• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Skinification Oral Care Ki...

Skinification Oral Care Kian Populer, Dokter Bagikan Tips Gigi Putih Tanpa Biaya Mahal

Rabu, 15 Jul 2026, 16:25 WIB

JAKARTA – Tren skinification yang selama ini populer di dunia perawatan kulit kini mulai merambah ke industri oral care. Konsumen tidak lagi hanya mencari pasta gigi yang mampu membersihkan, tetapi juga memperhatikan kandungan bahan aktif yang dinilai dapat menjaga kesehatan sekaligus estetika gigi.

Fenomena tersebut muncul di tengah tingginya biaya perawatan gigi di Indonesia. Berdasarkan laporan WHO's Oral Health Country Profile 2022 yang dikutip Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi mencapai 1.160 dollar AS, menjadikannya yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.

Ket. Foto: drg Zahrah (Malaikat Pencabut Gigi) Saat Tampil di Podcast. Tren skinification kini merambah perawatan gigi. ia membagikan tips menjaga gigi putih dan sehat sekaligus menekan biaya perawatan yang tergolong tinggi di Indonesia. — Sumber: Usmile

Data tersebut menunjukkan bahwa kurangnya perawatan preventif sehari-hari dapat berujung pada tindakan kuratif yang membutuhkan biaya jauh lebih besar. Tindakan ini mencakup pembersihan karang gigi (scaling), pengaplikasian fluoride (pelapis gigi untuk mencegah lubang), dan penutupan celah gigi (fissure sealant)

Konsep skinification sendiri berawal dari industri kecantikan, ketika konsumen semakin memahami manfaat berbagai bahan aktif dalam produk perawatan kulit. Kini, pendekatan serupa mulai diterapkan pada kesehatan mulut. Perawatan gigi tidak lagi dipandang sekadar rutinitas menyikat gigi, tetapi sebagai upaya menjaga lapisan pelindung gigi melalui penggunaan bahan aktif yang telah teruji.

Praktisi kesehatan gigi yang dikenal melalui akun TikTok "Malaikat Pencabut Gigi", drg. Zahrah Almira Cita Utami, mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap pasta gigi pemutih tanpa memperbaiki kebiasaan sehari-hari.

"Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain atau noda pada gigi akan tetap menempel dengan kuat," ujarnya melalui siaran pers pada hari Rabu (15/7).

Menurut Zahrah, perubahan gaya hidup tetap menjadi langkah utama dalam menjaga warna gigi. Apabila kebiasaan tersebut sulit dihentikan, ia menyarankan masyarakat setidaknya membilas mulut menggunakan air putih setelah mengonsumsi kopi atau minuman berwarna, serta menggunakan sedotan untuk mengurangi risiko perubahan warna gigi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memilih produk perawatan gigi. Penting untuk memastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang berbusa banyak namun juga mampu mengangkat noda.

"Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang memiliki busa banyak, tetapi tidak mampu mengangkat noda. Saya menyarankan memilih pasta gigi yang sudah memiliki hasil uji laboratorium. Jika setelah melakukan perawatan mandiri masalah belum juga teratasi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter gigi," katanya.

Seiring berkembangnya tren skinification, inovasi dalam formulasi pasta gigi pun mulai bergeser. Jika sebelumnya banyak produk mengandalkan bahan abrasif untuk menghilangkan noda, pendekatan yang lebih baru menggunakan sistem enzimatik yang diklaim lebih lembut terhadap enamel gigi.

20260715161758_Foto-Papain.jpg

Manfaat kandungan papain, dextranase dan lysozyme di pasta gigi repair white. (Usmile)

Beberapa formulasi mengombinasikan enzim seperti Papain, Dextranase, dan Lysozyme. Papain, yang berasal dari buah pepaya, bekerja memecah protein penyusun noda akibat kopi atau teh tanpa mengikis permukaan gigi. Sementara Dextranase membantu menguraikan matriks plak agar lebih mudah dibersihkan, sedangkan Lysozyme berfungsi sebagai antibakteri alami yang membantu menjaga keseimbangan mikrobioma dalam rongga mulut.

Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, Michelle, mengatakan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kandungan bahan aktif menjadi perkembangan positif bagi industri perawatan gigi. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa penggunaan bahan abrasif yang terlalu kasar berpotensi merusak enamel dan justru meningkatkan risiko masalah gigi di kemudian hari.

"Sebagai solusi preventif, usmile varian Repair White mengusung prinsip skinification dengan mengganti bahan abrasif menjadi Enzyme Complex yang mengombinasikan Papain, Dextranase, dan Lysozyme. Ketiga bahan tersebut telah melalui pengujian laboratorium dan dirancang membantu mengangkat noda tanpa merusak lapisan pelindung alami gigi," ujar Michelle.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menjaga kesehatan dan penampilan gigi melalui perawatan harian yang lebih aman, sekaligus menekan potensi pengeluaran untuk perawatan gigi di masa depan.

Meningkatnya tren skinification pada produk oral care menunjukkan bahwa konsumen kini semakin memperhatikan kandungan bahan aktif, bukan sekadar klaim pemutih instan. Dengan mengombinasikan kebiasaan menjaga kebersihan mulut, perubahan gaya hidup, serta pemilihan produk yang tepat, perawatan gigi preventif diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kerusakan gigi sekaligus menekan biaya pengobatan yang relatif tinggi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.