- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korsel-Ukraina Bahas Tawan...
Korsel-Ukraina Bahas Tawanan Perang Korut
Rabu, 01 Jul 2026, 02:30 WIBSEOUL - Korea Selatan (Korsel) dan Ukraina pada Selasa (30/6) dilaporkan telah mengadakan pembicaraan konstruktif tentang nasib dua tentara Korea Utara (Korut) yang ditangkap saat bertempur di Russia, kata Seoul.
Menteri Luar Negeri Korsel, Cho Hyun, dan Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, membahas masalah tersebut selama pembicaraan di Seoul.
Para tentara tersebut ditangkap oleh pasukan Ukraina pada Januari tahun lalu saat bertempur untuk Russia di wilayah Kursk.
Korut dan Russia telah menuntut pemulangan kedua orang tersebut, tetapi kelompok hak asasi manusia dan para ahli telah memperingatkan bahwa mereka dapat menghadapi hukuman berat jika dikembalikan ke Pyongyang.
Para tentara tersebut sebelumnya telah meminta untuk dikirim ke Korsel, yang pada dasarnya sama dengan pembelotan. Seoul berupaya memindahkan mereka dengan alasan bahwa mereka adalah warga negara dari satu Republik Korea yang diamanatkan dalam konstitusinya.
Korut dan Korsel secara teknis masih dalam keadaan perang setelah konflik mereka tahun 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian. Kedua negara dipisahkan oleh zona demiliterisasi, tetapi Korsel menganggap seluruh semenanjung Korea sebagai satu negara.
âKedua menlu terlibat dalam diskusi konstruktif mengenai masa depan para tentara pada hari Selasa,â kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korsel kepada wartawan. âMereka sepakat untuk berpedoman pada hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Pemerintah akan terus melakukan upaya diplomatik untuk memajukan dan menyelesaikan masalah tawanan perang Korut," imbuh juru bicara itu.
Kyiv telah meyakinkan Seoul bahwa kedua tentara tersebut tidak akan dipulangkan ke Korut melawan kehendak mereka, ucap Menlu Cho pada Maret lalu.
Dalam postingan di media sosial X, Menlu Sybiga mengatakan bahwa dia dan Menlu Cho membahas masalah tersebut secara detail.
Menlu Sybiga pun mengatakan bahwa ia dan Menlu Cho juga membahas tantangan bersama yang muncul dari semakin dalamnya kerja sama antara Moskwa dan Pyongyang.
Sebelumnya dilaporkan bahwa otoritas Korut menginstruksikan pasukannya untuk melakukan bunuh diri daripada membiarkan diri mereka ditangkap saat berperang untuk Russia.
Para analis mengatakan Korut telah menerima bantuan keuangan, teknologi militer, makanan, dan energi dari Russia sebagai imbalan atas misil, amunisi, dan ribuan pasukan untuk perang Moskwa di Ukraina.
Kedua negara telah menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada tahun 2024, yang mewajibkan masing-masing negara untuk memberikan bantuan militer tanpa penundaan jika salah satu negara diserang.
Lebih dari 7.000 tentara Korut tewas atau terluka saat bertempur bersama pasukan Russia di wilayah Kursk selama perang 2024-2025, demikian menurut kutipan dari badan intelijen militer Ukraina yang dimuat oleh Kyiv Independent pekan ini. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Persib Bandung Larang Aremania Datang ke Stadion GBLA
-
Tiongkok Berlakukan Pembatasan Zona Udara Pesisir Selama 40 Hari
-
Jerman, Prancis, Belgia, Irlandia, dan Belanda Kirim Pesawat untuk Pulangkan Warganya yang Terjebak di Kapal Pesiar Hantavirus
-
Implementasi ESG: PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk Perkuat Praktik Bisnis Berkelanjutan Sepanjang 2025
-
Tragedi Bantargebang: Wagub Rano Karno Pastikan Pemprov DKI Tak Halangi Proses Hukum
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.