KLH Ungkap Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dikendalikan
Minggu, 05 Jul 2026, 09:53 WIBTANGERANG - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, sulit dikendalikan secara cepat mengingat kondisi sampah memiliki karakteristik yang serupa dengan kebakaran lahan gambut.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Faisal Malik Hendropriyono di Tangerang, Sabtu menyampaikan kondisi api yang membakar sampah tidak hanya berada dalam permukaan, namun juga merembet dan menyala di bawah tumpukan sampah yang tebal.
Sehingga, upaya pengendalian kedaruratan kebakaran diperlukan waktu yang cukup dan pola penanganan dengan tepat.
"Dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah. Ini karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya. Jadi kapan saja bisa terus terbakar, dan karena ada CH4, bisa ada potensi ledakan," katanya menjelaskan.
Ia menambahkan, dalam operasi pemadaman kebakaran yang dilakukan petugas gabungan terdapat beberapa tantangan yang menjadi fokus untuk melakukan penyelesaian.
Dimana pihaknya akan menerjunkan thermal drone atau teknologi yang menggunakan kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas untuk menganalisa sumber kebakaran, titik-titik apinya.
"Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala," ucapnya.
Kemudian, untuk langkah berikutnya, dengan mengerahkan dua mobile monitoring sistem, yang bertujuan untuk memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor seperti SO_2 (sulfur dioxide), NO_2 (nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.
"Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," paparnya.
Dia juga menambahkan, dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut ini, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan tekah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat.
Mereka, katanya, sudah memiliki pengalaman cukup baik dengan dilengkapi peralatan high pressurenya yang khusus, melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.
"Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah," ujarnya.
Selain itu, melalui BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman. Sehingga, situasi kedaruratan kebencanaan kebakaran yang mencapai kurang lebih 15 hektare bisa segera terkendali.
"Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG," kata dia.
- Kebakaran TPA Jatiwaringin
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Perkuat Kedaulatan, Turki Bersiap Sahkan Batas Maritim Laut Hitam
-
Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Perkuat Nilai Kebersamaan dan Kepedulian Sosial pada Kenaikan Yesus Kristus
-
Bantu Siswa Prasejahtera, Pemko Medan Lunasi Tunggakan SPP Lewat Tebus Ijazah
-
Satu Helikopter Didatangkan dari JambI untuk Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin
-
Mengembangkan Penelitian Tumbuhan Obat Khas Kalimantan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.