Kartini Kisam: Dari Seorang Pemalu Jadi Maestro Tari Betawi, Ini yang Bikin Pede!

Sabtu, 04 Jul 2026, 17:45 WIB

JAKARTA - Maestro tari Betawi Kartini Kisam mengakui dulunya ia merupakan seorang yang pemalu, namun perlahan, menari membantunya menjadi percaya diri.

"Dari menari ini, saya jadi percaya diri, karena dulunya saya pemalu. Karena belajar nari, saya jadi 'pede dengan adanya penonton," kata Kartini dalam siniar yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Ket. Foto: Penari mengenakan topeng atau kedok berwarna putih saat mementaskan tari topeng dalam acara seni budaya di Setu Babakan, Jakarta Selatan. — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa.

Berbekal rasa percaya diri dari menari, pelestari Tari Topeng Tunggal itu kemudian membimbing anak-anak untuk membawakan tari tradisi tersebut, dan hal itu membuatnya bangga.

Tak hanya itu, menari juga membawa Kartini ke luar Jakarta, bahkan ke luar Indonesia dengan misi budaya. Di berbagai daerah, dia memperkenalkan tari Betawi secara luas.

"Mengenalkan tari Betawi ke daerah-daerah, antara lain Jawa, Bali, Sunda, dan Sumatera, serta Kalimantan. Kemudian juga saya pernah diajak ke luar negeri oleh dinas kebudayaan dan dewan kesenian, itu melalui menari," ujar Kartini.

Kartini belajar menari sejak usia 13 tahun dari neneknya, Mak Kinang, dan kini sudah 50 tahun berkecimpung dalam bidang seni tersebut.

"Saya sebagai generasi ketiga itu belajar dari nenek saya. Saya itu belajarnya sebagai tari tradisi, jadi bukan dari akademi, jadi turun-temurun," ungkap Kartini.

Sampai dengan saat ini, penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan itu masih aktif menari dan mengajar tari pada generasi muda di sekolah-sekolah, sanggar, serta perguruan tinggi.

"Saya selalu memberikan pelajaran-pelajaran dan mengenalkan dari mulai seni tari, budayanya, sejarahnya, sampai juga mengenalkan kebiasaan-kebiasaan sejarah di Jakarta, supaya orang mengenal tentang budaya Betawi dan budaya yang ada di Indonesia," tutur Kartini.

Dia pun mengaku bersyukur karena saat ini semakin marak perlombaan tari tradisi sehingga meningkatkan minat masyarakat untuk mempelajari tari Betawi.

"Entah itu dari sekolah, entah itu dari sanggar-sanggar, juga perguruan tinggi, sudah mulai mau mempelajari tentang tari dan budaya Jakarta, dan Betawi itu sendiri," imbuh Kartini.

Bagi dia, dengan berbagai tantangan, salah satunya tarian modern yang populer di kalangan anak muda, memperkenalkan tari tradisional harus terus dilakukan agar generasi muda lebih mencintai budayanya.

"Tanpa kita mengenalkannya, sejarah dan budaya itu sendiri akan hilang. Tari tradisional merupakan seni budaya yang perlu disayangi, harus dirawat, dilestarikan, dan diteruskan, supaya seni budaya tetap jaya sepanjang masa," pungkas Kartini. Ant

  • Seni Tari

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.