Bensin Campuran Bioetanol E10 Dinilai Berpotensi Kurangi Impor BBM Lewat Energi Terbarukan
Minggu, 19 Jul 2026, 16:12 WIBJAKARTA - Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai rencana pemerintah dalam menerapkan bensin campuran bioetanol 10 persen (E10) berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) dengan pemanfaatan energi terbarukan dari bahan baku dalam negeri.
Ia mengatakan pemanfaatan bioetanol dapat mengurangi konsumsi bensin berbasis fosil hingga 10 persen, namun juga harus dibarengi dengan percepatan adopsi penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) dan pemerintah juga harus mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum.
âJika hanya penerapan bioetanol hanya menggantikan sekitar 5â10 persen konsumsi bensin. Sementara itu pertumbuhan kendaraan berbahan bakar fosil tetap saja tanpa diimbangi percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) maupun transportasi umum, maka 90â95 persen kebutuhan BBM tetap bergantung pada impor,â kata Putra di Jakarta, Minggu (19/7).
Ia mengatakan meskipun belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan impor BBM, kebijakan ini menjadi langkah penting dalam diversifikasi energi nasional. Semakin besar pemanfaatan bioetanol produksi dalam negeri, semakin besar pula peluang Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang.
Putra mengatakan dalam rencana pembangunan pabrik bioetanol, perlu melihat lokasi tempat tersedianya sumber bahan baku agar biaya logistik lebih efisien.
Saat ini tetes tebu dan singkong menjadi pilihan bahan baku bioetanol, maka itu daerah yang telah memiliki basis produksi seperti Jawa Timur dan Lampung layak menjadi prioritas lokasi pembangunan.
âDi sisi lain, pemerintah perlu berhati-hati apabila mempertimbangkan ekspansi ke wilayah seperti Papua, mengingat risiko deforestasi yang dapat ditimbulkan dari pembukaan lahan baru,â sarannya.
Meski demikian, keberhasilan program E10 memerlukan dukungan dari berbagai aspek. Ia menilai pemerintah perlu meningkatkan kapasitas produksi bioetanol nasional secara bertahap dari sekitar 70.000 kiloliter untuk mencapai target 1,5 juta kiloliter agar mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, menjaga agar pengembangannya tidak mengganggu ketahanan pangan, serta mengedepankan pemanfaatan lahan yang sudah ada untuk meminimalkan dampak lingkungan.
Selain kepastian pasokan bahan baku, Putra mengatakan pemerintah perlu memastikan kelayakan investasi, mengantisipasi fluktuasi harga bioetanol, serta menyiapkan skema pembiayaan yang jelas apabila biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan bensin.
âTransparansi dalam proses pengambilan keputusan harus menjadi prioritas. Selain itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi bahwa bensin campuran bioetanol memiliki kandungan energi yang lebih rendah sehingga konsumsi bahan bakarnya dapat sedikit lebih boros,â katanya.
Ia juga menilai edukasi dari pemerintah dan Pertamina kepada masyarakat mengenai karakteristik bensin campuran bioetanol serta penetapan harga yang kompetitif menjadi faktor penting dalam mendorong penerimaan pasar.
- Energi Terbarukan
- Bensin Campuran Bioetanol E10
- Kurangi Impor BBM
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Kota Bogor Ingin Ada Solusi Berkelanjutan Terkait Sampah Lintas Wilayah
-
Pertumbuhan Energi Surya Mendorong Energi Terbarukan Global untuk Lampaui Energi Batubara pada Tahun 2025
-
Dubes Uni Emirat Arab Temui Pimpinan MPR Eddy Soeparno Tindak Lanjuti Perluasan Kerja Sama Bidang Energi Terbarukan
-
BMKG: Hujan Diprakirakan Guyur Wilayah DKI Jakarta pada Minggu Siang
-
Western Australia Jadi Destinasi Ideal untuk Recharge Energi di Bulan Mei
-
PVMBG: Waspada Peningkatan Aktivitas Gunung Slamet
-
Domenico Tedesco Resmi Diumumkan Sebagai Pelatih Baru Bologna
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.