Perempuan Perlu Kenali Tanda-Tanda Perimenopause Sejak Dini, Ini Alasannya

Senin, 20 Jul 2026, 18:08 WIB

JAKARTA – Memasuki usia 40-an, banyak perempuan mulai mengalami berbagai perubahan pada tubuh, mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur, gangguan tidur, mudah lelah, perubahan suasana hati, hingga kenaikan berat badan. Sayangnya, perubahan tersebut kerap diabaikan karena perempuan lebih fokus menjalankan berbagai peran sebagai ibu, istri, maupun profesional.

Untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan perempuan di fase tersebut, Primaya Hospital menggelar seminar bertajuk "Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause" pada 18 Juli 2026. Kegiatan ini diselenggarakan bersama Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli dengan menghadirkan dokter spesialis dari berbagai bidang serta praktisi yang membahas perimenopause secara komprehensif.

Ket. Foto: Dari kiri, Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli; Leona A. Karnali, CFA, FRM, CEO Primaya Hospital Group; Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA; dan Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, berfoto bersama dalam seminar "Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause" di Jakarta pada (18/7). — Sumber: Primaya Hospital Group

Seminar tersebut mengangkat berbagai aspek yang berkaitan dengan perimenopause, mulai dari perubahan hormon, kesehatan fisik dan mental, nutrisi, kesehatan kulit, olahraga, hingga pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan agar perempuan dapat menjalani masa transisi ini dengan lebih sehat dan percaya diri.

Perimenopause Berdampak pada Banyak Aspek Kesehatan

Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang umumnya terjadi pada usia 40 hingga 50 tahun. Pada periode ini, kadar hormon estrogen dan progesteron mulai berfluktuasi sehingga memengaruhi berbagai fungsi tubuh, tidak hanya sistem reproduksi.

Perubahan hormonal tersebut dapat berdampak pada kesehatan tulang dan otot, metabolisme tubuh, kualitas tidur, kesehatan mental, fungsi kandung kemih, hingga kondisi kulit dan rambut. Fase ini juga bertepatan dengan masa ketika banyak perempuan berada pada puncak karier sekaligus memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga.

CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, mengatakan perempuan membutuhkan pendampingan kesehatan yang menyeluruh selama menjalani perimenopause.

“Perimenopause merupakan proses alami yang tidak seharusnya dijalani dengan rasa tidak nyaman. Banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan yang mereka alami merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola melalui edukasi dan penanganan medis yang tepat,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (20/7).

Ia menekankan bahwa perempuan tidak perlu merasa cemas secara berlebihan ataupun melakukan pengobatan yang tidak diperlukan. Yang lebih penting adalah memahami kapan harus berkonsultasi dengan tenaga medis agar penanganan dapat dilakukan pada waktu yang tepat.

Hampir Sepertiga Kehidupan Perempuan Dijalani Setelah Menopause

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa rata-rata perempuan mulai memasuki fase perimenopause pada usia sekitar 47,5 tahun, sedangkan menopause umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun.

Dengan angka harapan hidup perempuan yang mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga kehidupannya akan dijalani pada fase klimakterik atau setelah memasuki masa menopause. Karena itu, pemahaman mengenai perubahan tubuh selama masa transisi tersebut menjadi sangat penting agar perempuan dapat menjaga kualitas hidupnya dalam jangka panjang.

Pendekatan Multidisiplin untuk Mengatasi Gejala

Dalam seminar tersebut, para dokter menekankan bahwa keluhan selama perimenopause dapat ditangani melalui pendekatan medis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dokter spesialis akupunktur medik, dr. Feliani, Sp.Ak, menjelaskan bahwa akupunktur medis modern dapat menjadi salah satu terapi pendukung untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh serta mengembalikan vitalitas selama masa perimenopause.

Selain itu, aspek nutrisi juga menjadi perhatian utama. Dokter spesialis gizi klinik Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK mengingatkan pentingnya menerapkan pola makan bergizi seimbang guna menjaga metabolisme tubuh, mempertahankan massa otot, sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis yang meningkat pada masa perimenopause.

Perubahan Hormon Juga Memengaruhi Kulit dan Rambut

Dokter spesialis kulit dan kelamin Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan bahwa penurunan hormon estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin ikut berkurang.

Akibatnya, kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan elastisitas. Bahkan, sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, kemudian terus berkurang sekitar dua persen setiap tahun.

Selain kulit, rambut juga mengalami perubahan karena fase pertumbuhannya menjadi lebih pendek sehingga rambut tampak semakin tipis. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dikelola melalui perawatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Pandangan serupa disampaikan President Director Martha Tilaar SPA, Wulan Maharani Tilaar, yang mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai momentum untuk merawat diri secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan fisik maupun kesejahteraan mental.

Aktivitas Fisik dan Kesehatan Mental Tak Boleh Diabaikan

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan bahwa sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Karena itu, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap dinilai penting untuk menjaga kekuatan otot, mempertahankan kesehatan tulang, serta membantu mengurangi berbagai gejala yang muncul selama perimenopause.

Di sisi lain, dokter spesialis kejiwaan dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc menyoroti tantangan kesehatan mental yang sering muncul pada masa tersebut. Menurutnya, perubahan suasana hati bukan terjadi tanpa alasan, melainkan merupakan respons alami terhadap perubahan hormon yang sering berlangsung bersamaan dengan tekanan kehidupan, seperti tuntutan pekerjaan, anak yang mulai mandiri, orang tua yang menua, hingga perubahan hubungan sosial.

Ia menyarankan perempuan menerapkan metode STOP, yaitu Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu, sebagai cara sederhana untuk mengelola stres. Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, perempuan dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.

" Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit," ujarnya. 

Pentingnya Dukungan Lingkungan dan Edukasi Terbuka

Seminar ini juga menghadirkan pengalaman langsung dari perempuan yang pernah menjalani perimenopause. CEO & Co-Founder Yoona Women, Susanna Angraini, menilai isu perimenopause masih sering dianggap tabu sehingga banyak perempuan enggan membicarakan perubahan yang dialaminya.

Menurutnya, keterbukaan dalam berbagi pengalaman akan membantu lebih banyak perempuan memahami kondisi tubuh mereka serta tidak merasa menghadapi fase tersebut sendirian.

Sementara itu, COO & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo, mengajak perempuan melihat perimenopause sebagai fase kehidupan yang tetap memungkinkan mereka berkarya dan berkembang.

Ia menilai pemahaman mengenai perubahan biologis, seperti menurunnya konsentrasi, perubahan suasana hati, atau brain fog, dapat membantu perempuan beradaptasi tanpa terus menyalahkan diri sendiri.

Melalui seminar ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan perimenopause secara terbuka, mengenali berbagai perubahan tubuh sejak dini, serta memperoleh pendampingan medis yang tepat sehingga tetap sehat, aktif, dan produktif di setiap fase kehidupan.

  • nutrisi
  • Kesehatan Kulit
  • menopause
  • Olahraga
  • Kesehatan Mental
  • kesehatan tulang
  • Primaya Hospital
  • Kesehatan Perempuan
  • Perimenopause
  • Hormon Perempuan
  • Gejala Perimenopause
  • Akupunktur Medis

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.