- Home
-
- Luar Negeri
-
- Jutaan Orang Mungkin Menda...
Jutaan Orang Mungkin Mendapatkan Hasil Tes Laboratorium Kolesterol yang Salah
Rabu, 08 Jul 2026, 00:00 WIBEVANSTON - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa apoB, tes darah yang mengukur partikel kolesterol berbahaya, lebih baik daripada tes kolesterol LDL standar untuk menentukan siapa yang membutuhkan perawatan lebih intensif.
Dari Science Daily, para peneliti menemukan bahwa tes ini dapat mencegah lebih banyak serangan jantung dan stroke sekaligus tetap hemat biaya bagi sistem perawatan kesehatan AS.
Jutaan warga Amerika menjalani tes darah setiap tahun untuk mengukur LDL, yang sering disebut kolesterol "jahat". Namun, penelitian baru dari Northwestern Medicine menunjukkan bahwa tes lain mungkin lebih baik dalam mengidentifikasi siapa yang membutuhkan perawatan lebih agresif untuk mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.
Studi yang diterbitkan di JAMA ini menemukan bahwa pengukuran apolipoprotein B (apoB) lebih efektif daripada pelacakan kolesterol LDL atau non-HDL ketika memutuskan apakah akan meningkatkan terapi penurun kolesterol, termasuk statin dan obat-obatan lainnya.
"Kami menemukan bahwa pengujian apoB untuk meningkatkan efektivitas pengobatan penurun kolesterol akan mencegah lebih banyak serangan jantung dan stroke dibandingkan praktik saat ini, dan manfaat kesehatan ini dicapai dengan biaya yang memberikan nilai yang baik bagi para pembayar layanan kesehatan AS," kata penulis utama studi, Ciaran Kohli-Lynch, asisten profesor kedokteran preventif di divisi epidemiologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine.
Kohli-Lynch mengatakan ini adalah analisis komprehensif pertama yang menunjukkan bahwa penggunaan apoB untuk memandu pengobatan kolesterol juga hemat biaya.
Penyakit jantung tetap menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat dan bertanggung jawab atas pengeluaran perawatan kesehatan yang sangat besar. Seiring waktu, partikel kecil pembawa kolesterol dapat terperangkap di dalam dinding arteri, tempat partikel tersebut menumpuk menjadi plak yang membatasi aliran darah dan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Mengapa ApoB Mungkin Merupakan Ukuran Risiko Penyakit Jantung yang Lebih Baik
Para dokter sejak lama mengandalkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol non-HDL untuk menentukan kapan pasien harus memulai atau meningkatkan pengobatan penurun kolesterol. Meskipun tes-tes tersebut memberikan informasi yang berguna, tes-tes tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan risiko kardiovaskular seseorang.
"Penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa apolipoprotein B (apoB) lebih baik dalam mengidentifikasi siapa yang berisiko, karena menghitung jumlah total partikel berbahaya dalam darah," jelas Kohli-Lynch.
Berbeda dengan tes kolesterol standar, apoB mengukur jumlah partikel pembawa kolesterol yang dapat berkontribusi pada penumpukan plak. Para peneliti mengatakan bahwa hal itu menjadikannya indikator risiko kardiovaskular yang lebih langsung.
Meskipun bukti yang mendukung apoB semakin banyak, tes ini masih belum umum digunakan dalam perawatan rutin. Kohli-Lynch mengatakan salah satu alasannya adalah pengukuran apoB umumnya memerlukan tes darah tambahan di luar panel kolesterol standar, sehingga meningkatkan biaya dan ketidaknyamanan.
"Studi kami menanyakan: Apakah layak mengeluarkan uang ekstra untuk menggunakan apoB sebagai pengganti LDL untuk memandu intensifikasi pengobatan?" kata Kohli-Lynch.
Model Komputer Membandingkan Tiga Strategi Pengujian Kolesterol
Untuk menjawab pertanyaan itu, tim peneliti membuat simulasi komputer yang mewakili 250.000 orang dewasa AS yang memenuhi syarat untuk terapi statin tetapi belum memiliki penyakit kardiovaskular.
Model tersebut membandingkan tiga pendekatan untuk memandu pengobatan:
Kolesterol LDL (target <100 mg/dL)
Kolesterol non-HDL (target <118 mg/dL)
ApoB (target <78,7 mg/dL)
Ketika pasien gagal mencapai targetnya, pengobatan ditingkatkan terlebih dahulu dengan menggunakan statin yang lebih kuat, dan kemudian dengan menambahkan ezetimibe jika diperlukan.
Para peneliti mengikuti setiap strategi selama seumur hidup, memperkirakan serangan jantung, stroke, harapan hidup, kualitas hidup, dan biaya perawatan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan apoB untuk memandu pengobatan secara konsisten memberikan hasil yang lebih baik daripada pendekatan LDL dan non-HDL. Hal ini meningkatkan hasil kesehatan secara keseluruhan, mencegah lebih banyak kejadian kardiovaskular, dan melakukannya dengan cara yang menurut para peneliti hemat biaya.
Pedoman Kolesterol Baru Meningkatkan Pentingnya Pengujian yang Akurat
Temuan ini muncul ketika dokter memiliki lebih banyak obat penurun kolesterol yang tersedia daripada sebelumnya. Awal tahun ini, American Heart Association dan 10 organisasi medis lainnya juga merilis pedoman terbaru yang merekomendasikan agar banyak orang memulai terapi penurun kolesterol pada usia yang lebih muda.
"Ini berarti semakin penting untuk secara akurat mengidentifikasi siapa yang paling diuntungkan dari perawatan intensif," kata Kohli-Lynch.
- Kolesterol
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
KKP-FAO Sosialisasikan Aplikasi Pelaporan Penyakit Ikan di Jambi
-
Presiden Prabowo Kunjungi Banyumas dan Cilacap Usai dari RSUD Bekasi
-
Kucing Pilih Makanan Pakai Hidung, Bukan Lidah
-
7 Buah Super Penakluk Kolesterol Jahat, Lezat Nan Sehat, Kamu Pasti Suka!
-
Proyek Pipa Air Limbah Dituding Sebagai Penyebab Kemacetan Parah di Jalan TB Simatupang
Jadi Sorotan Dunia karena Kontroversi, Folarin Balogun Gagal Bersinar saat AS Tersingkir dari Belgia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.