil mencapai Yupiter pada 1979 dan kemudian melintas dekat Saturnus pada 1980. Dalam perjalanan tersebut, wahana ini mengirimkan berbagai data ilmiah dan gambar yang membantu manusia memahami lebih jauh tentang planet-planet raksasa, atmosfernya, sistem cincin, serta satelit-satelit alami yang mengitarinya.

Setelah menyelesaikan misi utamanya, Voyager 1 tidak berhenti. Wahana tersebut terus bergerak menjauh dari Matahari dan Bumi. Berkat lintasan yang diperoleh dari manuver gravitasi di sekitar planet-planet raksasa, Voyager 1 mampu melanjutkan perjalanan menuju wilayah terluar Tata Surya.

Pada 2012, NASA mengumumkan bahwa Voyager 1 telah memasuki ruang antarbintang (interstellar space). Wahana ini menjadi objek buatan manusia pertama yang diketahui telah meninggalkan heliosfer, yaitu gelembung raksasa yang dibentuk oleh angin Matahari dan medan magnet Matahari yang melindungi Tata Surya dari sebagian lingkungan ruang antarbintang.

Voyager 2 kemudian menyusul dan secara resmi memasuki ruang antarbintang pada tahun 2018. Keduanya hingga kini menjadi satu-satunya wahana antariksa yang pernah beroperasi di luar heliosfer—gelembung raksasa di ruang angkasa yang “ditiup” oleh angin Matahari dan menyelubungi seluruh Tata Surya.

Arti Jarak Satu Hari Cahaya

Secara sederhana, satu hari cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu hari. Mengingat cahaya bergerak dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik, dalam 24 jam cahaya dapat menempuh jarak sekitar 25,9 miliar kilometer.

Angka tersebut sulit dibayangkan jika dibandingkan dengan jarak yang biasa digunakan manusia. Sebagai gambaran, jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari hanya sekitar 150 juta kilometer. Cahaya Matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai Bumi. Artinya, jarak satu hari cahaya kira-kira setara dengan lebih dari 170 kali jarak rata-rata Bumi-Matahari.

Bagi Voyager 1, perjalanan sejauh itu membutuhkan waktu hampir lima dekade. Namun, ada alasan lain mengapa pencapaian ini menarik. Jarak tersebut juga secara langsung memengaruhi komunikasi antara wahana antariksa dan pengendali misi di Bumi.

Sinyal radio yang dikirimkan dari Bumi ke Voyager 1 membutuhkan waktu sekitar satu hari untuk mencapai wahana tersebut. Begitu pula sebaliknya. Artinya, komunikasi dua arah akan membutuhkan waktu hampir 48 jam.

Manajer proyek Voyager di Jet Propulsion Laboratory (JPL), Suzy Dodd, menggambarkan situasi tersebut sebagai komunikasi dengan jeda yang sangat panjang. Jika sebuah perintah dikirimkan kepada Voyager 1 pada pukul 08.00 Senin pagi, respons dari wahana itu baru dapat diterima di Bumi sekitar pukul 08.00 Rabu pagi.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata betapa jauhnya Voyager 1 dari planet asalnya. Komunikasi tersebut juga tidak dilakukan melalui jaringan komunikasi biasa. NASA mengandalkan sistem antena radio berukuran besar dalam Deep Space Network (DSN) untuk berkomunikasi dengan wahana antariksa yang berada sangat jauh dari Bumi.

Semakin jauh Voyager 1 bergerak, semakin lemah pula sinyal yang diterima di Bumi. Karena itu, komunikasi dengan wahana ini membutuhkan sistem antena yang sangat sensitif dan pemrosesan sinyal yang canggih.

Terus Menjelajah

Salah satu aspek paling mengesankan dari Voyager 1 adalah usia operasionalnya. Ketika diluncurkan pada 1977, teknologi komputer dan sistem elektronik yang dibawanya tentu jauh berbeda dengan perangkat modern. Namun, wahana yang ukurannya kurang lebih sebesar mobil kecil itu mampu bertahan selama puluhan tahun di lingkungan ekstrem ruang angkasa.

Voyager 1 tidak menggunakan panel surya seperti banyak wahana antariksa modern. Energinya berasal dari radioisotope thermoelectric generator (RTG) yang memanfaatkan panas dari peluruhan radioaktif plutonium untuk menghasilkan listrik.

Namun, sumber energi ini terus mengalami penurunan daya seiring waktu. Setiap tahun, jumlah listrik yang tersedia semakin berkurang. NASA pun harus mengambil keputusan sulit untuk mematikan sejumlah sistem dan instrumen secara bertahap agar energi yang tersisa dapat digunakan untuk mempertahankan fungsi paling penting.

Strategi ini memungkinkan Voyager 1 terus berkomunikasi dengan Bumi selama mungkin. Sejumlah instrumen ilmiah telah dimatikan secara bertahap. Pada tahap akhir masa operasinya, hanya beberapa instrumen yang masih dipertahankan untuk mengumpulkan data mengenai lingkungan antarbintang.

