Ancaman Kekeringan Meningkat, Mentan Kirim 7.000 Pompa Air ke Jawa Tengah
Senin, 20 Jul 2026, 16:35 WIBBrebes â Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan 7.000 unit pompa air untuk membantu petani di Jawa Tengah menghadapi ancaman kekeringan selama musim kemarau tahun ini. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air irigasi sekaligus mempertahankan produktivitas pertanian di provinsi yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
"Pompa dan irpom (irigasi perpompaan), bantu semuanya. Jangan sampai petani Jateng kekurangan pompa dan kekurangan air," kata Mentan Amran Sulaiman saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan peternakan sapi perah terpadu di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Senin (20/7).
Amran mengatakan Kementerian Pertanian tidak hanya menyalurkan pompa air, tetapi juga akan memberikan bantuan benih padi dan jagung serta alat dan mesin pertanian, termasuk traktor, guna menjaga produksi pangan.
"Sudah ada 2.000 pompa itu sudah sampai belum? Nanti aku tambah lagi lima ribu. Jadi sekarang 7.000 dulu. Air merupakan salah satu faktor penting agar produktivitas petani tetap terjaga," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Amran mengapresiasi kinerja Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang dinilai berhasil menjaga sektor pertanian sehingga Jawa Tengah menjadi penyumbang produksi beras terbesar kedua di Indonesia.
"Pak Gubernur Ahmad Luthfi ini hebat, penopang pangan Indonesia. Beliau itu rajin sekali dan saya lihat kerja beliau itu, Jawa Tengah penghasil beras nomor dua sekarang," kata Amran.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan produksi padi provinsinya pada 2025 mencapai 9,7 juta ton, atau sekitar 15,6 persen dari kebutuhan beras nasional. Pemerintah pusat menargetkan produksi meningkat menjadi 10,5 juta ton pada 2026.
Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota dan Kementerian ATR/BPN berkomitmen menjaga keberadaan lahan sawah yang dilindungi agar tidak beralih fungsi.
"Jawa Tengah merupakan lumbung pangan nasional sehingga lahan pertaniannya harus kita pertahankan. Oleh karena itu kami mohon agar diberikan bantuan pompa air untuk Jateng guna menjaga provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional," kata Ahmad Luthfi.
Konservasi Air
Di sisi lain, ancaman kekeringan akibat musim kemarau juga menjadi perhatian kalangan akademisi. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ani Hairani, mengingatkan pentingnya konservasi air sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi krisis air bersih.
Menurut Ani, masyarakat dapat mulai menerapkan upaya sederhana seperti membangun lubang biopori, sumur resapan, hingga sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting) agar cadangan air tanah tetap terjaga selama musim kemarau.
"Konservasi air dapat dimulai dari lingkungan rumah. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, tetapi diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan," ujarnya.
Ia menjelaskan ancaman kekeringan kini tidak hanya dipengaruhi rendahnya curah hujan, tetapi juga diperparah perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan air. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan musim kemarau semakin panjang dan mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat maupun sektor pertanian.
Ani juga mengingatkan tiga jenis kekeringan yang perlu diwaspadai, yakni kekeringan meteorologis akibat minimnya curah hujan, kekeringan hidrologis yang ditandai menurunnya cadangan air tanah, serta kekeringan pertanian yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan.
- provinsi jawa tengah
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.