Batam Jadi Lokasi “Pabrik AI” Raksasa Nvidia - Firmus, Siap Tampung 170.000 Chip Akselerator AI

Senin, 13 Jul 2026, 19:32 WIB

SYDNEY – Batam bersiap menjadi salah satu pusat infrastruktur kecerdasan buatan terbesar di kawasan. Firmus Technologies akan membangun proyek pusat data pertamanya di Indonesia melalui kemitraan strategis dengan raksasa chip Amerika Serikat, Nvidia.

Dikutip dari The Straits Times, perusahaan infrastruktur AI asal Australia itu akan bekerja sama dengan DayOne yang berbasis di Singapura untuk mengembangkan kampus Nvidia DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt (MW) di Batam.

Ket. Foto: Firmus dan DayOne yang berbasis di Singapura akan mengembangkan pusat data di Batam sebagai bagian dari kemitraan delapan tahun dengan Nvidia. — Sumber: Istimewa

Proyek tersebut menjadi bagian dari kemitraan delapan tahun dengan Nvidia yang diperkirakan menghasilkan kesepakatan pembelian senilai 25 miliar hingga 30 miliar dolar AS hanya dalam enam tahun pertama.

Fasilitas raksasa tersebut saat ini tengah dibangun oleh DayOne dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027.

Berbeda dengan proyek-proyek Firmus di Australia yang terutama menyasar pelanggan hyperscaler atau perusahaan komputasi awan berskala sangat besar, fasilitas di Batam akan menggunakan model multi-tenant. Artinya, kapasitas komputasinya dapat digunakan oleh sejumlah pelanggan yang berfokus pada pengembangan dan pengoperasian AI.

Salah satu CEO Firmus, Tim Rosenfield, mengatakan perusahaan akan memperoleh akses ke infrastruktur Nvidia untuk melayani pelanggan melalui skema bagi hasil dan dukungan kredit.

Skalanya sangat besar. Kesepakatan tersebut mencakup akses terhadap hingga 170.000 chip akselerator AI Nvidia pada 2027 dan 2028.

Dengan kapasitas listrik 360 MW dan puluhan ribu chip AI berperforma tinggi, proyek ini berpotensi memperkuat posisi Batam sebagai salah satu simpul penting dalam ledakan pembangunan infrastruktur AI di Asia-Pasifik.

Lokasi Batam juga memiliki nilai strategis. Pulau tersebut berada sangat dekat dengan Singapura, salah satu pusat data dan konektivitas digital terbesar di Asia. Keterbatasan lahan dan energi di Singapura selama beberapa tahun terakhir telah mendorong ekspansi investasi pusat data ke wilayah sekitarnya.

Bagi Firmus, proyek Batam menjadi langkah terbaru dalam ekspansi agresif perusahaan yang awalnya justru lahir dari bisnis penambangan Bitcoin di Tasmania, Australia, pada 2019.

Seiring meledaknya kebutuhan komputasi AI, perusahaan tersebut kemudian bertransformasi menjadi pemain infrastruktur kecerdasan buatan dan mengembangkan sejumlah proyek pusat data di Australia serta Singapura.

Pada 2025, Firmus menandatangani perjanjian dengan CDC Data Centres untuk mengembangkan pusat data dengan kapasitas hingga 1,6 gigawatt di Australia pada 2028. Infrastruktur tersebut juga akan ditenagai chip Nvidia.

Salah satu proyeknya, Southgate, bahkan disebut telah menarik pelanggan hyperscaler global, meskipun identitas perusahaan tersebut belum diungkapkan.

Ekspansi besar-besaran itu berlangsung ketika Firmus tengah menjadi sorotan pasar modal. Perusahaan tersebut memiliki valuasi sekitar 5,5 miliar dolar AS dalam putaran investasi pada April yang turut didukung Nvidia, sementara spekulasi mengenai kemungkinan penawaran umum perdana atau IPO pada 2026 terus beredar.

Rosenfield menolak mengomentari rencana IPO. Namun, ia menegaskan bahwa gejolak harga saham perusahaan-perusahaan AI tidak banyak memengaruhi strategi Firmus.

“Kami membangun bisnis berdasarkan permintaan yang kami lihat dari pelanggan dan kontrak yang kami selesaikan. Pendanaan dan modal tetap sangat kuat saat ini,” kata Rosenfield.

Proyek Batam kini menempatkan Indonesia semakin dekat dengan pusat perlombaan infrastruktur AI global. Jika seluruh rencana terealisasi, pulau yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri dan manufaktur di dekat Singapura itu akan menjadi rumah bagi sebuah “pabrik AI” berkapasitas raksasa.

Dengan daya 360 MW dan akses terhadap hingga 170.000 akselerator AI Nvidia, Batam tidak lagi hanya menjadi halaman belakang industri Singapura—tetapi berpotensi berkembang menjadi salah satu mesin komputasi AI terbesar di Asia Tenggara. 

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.