PBB: Infrastruktur Transportasi Harus Beradaptasi dengan Iklim

Rabu, 01 Jul 2026, 02:10 WIB

JENEWA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (30/6) menyatakan bahwa infrastruktur transportasi di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tengah, harus beradaptasi dengan kondisi iklim yang lebih buruk. Pernyataan PBB ini disampaikan dengan memperingatkan bahwa kelambatan tindakan dapat terbukti lebih mahal daripada pembangunan infrastruktur.

Badan regional UNECE yang beranggotakan 56 di Eropa, Amerika Utara, Kaukasus, dan Asia Tengah itu menyatakan bahwa jalan raya, jalur kereta api, jalur air, pelabuhan, dan bandara akan menghadapi kemungkinan yang lebih besar terhadap banjir, suhu tinggi, berkurangnya salju, es, dan lapisan es abadi, serta kenaikan permukaan laut mulai tahun 2050 hingga 2080.

Ket. Foto: Tatiana Molcean — Sumber: Istimewa

Laporan tersebut pun menyatakan bahwa jaringan transportasi darat utama yang membutuhkan perhatian khusus.

"Sistem transportasi sangat penting untuk kelancaran fungsi masyarakat dan perekonomian kita," kata kepala UNECE, Tatiana Molcean. "Gangguan dapat berdampak dramatis pada masyarakat dan menimbulkan biaya finansial yang sangat besar karena peristiwa cuaca ekstrem bukan lagi risiko di masa depan tetapi kenyataan saat ini hingga adaptasi infrastruktur transportasi adalah suatu keharusan," imbuh dia.

Laporan tersebut menyatakan bahwa perubahan kondisi akan mengakibatkan peningkatan kerusakan dan gangguan pada sistem transportasi jika sistem tersebut tidak dibuat lebih tangguh.

UNECE pun mengatakan sistem transportasi di wilayah negara anggotanya perlu mengatasi tambahan 10 hingga 50 hari per tahun dengan suhu melebihi 25 derajat Celsius, dan beberapa daerah menghadapi 200 hari di atas ambang batas tersebut per tahunnya.

Sedangkan banjir akibat curah hujan lebat, ditambah kenaikan permukaan laut akibat kondisi ekstrem di daerah pesisir juga diidentifikasi sebagai risiko di masa depan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa antara 71 persen dan 89 persen pelabuhan di seluruh dunia akan berisiko terkena badai laut ekstrem pada akhir abad ini.

"Meskipun langkah-langkah adaptasi mungkin tampak mahal, konsekuensi dari ketidakaktifan bisa jadi jauh lebih mahal. Adaptasi dini dapat mengurangi biaya terkait hingga setengahnya," pungkas UNECE. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.