Ekspor Listrik ke Singapura Jangan Sampai Rugikan Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026, 16:25 WIBJAKARTA - Wakil Ketua MPR RI RI Eddy Soeparno mengingatkan pemerintah agar kebijakan ekspor listrik ke Singapura jangan sampai merugikan Indonesia dan harus dipastikan kebutuhan di tanah air terpenuhi terlebih dahulu.
"Jangan sampai ekspor mendahului kebutuhan dalam negeri. Kita harus memastikan kebutuhan listrik nasional terpenuhi terlebih dahulu, baru kemudian menggenjot ekspor," kata Eddy, yang juga anggota Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7).
Eddy menyambut positif peluang ekspor listrik energi terbarukan ke Singapura. Kerja sama tersebut dinilai berpotensi meningkatkan devisa negara sekaligus menunjukkan kemampuan Indonesia sebagai eksportir energi bersih.
"Peluang mendapatkan devisa dari penjualan listrik cukup besar karena harga yang diberikan pembeli dari Singapura relatif lebih tinggi," ucapnya.
Ia mengatakan peluang tersebut dapat mendorong perkembangan proyek energi terbarukan lainnya, termasuk pembangkit listrik panas bumi. Pengembangan dimaksud juga akan menciptakan pekerjaan hijau dan memperkuat industri hijau nasional.
Kendati demikian, Eddy menegaskan ekspor listrik tidak boleh mengorbankan kebutuhan energi masyarakat di dalam negeri.
Legislator yang membidangi sektor energi itu meminta pemerintah memastikan pasokan listrik nasional tetap aman sebelum diekspor ke luar negeri.
Selain itu, dia juga mengingatkan agar proyek energi terbarukan benar-benar memberikan nilai tambah bagi industri nasional melalui peningkatan kemampuan manufaktur dalam negeri sehingga kebutuhan pengembangan pembangkit tidak bergantung pada impor.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk melaksanakan implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura.
Presiden mengatakan pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta, Senin (6/7), menghasilkan 26 nota kesepahaman pada berbagai sektor, terdiri atas 18 kesepakatan antarpemerintah dan delapan kesepakatan antarbisnis.
"Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas. Juga untuk kegiatan-kegiatan di bidang perdagangan selanjutnya," kata Presiden Prabowo dalam pernyataan bersama PM Singapura di Istana Merdeka.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan negosiasi harga listrik hijau yang akan diekspor ke Singapura sedang berlangsung. Negosiasi ini agar memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.
"Proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan," ujarnya, Selasa.
Indonesia, ucap Bahlil, menginginkan kesepakatan yang tidak hanya membuka peluang ekspor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.
"Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ucapnya.
- Singapura
- Ekspor Listrik
- Jangan Sampai Rugikan Indonesia
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Wali Kota Bandung Tegaskan Tak Boleh Ada Pembiaran Titik Sampah Liar
-
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Penyelidikan Penuh
-
3 Tahun Hiatus, Taeyang BIGBANG Kembali dengan Album Baru "QUINTESSENCE"
-
Lewat Inisiatif Ascott CARES, Citadines Antasari Jakarta Ajak Tamu Rayakan Earth Hour Secara Kreatif
-
Konflik AS–Israel–Iran Memanas: Rupiah Jadi Korban, Tembus Level Psikologis Rp17 Ribu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.