Antisipasi El Nino, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Minta Petani Hemat Air
Kamis, 02 Jul 2026, 12:04 WIBMATARAM â Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau para petani setempat untuk mengatur penggunaan air bagi pertanian dengan hemat dan efisien guna mengantisipasi fenomena El Nino.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengakui bahwa fenomena El Nino bukan hal baru bagi petani lantaran setiap tahun juga terjadi. Namun, meski demikian upaya antisipasi dampak dari fenomena tersebut tetap dilakukan.
"Sebenarnya untuk mengantisipasi El Nino ini sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi, ada antisipasi yang sudah dilakukan sebelum kemarau tiba sudah disosialisasikan ke petani," ujarnya di Mataram, Kamis (02/7).
Ia menyebutkan salah satu cara yang dilakukan yakni menggalakkan percepatan masa tanam sebelum masuk musim kemarau. Selanjutnya, pihak jauh-jauh hari menanam menggunakan varietas tertentu, seperti padi genjah yang memiliki masa tanam singkat, biasanya dapat dipanen dalam waktu kurang dari 105 hari.
"Itu yang kita dorong petani untuk mencegah gagal tanam," kata Mirza.
Kemudian, kata dia, yang tidak kalah penting petani diminta untuk tidak memaksakan diri menanam tanaman yang tidak tahan air. Bahkan, terkait pengelolaan air, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi lintas instansi (PUPR, Balai Wilayah Sungai (BWS), pertanian, kabupaten/provinsi.
"Di situ BWS sudah memaparkan ketersediaan debit air sungai kita menurun. Di sini lah kearifan lokal kita untuk tidak memaksakan menanam yang lain. Tapi kalau dekat air silahkan saja," ujarnya.
Menurut dia, komoditas pertanian masih banyak pilihan dan cukup tersedia tanpa perlu harus bergantung pada air. Contoh, tembakau, kedelai dan jagung.
"Ini lah salah satu upaya kita agar perekonomian petani kita tetap berjalan," katanya.
Mirza menegaskan meski fenomena El Nino diperkirakan masih panjang, ia optimis tidak akan berpengaruh pada produktivitas komoditas pertanian di wilayah NTB, khususnya padi yang ditargetkan mencapai 1,7 juta ton gabah kering giling (GKG) sehingga dapat mendukung target swasembada pangan nasional.
"Bisa dilihat data BPS, angka produksi padi kita seperti apa. Tapi tetap kita berupaya dan selalu optimis," katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi NTB pada tahun 2025 mencapai 1,71 juta ton GKG atau meningkat 17,56 persen ketimbang tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 1,45 juta ton.
Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB Muhammad Ahyar mengatakan produksi padi yang meningkat sebanyak 255,21 ribu ton tersebut akibat penambahan luas panen dan berbagai intervensi pemerintah pada sektor pertanian.
"Luas panen padi pada 2025 mencapai 322,90 ribu hektare. Jumlah itu mengalami kenaikan sebesar 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yang sebesar 281,72 ribu hektare," ujarnya.
BPS mencatat kenaikan produksi tidak hanya terjadi pada gabah melainkan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk juga mengalami lonjakan signifikan. Sepanjang 2025, produksi beras di NTB mencapai 973,14 ribu ton atau meningkat 17,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 827,79 ribu ton.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Peringati May Day, Khofifah - Emil Luncurkan Kebijakan Pro-Buruh
-
Prabowo, Gibran, hingga Puan Maharani Hadiri Pernikahan El Rumi
-
Jangan Tunggu Krisis! Daerah Rawan Pangan Harus Jadi Prioritas
-
POTEK Dance Fest 2026, Ajang Kompetisi Dance Paling Bergengsi di Indonesia!
-
Pelajar Putri dari Tangsel Diterima di 7 Perguruan Tinggi Terkemuka Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.