Di antara instrumen yang masih digunakan adalah magnetometer, yang berfungsi mengukur medan magnet, serta plasma wave subsystem, yang mendeteksi gelombang plasma dan fenomena elektromagnetik di ruang antarbintang. Data dari instrumen tersebut memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari lingkungan di luar heliosfer secara ­langsung.

NASA memperkirakan Voyager 1 masih dapat berkomunikasi dengan Bumi hingga sekitar awal dekade 2030-an. Setelah itu, daya listrik yang dihasilkan RTG diperkirakan turun di bawah batas minimum yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem wahana.

Namun, berakhirnya komunikasi bukan berarti perjalanan Voyager 1 selesai. Wahana tersebut akan tetap melaju dalam ruang antarbintang, membawa jejak peradaban manusia menuju masa depan yang sangat jauh.

Voyager Buka Jendela Baru

Selama perjalanan panjangnya, Voyager 1 dan Voyager 2 telah menghasilkan sejumlah penemuan penting dalam ilmu keplanetan. Keduanya memberikan gambaran detail tentang Yupiter dan Saturnus, termasuk atmosfer, badai, medan magnet, cincin planet, serta berbagai satelit alami.

Voyager 1 juga membantu memperluas pemahaman manusia tentang Titan, satelit terbesar Saturnus yang memiliki atmosfer tebal dan kemudian diketahui memiliki lingkungan yang sangat menarik bagi penelitian planetologi.

Sementara itu, Voyager 2 melanjutkan perjalanan ke Uranus dan Neptunus, menjadikannya satu-satunya wahana antariksa yang pernah melakukan penerbangan dekat terhadap kedua planet tersebut. Kombinasi data dari kedua wahana membuat misi Voyager menjadi salah satu program eksplorasi ruang angkasa paling produktif dalam sejarah.

Yang menarik, misi tersebut pada awalnya tidak dirancang untuk berlangsung selama hampir 50 tahun. Voyager justru menjadi contoh bagaimana sebuah misi ilmiah dapat berkembang jauh melampaui tujuan awalnya. Dari misi eksplorasi planet raksasa, Voyager berubah menjadi ekspedisi manusia menuju batas Tata Surya dan ruang antarbintang.

“Foto Keluarga” Tata Surya dari Jarak Jauh

Salah satu gambar paling ikonik yang dihasilkan Voyager 1 adalah “Pale Blue Dot”, foto Bumi yang diambil dari jarak sekitar 6 miliar kilometer pada 1990. Dalam foto tersebut, Bumi terlihat sebagai titik kecil yang nyaris tidak berarti di tengah luasnya ruang angkasa.

Gambar dari jarak jauh itu kemudian menjadi salah satu simbol paling kuat tentang posisi manusia di alam semesta. Dari perspektif Voyager, planet tempat seluruh sejarah manusia berlangsung tampak sangat kecil.

Foto tersebut juga menjadi pengingat bahwa eksplorasi ruang angkasa bukan hanya tentang menemukan planet baru atau mengumpulkan data ilmiah, tetapi juga tentang melihat kembali rumah manusia dari perspektif kosmik.

Pesan Manusia untuk Peradaban Lain

Voyager 1 dan Voyager 2 juga membawa benda yang mungkin akan bertahan jauh lebih lama daripada usia operasional kedua wahana tersebut. Keduanya membawa Golden Record, cakram berlapis emas yang dirancang sebagai pesan untuk siapa pun yang mungkin menemukan wahana tersebut di masa depan.

Cakram itu memuat berbagai suara, gambar, musik, dan salam dari Bumi. Terdapat salam dalam lebih dari 50 bahasa, rekaman suara alam seperti hujan dan ombak laut, serta berbagai karya musik yang dipilih untuk merepresentasikan kehidupan dan kebudayaan manusia.

Salah satu musik yang tercantum adalah bagian pertama dari Simfoni No. 5 karya Ludwig van Beethoven. Ada pula lagu “Johnny B. Goode” karya Chuck Berry. Selain itu, Golden Record memuat informasi ilmiah dan sebuah peta pulsar. Peta tersebut dirancang untuk membantu pihak yang menemukan cakram memahami lokasi asal wahana, yakni Bumi. Pesan yang dibawa Voyager juga mencerminkan optimisme manusia pada masa ketika wahana tersebut diluncurkan.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Jimmy Carter, menyampaikan pesan yang pada intinya menggambarkan Golden Record sebagai representasi suara, ilmu pengetahuan, gambar, musik, pikiran, dan perasaan dari sebuah dunia kecil yang jauh. Pesan tersebut juga menyimpan harapan bahwa suatu hari manusia dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya dan bergabung dengan komunitas peradaban lain di alam semesta.

Ketika Voyager 1 akhirnya mencapai jarak satu hari cahaya dari Bumi, cahaya yang bergerak dari planet kita membutuhkan waktu satu hari penuh untuk menyusulnya. Bagi manusia, itu adalah jarak yang hampir tak terbayangkan. Wahana ini hanyalah satu lagi tonggak dalam perjalanan panjangnya menuju ruang antarbintang yang nyaris tak berujung. hay

  • Voyager 1

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.