BI Prediksi The Fed Naikkan Bunga Lagi, Rupiah Terancam Tertekan

Senin, 28 Sep 2026, 19:00 WIB

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memproyeksikan bank sentral AS atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada triwulan IV 2026.

Sebagaimana diketahui,The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada Rabu, 16 September 2026 waktu AS.

Ket. Foto: Gubernur BI Destry Damayanti (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026). — Sumber: ANTARA/ Dhemas Reviyanto

"Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV," kata Destry dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9).

Destry menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya.

Indeks dolar AS (DXY) tercatat mencapai 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang negara Asia mencapai 96,26.

Penguatan dolar AS itu juga berdampak terhadap aliran modal di negara berkembang (emerging market). Arus modal dari yang tadinya terparkir di negara berkembang, kembali beralih ke negara-negara maju, khususnya AS.

Selain itu, Destry menerangkan kecenderungan kenaikan suku bunga acuan The Fed juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan inflasi global.

Ia mencatat inflasi global saat ini telah mencapai 4,6 persen.

Menurut dia, peningkatan inflasi tersebut turut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas energi di tengah konflik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dunia, terutama di kawasan Timur Tengah.

"Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai 125,53 dolar AS per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran 90,88 dolar AS per barel ," ujar Destry.

Adapun Destry menilai prospek ekonomi global pada 2026 memang masih menghadapi tantangan. Namun, kondisi tersebut diperkirakan membaik pada 2027.

"Kalau kita juga akan melihat bahwa data ini juga menggambarkan mungkin secara sekilas saja saya gambarkan bahwa prospek ekonomi 2026 ini secara global itu memang agak gloomy, namun demikian di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan," katanya.

Di tengah kondisi itu, BI menyatakan komitmennya untuk menjaga kebijakan moneter untuk mendukung stabilitas eksternal.

"Kebijakan moneter akan lebih pro stability, lainnya kita arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Destry menegaskan.

  • suku bunga the fed

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.