Delta Mahakam, Perairan dan Hutan Mangrove yang Kaya Kehidupan
Jumat, 02 Okt 2026, 07:27 WIBDELTA Mahakam yang berbentuk seperti kipas menjadi destinasi bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. Jauh dari keramaian, menjelajahi lanskap perairan daratan rendah menawarkan sudut pandang yang lebih intim terhadap kekayaan hayati Nusantara.
Menghadap ke arah Selat Makassar di Kalimantan Timur, destinasi ini menawarkan pesona kehidupan rawa dengan berbagai tumbuhan mangrove. Berada di bagian paling hilir Sungai Mahakam, kawasan ini memiliki bentang alam yang terbentuk dari interaksi antara aliran sungai, sedimentasi, pasang surut laut, serta pertumbuhan vegetasi pesisir.
Proses tersebut menciptakan lanskap yang khas. Daratan dan perairan saling berkelindan dalam bentuk sungai, kanal, rawa, pulau-pulau kecil, dan kawasan mangrove. Dari udara, jaringan perairan tersebut terlihat seperti urat-urat yang rumit membelah hamparan hijau.
Karakter inilah yang membuat Delta Mahakam menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi alam yang lebih populer. Wisatawan tidak datang untuk menaklukkan medan atau mengejar banyak atraksi dalam satu hari, melainkan mengikuti alur sungai dan membiarkan lanskap alam menjadi bagian utama dari perjalanan.
Labirin Hijau
Perjalanan menjelajahi Delta Mahakam umumnya dilakukan menggunakan perahu klotok atau perahu bermesin yang disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Dari atas perahu, wisatawan dapat menyusuri sungai dan kanal yang berkelok-kelok sambil mengamati perubahan lanskap setahap demi setahap di sepanjang perjalanan.
Ketika perahu mulai meninggalkan kawasan yang lebih ramai, suasana perlahan berubah. Pepohonan mangrove tampak semakin rapat di kedua sisi aliran air. Akar-akar yang mencuat dari lumpur menjadi bagian dari lanskap, sementara permukaan air memantulkan warna hijau pepohonan.
Suasana yang relatif sunyi membuat perjalanan terasa seperti memasuki ruang alam yang terpisah dari kesibukan kota. Sesekali terdengar suara burung atau aktivitas dari tepian sungai. Jika beruntung, wisatawan dapat melihat satwa yang bergerak di antara pepohonan.
Perjalanan dengan perahu juga memungkinkan wisatawan melihat delta dari perspektif yang berbeda. Sungai bukan sekadar jalur transportasi, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana kehidupan di kawasan tersebut bergantung pada air.
Di beberapa bagian, aktivitas masyarakat menjadi bagian dari pemandangan. Perahu yang melintas, rumah-rumah di sekitar perairan, hingga kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan sungai memperlihatkan hubungan antara manusia dan lingkungan delta.
Menyapa Bekantan
Salah satu daya tarik utama ekosistem mangrove Delta Mahakam adalah keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Primata endemik Kalimantan ini dikenal dengan hidung panjangnya setelah memasuki usia dewasa.
Bekantan banyak menghabiskan waktunya di sekitar hutan yang berdekatan dengan sungai dan kawasan mangrove. Vegetasi tersebut menyediakan sumber makanan sekaligus tempat berlindung bagi kelompoknya.
Bagi wisatawan, mengamati bekantan dari atas perahu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan melihat satwa di lingkungan buatan seperti kebun binatang. Satwa tidak ditempatkan untuk menunggu pengunjung, sehingga kemunculannya tidak selalu dapat dipastikan.
Justru di sinilah keseruan menjelajahi Delta Mahakam yang luasnya mencapai 1.800 kilometer persegi. Mereka yang sedang beruntung bisa berjumpa dengan primata yang memiliki bulu cokelat kemerahan, sehingga oleh masyarakat sering disebut sebagai âmonyet Belandaâ.
Karena itu, kegiatan pengamatan membutuhkan kesabaran. Perahu dapat berhenti atau bergerak perlahan ketika pemandu mengetahui adanya keberadaan kawanan bekantan di sekitar tepian sungai yang dilewati.
Menjelang sore sering menjadi waktu yang menarik untuk melakukan pengamatan. Ketika cahaya matahari mulai melemah, bekantan dapat terlihat berada di pepohonan dekat sungai. Dari kejauhan, kelompok primata tersebut tampak berpindah dari satu dahan ke dahan lain atau mencari makanan di antara dedaunan.
Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membuat wisata alam di Delta Mahakam berbeda. Wisatawan tidak sekadar melihat satwa, tetapi menyaksikan perilaku alaminya dalam habitat yang menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Namun, pengamatan satwa liar tetap perlu dilakukan dengan etika. Tidak seperti di tempat wisata yang dihuni kera ekor panjang (Macaca fascicularis), wisatawan sebaiknya menjaga jarak, tidak memberi makanan, tidak mengejar satwa, dan menghindari suara keras. Tujuannya agar aktivitas wisata tidak mengubah perilaku alami hewan di habitatnya.
Tidak Hanya Bekantan
Keanekaragaman hayati Delta Mahakam tidak berhenti pada keberadaan bekantan. Ekosistem mangrove dan perairan di sekitarnya menjadi tempat hidup berbagai organisme, mulai dari ikan, kepiting, moluska, hingga berbagai jenis burung.
Burung air menjadi salah satu kelompok satwa yang menarik untuk diamati. Beberapa jenis dapat terlihat mencari makan di tepian sungai atau bertengger di antara pepohonan. Untuk burung pemangsa atau raptor, antara lain elang bondol (Haliastur indus) dan elang sikep-madu Asia (Accipiter trivirgatus / alap-alap jambul).
Kelompok burung air dan burung rawa (waterbirds) meliputi famili Ardeidae (kuntul dan cangak), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), ibis karau (Pseudibis davisoni), itik kelabu atau belibis (Anas gibberifrons / Sunda teal), serta burung wader atau cerek.
Sementara itu, burung penghuni hutan mangrove dan rawa di antaranya adalah burung raja udang/pekaka, sikatan kipas (Rhipidura javanica), burung madu (Nectariniidae / Nectarina sp.), dan pelatuk kudung-merah (Chrysocolaptes lucidus / greater flameback).
Kawasan perairan dangkal di sekitar mangrove juga memiliki fungsi penting bagi berbagai organisme air. Akar mangrove menciptakan lingkungan yang menjadi tempat berlindung bagi biota berukuran kecil dan organisme yang berada pada tahap tertentu dalam siklus hidupnya.
Mangrove dan Bentang Alam Delta
Secara ekologis, keberadaan mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Sistem perakaran tanaman mangrove membantu menangkap sedimen dan menjadi bagian dari perlindungan alami kawasan pesisir terhadap dinamika air.
Daun, ranting, dan material organik yang jatuh ke perairan juga berperan dalam menyediakan sumber bahan makanan bagi ekosistem. Pada saat yang sama, kawasan mangrove menjadi tempat berbagai organisme mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.
Oleh karena itu, perubahan pada tutupan mangrove dapat membawa konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar perubahan pemandangan. Hilangnya vegetasi dapat berpengaruh terhadap habitat satwa dan kondisi lingkungan perairan di sekitarnya.
Bagi wisatawan, memahami fungsi tersebut membuat perjalanan menjadi lebih dari sekadar aktivitas melihat pemandangan. Setiap lorong mangrove yang dilewati perahu pada dasarnya merupakan bagian dari sistem ekologis yang kompleks.
Senja di Tengah Delta
Salah satu pengalaman yang menarik ketika menjelajahi Delta Mahakam adalah menikmati perubahan suasana menjelang matahari terbenam. Cahaya matahari yang semakin rendah menciptakan warna keemasan pada permukaan air. Pepohonan mangrove kemudian membentuk siluet, sementara pantulan langit membuat permukaan sungai tampak berubah warna.
Bagi pencinta fotografi alam, kondisi tersebut menawarkan banyak objek menarik. Siluet bekantan di antara pepohonan, burung yang terbang melintas, perahu yang bergerak perlahan, atau refleksi mangrove di permukaan air dapat menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan. hay
- Ekosistem Mangrove
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Cuaca Buruk, Laga Babak Kedua Prancis Kontra Irak Ditunda
-
Laju kerusakan mangrove di Indonesia
-
Ekonomi Biru Jalan! KKP: Mangrove & Kerang Dara Kunci Nelayan Belitung Sejahtera
-
Polda Metro Jaya Atur Kepulangan Penonton Persija–Persib Bertahap
-
HUT ke-81 RI di Monas Penuh Haru, Ada Doa Khusus untuk Warga NTT
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.